BATAM (gokepri.com) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Kepulauan Riau, menyiapkan peralihan armada Trans Batam dari bus berbahan bakar minyak (BBM) ke bus listrik pada 2027, dengan tahap awal menyasar layanan pengumpan atau feeder.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam Leo Putra mengatakan rencana tersebut masih dalam tahap perencanaan, termasuk pembahasan perubahan skema pengadaan armada yang semula dirancang menggunakan BBM menjadi kendaraan listrik.
“Kalau kita di perencanaan awal, 2027 masih BBM. Makanya, kami akan mencoba mengalihkan ke listrik, minimal untuk feeder,” kata Leo di Batam, Rabu.
Ia mengatakan, peluang penggunaan bus listrik juga terbuka untuk layanan Buy The Service (BTS). Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan perbedaan biaya investasi kendaraan listrik yang lebih tinggi dibandingkan armada konvensional.
Dishub Batam memperkirakan pengadaan armada pada 2027 dapat mulai beroperasi sekitar Mei.
“Jika perubahan skema pengadaan disetujui, persiapan akan dimulai pada Januari, termasuk penyediaan infrastruktur pengisian daya atau charger pada periode Desember hingga April,” kata dia.
Kepala UPTD Pelayanan Jasa Transportasi Dishub Batam Bambang Cipto menjelaskan, lokasi pengisian daya akan diprioritaskan di pool kendaraan milik perusahaan operator.
Salah satu lokasi yang berpotensi digunakan adalah kawasan Tanjunguncang karena memiliki lahan yang luas. Dishub juga membuka peluang kerja sama dengan PT PLN dan investor swasta untuk menyediakan infrastruktur pengisian daya.
Dengan skema tersebut, pemerintah diharapkan tidak perlu menanggung seluruh biaya investasi fasilitas pendukung.
“Jadi, kita cukup menyediakan armadanya dan biaya operasionalnya,” ujarnya.
Dari sisi pengadaan, harga bus listrik masih menjadi salah satu tantangan.
Berdasarkan perhitungan awal Dishub Batam, harga bus medium konvensional yang sebelumnya sekitar Rp1,3 miliar per unit dapat meningkat menjadi hampir Rp3 miliar jika menggunakan tenaga listrik.
“Sementara itu, untuk kendaraan berukuran lebih kecil, harga bus listrik diperkirakan mencapai Rp700 jutaan, dibandingkan sekitar Rp400 juta untuk kendaraan konvensional yang menjadi pembanding,” kata dia.
Dengan demikian, investasi awal pengadaan bus listrik diperkirakan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan kendaraan berbahan bakar BBM, bergantung pada jenis armada yang dibeli.
Meski demikian, Dishub Batam belum membahas rencana kenaikan tarif penumpang seiring dengan rencana peralihan tersebut. Tarif layanan utama Trans Batam masih mengacu pada ketentuan yang berlaku, yakni Rp5.000 untuk penumpang umum dan Rp2.500 bagi pelajar.
Adapun tarif layanan feeder masih dimatangkan. Dalam rancangan awal, tarifnya diperkirakan Rp2.000 untuk penumpang umum dan Rp1.000 bagi pelajar.
Layanan feeder dirancang untuk mengangkut penumpang dari kawasan permukiman menuju halte utama Trans Batam, sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan bus pada jalur utama.
Dengan skema tersebut, penumpang umum yang menggunakan kedua layanan diperkirakan membayar total Rp7.000, sedangkan pelajar Rp3.500 apabila tarif masing-masing layanan diterapkan sesuai rancangan awal.
Dishub Batam menegaskan skema tarif tersebut masih berupa perencanaan dan belum menjadi keputusan final.
Penulis: Engesti







