Daya Beli Tertinggal di Tengah Pertumbuhan Ekonomi

inflasi Batam 2026
Pedagang ikan di "Pasar Kaget" kawasan Sekupang, Juli 2026. GOKEPRI/Candra Gunawan

CORE dan LPEM memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas lima persen. Konsumsi rumah tangga belum menguat.

JAKARTA (gokepri) – Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di atas lima persen, tetapi daya beli belum menunjukkan penguatan sepadan. Investasi dan belanja pemerintah menopang aktivitas ekonomi ketika keyakinan konsumen justru melemah.

Dua lembaga ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2026 tetap berada di atas lima persen. Namun, proyeksi keduanya menunjukkan laju ekonomi mulai melambat.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan ekonomi tumbuh 5,05–5,1 persen secara tahunan. Angka itu sedikit di bawah konsensus pasar sekitar 5,2 persen. “Saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 berada di kisaran 5,05–5,1 persen,” kata Yusuf di Jakarta, Rabu (4/11/2026), dikutip dari ANTARA.

Baca Juga: Seberapa Kuat Ekonomi Indonesia Menahan Tekanan Global?

Jika proyeksi itu terealisasi, ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut. Pertumbuhan ekonomi sebelumnya mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026. Angkanya kemudian turun menjadi 5,29 persen pada triwulan II-2026.

Yusuf melihat investasi dan aktivitas industri masih menjadi penopang utama pertumbuhan. Kredit investasi yang tinggi menunjukkan dunia usaha masih memperluas kapasitas produksi.

Aktivitas manufaktur juga relatif terjaga. Ekspor produk manufaktur masih mencatat pertumbuhan. “Ekonomi masih bergerak karena ada dorongan dari sisi produksi dan investasi,” ujar Yusuf.

Namun, pertumbuhan tersebut belum mencerminkan penguatan seluruh komponen ekonomi. Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB), belum menunjukkan peningkatan berarti.

Yusuf juga memperkirakan belanja pemerintah melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, impor tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor.

Ads bp batam 2026 baru

Kondisi tersebut membuat sebagian permintaan dalam negeri mengalir ke produk impor. Akibatnya, peningkatan permintaan tidak sepenuhnya mendorong produksi domestik.

Tekanan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah turut membebani daya beli riil masyarakat. Yusuf menilai momentum pertumbuhan ekonomi mulai melemah meski angkanya masih di atas lima persen.

“Pertumbuhan masih ada, tetapi semakin bergantung pada investasi dan proyek-proyek besar,” katanya.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memiliki proyeksi sedikit lebih tinggi.

LPEM memperkirakan pertumbuhan ekonomi resmi pada triwulan III-2026 mencapai 5,28 persen secara tahunan. Rentang estimasinya berada pada 5,25–5,30 persen.

“Kami mengestimasi tingkat pertumbuhan PDB resmi untuk triwulan III 2026 sebesar 5,28 persen,” kata Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam laporan Indonesia Economic Outlook 2027, Rabu (4/11/2026).

Namun, LPEM juga menghitung ukuran lain, yakni pertumbuhan yang dirasakan masyarakat. Untuk triwulan III-2026, lembaga itu memperkirakan angkanya hanya 4,74 persen.

Rentang estimasi pertumbuhan yang dirasakan masyarakat berada pada 4,72–4,76 persen. Angka tersebut lebih rendah daripada proyeksi pertumbuhan PDB resmi.

LPEM menggunakan analogi aplikasi cuaca untuk menjelaskan dua ukuran tersebut. Aplikasi cuaca membedakan suhu aktual dengan suhu yang dirasakan tubuh.

“Kami memperkenalkan dua jenis proyeksi, satu untuk angka resmi dan satu lagi untuk pertumbuhan yang dirasakan masyarakat,” ujar Riefky.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB dan pengalaman ekonomi rumah tangga tidak selalu bergerak searah. Angka PDB menggambarkan aktivitas ekonomi secara agregat. Sementara itu, ukuran yang dirasakan masyarakat memperhatikan indikator yang berkaitan dengan kondisi rumah tangga.

Keyakinan konsumen dan kredit konsumsi melemah

LPEM mempertimbangkan sejumlah indikator makroekonomi dalam menyusun proyeksi tersebut. Salah satunya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Rata-rata IKK pada triwulan III-2026 tercatat 117,8. Angka itu turun dari 120,6 pada triwulan sebelumnya.

Penurunan kepercayaan terutama terlihat pada rumah tangga berpengeluaran rendah. Kelompok dengan pengeluaran Rp1 juta–Rp2 juta per bulan mencatat penurunan indeks sebesar 4,7 poin.

Rata-rata IKK kelompok tersebut turun menjadi 107,4. Data ini menunjukkan keyakinan konsumen berpenghasilan rendah melemah lebih dalam.

Pertumbuhan kredit konsumsi juga melambat. Pada triwulan III-2026, kredit konsumsi tumbuh 5,22 persen. Pada triwulan sebelumnya, pertumbuhannya mencapai 5,92 persen.

Perlambatan itu mengindikasikan permintaan kredit rumah tangga relatif tertahan. Kondisi tersebut sejalan dengan belum kuatnya konsumsi rumah tangga dalam perekonomian.

Di sisi lain, belanja pemerintah dan investasi masih memberikan dorongan. Belanja negara pada triwulan III-2026 tumbuh 21,18 persen secara tahunan menjadi Rp1.004,5 triliun.

Realisasi investasi pada periode yang sama mencapai Rp528,7 triliun. Kedua komponen tersebut menjadi penopang aktivitas ekonomi ketika indikator konsumsi menunjukkan pelemahan.

Untuk keseluruhan 2026, LPEM FEB UI memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen. Pertumbuhan itu diproyeksikan melambat menjadi 5,25 persen pada 2027.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan yang dirasakan masyarakat berada di bawah angka resmi. LPEM memperkirakan ukurannya mencapai 4,77 persen pada 2026 dan 4,90 persen pada 2027. ANTARA

Baca Juga: Tertinggi dalam Tiga Tahun, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lampaui Ekspektasi Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait