BATAM (gokepri.com) – Kawasan industri di Batam, Kepulauan Riau, menghadapi tekanan dari berbagai sisi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Biaya logistik dan energi meningkat, sementara kebutuhan tenaga kerja terampil belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
Wakil Ketua Umum Kawasan Industri Piter Vincent mengatakan, Batam masih memiliki daya tarik bagi investor, termasuk perusahaan asal China yang melakukan relokasi produksi. Namun, Batam harus bersaing dengan Vietnam, Malaysia, dan Thailand yang menawarkan insentif serta akses perdagangan lebih luas.
“Relokasi pabrik dari China ke kawasan industri Batam masih terjadi. Tantangannya memang cukup berat karena Vietnam, Malaysia dan Thailand menawarkan insentif pajak serta jaringan FTA yang lebih luas,” kata Piter, belum lama ini.
Menurut dia, status Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan kedekatannya dengan Singapura tetap menjadi keunggulan. Posisi tersebut membuat Batam masih dipertimbangkan sebagai lokasi investasi dan ekspansi sejumlah perusahaan. Hal itu, kata Piter, terlihat dari ekspansi sejumlah kawasan industri seperti Batamindo, Panbil, dan Tunas.
Namun, keunggulan lokasi belum cukup untuk menjaga daya saing industri. Gangguan jalur pelayaran global turut meningkatkan biaya pengiriman dan harga bahan baku yang kemudian menekan margin perusahaan.
“Logistik dunia terganggu dan berdampak pada kenaikan harga freight serta bahan baku yang cukup signifikan. Ini membuat margin industri di kawasan industri semakin menipis,” ujarnya.
Tekanan juga datang dari biaya energi, terutama gas dan batu bara. Piter berharap pemerintah dapat meninjau kembali harga gas yang dikenakan kepada PLN Batam sehingga tarif listrik di Batam lebih kompetitif dibandingkan daerah lain maupun negara pesaing.
Menurut dia, biaya energi menjadi salah satu pertimbangan penting bagi industri, terutama perusahaan yang berorientasi ekspor.
Selain biaya logistik dan energi, kawasan industri juga menghadapi persoalan ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Piter menyebut, masih terdapat kesenjangan keterampilan pada sejumlah sektor, antara lain elektronik, perangkat medis, galangan kapal, serta industri penunjang minyak dan gas.
“Masih ada gap skill workers di industri elektronik, medical device, galangan kapal dan penunjang migas. Balai latihan belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan industri saat ini,” katanya.
Karena itu, kawasan industri mendorong penguatan hubungan dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan vokasi. Pendidikan, menurut Piter, perlu lebih terhubung dengan kebutuhan industri sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan pekerjaan yang tersedia.
“Kita harus bekerja sama dengan kampus. Bukan hanya soal ilmu, tetapi bagaimana ilmu di kampus bisa terkoneksi dengan kebutuhan vokasi dan industri,” ujarnya.
- Pertumbuhan Harus Tinggalkan Manfaat di Batam
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam Rafki Rasyid mengatakan, tantangan daya saing industri tersebut perlu dilihat bersamaan dengan kualitas pertumbuhan ekonomi Batam. Menurut dia, ukuran keberhasilan Batam tidak cukup hanya dari besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Ukuran keberhasilan Batam bukan hanya berapa besar investasi masuk, tetapi berapa besar manfaat ekonomi yang tertinggal di Batam,” kata Rafki.
Perekonomian Batam pada 2025 tumbuh 6,76 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp253,64 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang manufaktur, konstruksi, investasi, dan ekspor. Investasi juga menjadi salah satu mesin utama ekonomi Batam. Kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencapai 46,27 persen.
Namun, Rafki menilai capaian tersebut perlu diikuti peningkatan kualitas ekonomi lokal melalui produktivitas, kualitas pekerjaan, penguatan pemasok lokal, diversifikasi ekonomi, dan pemerataan manfaat pertumbuhan.
“Batam tumbuh kuat. Kini saatnya menaikkan kualitas,” ujarnya.
Salah satu yang perlu diperkuat adalah keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok industri. Investasi, kata Rafki, idealnya tidak hanya menghasilkan aktivitas produksi perusahaan besar, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan lokal memasok kebutuhan industri.
Kebutuhan seperti komponen mesin, baut, pekerjaan pemesinan dan berbagai produk penunjang industri dinilai dapat menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal.
Dengan semakin kuatnya keterhubungan perusahaan besar dan pemasok lokal, aktivitas investasi diharapkan menciptakan efek berganda yang lebih besar bagi perekonomian Batam.
- Manufaktur di Tengah Ancaman Otomatisasi
Rafki juga mengingatkan, industri manufaktur Batam menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi dan kebijakan perdagangan global. “Manufaktur kita di Batam tidak sedang baik-baik saja,” katanya.
Menurut dia, sejumlah perusahaan mulai mengubah pola produksi dari padat karya menjadi padat modal dengan memanfaatkan robot dan otomatisasi.
Pekerjaan yang bersifat berulang di lini produksi mulai dapat dialihkan kepada mesin. Bagi perusahaan, otomatisasi dapat meningkatkan presisi sekaligus menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi kebutuhan tenaga kerja industri.
Rafki mengatakan, investasi data center yang berkembang di Batam juga perlu dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja. Nilai investasi sektor tersebut besar, tetapi kebutuhan tenaga kerjanya relatif lebih sedikit dibandingkan industri manufaktur.
Karena itu, menurut dia, Batam tetap perlu menjaga keseimbangan antara investasi padat modal dan industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.
“Jangan terlalu banyak padat modal. Tenaga kerja kita tidak terserap,” ujarnya.
Di sisi lain, Rafki mengatakan belum melihat gelombang PHK besar-besaran akibat kondisi tersebut. Namun, perubahan teknologi dan investasi perlu diantisipasi karena dampaknya terhadap kebutuhan tenaga kerja dapat muncul secara bertahap.
- Biaya Logistik dan Listrik Jadi Perhatian
Rafki menambahkan persoalan biaya juga menjadi perhatian dunia usaha. Selain logistik, pengusaha menghadapi biaya listrik, gas industri, lahan, dan pengiriman barang.
Pengiriman barang dari Batam ke sejumlah negara, menurut dia, masih menghadapi tantangan karena sebagian rute harus transit melalui Singapura. Kondisi tersebut menambah biaya logistik.
Ia juga menyoroti biaya pengiriman mesin dari Batam ke Jakarta untuk keperluan perbaikan yang menurutnya masih dibebani pajak.
“Ketika kita punya mesin di sini mau diperbaiki, dikirim ke Jakarta misalkan, itu tetap kena PPN 11 persen,” ujarnya.
Persoalan tarif kontainer di Pelabuhan Batu Ampar juga menjadi perhatian Apindo. Rafki mengatakan tarif yang sebelumnya sekitar Rp1,2 juta per kontainer sempat meningkat menjadi sekitar Rp4 juta.
“Naiknya lumayan signifikan dari Rp1.200 per kontainer menjadi Rp4 juta,” katanya.
Apindo, kata dia, telah meminta BP Batam menunda penerapan tarif tersebut agar terdapat ruang untuk melakukan evaluasi.
- Ancaman Perang Tarif
Tekanan terhadap industri Batam juga datang dari perubahan kebijakan perdagangan global. Rafki mencontohkan, industri panel surya yang menghadapi tarif tinggi di pasar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan perusahaan mempertahankan pasar ekspor.
Perubahan hubungan dagang Amerika Serikat dan China juga dinilai dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam menentukan lokasi produksi.
Sebelumnya, sebagian perusahaan memilih merelokasi produksi dari China ke negara lain, termasuk Batam, untuk menghadapi kebijakan tarif perdagangan.
Namun, jika kebijakan perdagangan berubah, perusahaan dapat kembali menghitung biaya dan keuntungan dari lokasi produksinya.
Situasi tersebut membuat daya saing Batam tidak hanya ditentukan oleh perizinan dan ketersediaan lahan, tetapi juga struktur biaya produksi, akses logistik, energi, tenaga kerja, serta akses pasar.
- Investasi Besar Belum Tentu Serap Banyak Tenaga Kerja
Rafki menilai, pertumbuhan investasi di Batam perlu diarahkan agar memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah.
Proyek strategis nasional dan investasi skala besar berpotensi membuka lapangan kerja, tetapi membutuhkan waktu dalam proses pembangunan, mulai dari pembebasan lahan hingga pembangunan kawasan dan penyelesaian perizinan.
Sementara itu, persoalan tenaga kerja dan pengangguran membutuhkan penanganan yang berjalan bersamaan. Karena itu, Rafki mendorong pemerintah tidak hanya mengejar investasi baru, tetapi juga menjaga perusahaan yang sudah beroperasi agar tetap bertahan dan melakukan ekspansi.
Menurut dia, perusahaan yang sudah berada di Batam telah mengenal ekosistem industri dan lebih mudah didorong untuk meningkatkan investasi.
“Yang paling mudah itu adalah mendorong pengusaha yang sudah ada dibanding mengundang investor baru masuk,” katanya.
Ia juga meminta perusahaan menjadikan PHK sebagai pilihan terakhir di tengah tekanan industri.
“Jalan terakhir kalau bisa, PHK itu adalah jalan terakhir,” ujarnya.
Pada saat yang sama, pekerja perlu meningkatkan keterampilan melalui pelatihan dan sertifikasi agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.
“Investasi ke diri sendiri, bisa dengan mengikuti pelatihan, bisa dengan mengikuti sertifikasi,” kata Rafki.
Penulis: Engesti








