Dari Masjid Agung Karimun: Kisah Kibas Putih Diturunkan Allah dari Langit Ketujuh

Ustadz Abdul Wahab Sinambela saat menjadi khatib shalat Idul Adha di Masjid Agung Karimun. (Ilfitra/gokepri.com)

Karimun (gokepri.com) – Hakikat berkurban sebenarnya bukan dimulai dari Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Jika dirunut ke belakang, syariat berkurban sudah dimulai sejak anaknya Nabi Adam AS, Habil dan Qabil.

Habil memiliki peternakan kambing atau kibas, sementara Qabil mempunyai pertanian yang luas.

HBRL

Allah SWT kemudian memerintahkan keduanya untuk berkurban.

Habil memilih binatang ternaknya yang paling sehat, gemuk dan memiliki bulu yang putih. Sementara, Qabil memilih hasil pertaniannya dengan kualitas rendah.

Allah kemudian menerima kurban Habil dan mengangkat kibas warna putih tersebut ke langit ke tujuh.

Waktu terus bergulir, hingga sampailah keturunan Nabi Adam AS kepada Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim memiliki ratusan ribu ekor unta, lembu dan domba.

Bahkan, riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Kalau zaman itu bisa disebut sebagai miliuner.

Ternak milik Nabi Ibrahim dijaga dan dipelihara oleh penjaga ternak.

Dikisahkan, Malaikat meminta izin kepada Allah SWT untuk menguji keimanan Nabi Ibrahim.

Malaikat kemudian turun ke bumi dengan menyerupai seorang lelaki tua.

Lelaki tua itu kemudian mendatangi penjaga ternak Nabi Ibrahimi seraya bertanya siapa pemilik ternak sebanyak itu.

Penjaga ternak menjelaskan kalau pemilik ternak adalah lelaki yang bersandar di sebuah pohon.

Malaikat tadi kemudian mendatangi Nabi Ibrahim dan meminta seekor dari ternak miliknya.

“Wahai Tuan, bolehkah saya meminta seekor ternak milik Tuan,” pinta Malaikat.

Nabi Ibrahim pun menjawab, “Jangankan seekor, jika Tuan meminta seluruh ternak saya, maka akan saya berikan,” ungkap Ibrahim.

Lantas Malaikat kembali menjawab kalau yang dia butuhkan hanya seekor ternak saja.

“Kalau ini kehendak Allah, jangan seluruh ternak, anak saya pun jika ada akan saya berikan. Kalau Tuan mau juga ternak saya, boleh kah Tuan bertasbih di depan saya sekarang?” pinta Ibrahim.

Malaikat kemudian menyanggupi dengan membaca tasbih.

Dari tasbih yang dibaca Malaikat tersebut, Nabi Ibrahim baru menyadari kalau yang berada di hadapannya bukanlah seorang manusia.

Karena tasbih tersebut adalah tasbih yang biasa terdengar di antara langit pertama hingga langit ketujuh dan tasbih seperti itu hanya dibaca oleh Malaikat.

Kisah kedermawanan Nabi Ibrahim yang memberikan seluruh kekayaannya di jalan Allah SWT tersebut jadi pembicaraan penghuni langit.

Seluruh Malaikat memuji kedermawanan Nabi Ibrahim AS.

Singkat cerita, apa yang pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim tersebut kembali diuji oleh Allah SWT.

Allah SWT kemudian meminta Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Ismail AS.

Begitulah, karena keteguhan hati seorang Ibrahim, Ismail dan Siti Hajar meski digoda oleh syaitan hingga mereka melempar syaitan itu di tiga tempat yang kemudian dikenal dengan Jumratul Aqabah, Jumratul Wustha dan Jumratul Ula.

Nabi Ibrahim pun kemudian menjalankan perintah Allah SWT dengan menyembelih leher anaknya, Ismail.

Karena keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS maka Allah SWT memerintahkan Malaikat untuk menjemput kibas putih milik Habil dari langit ke tujuh dan mengganjalnya ke leher Ismail.

Kisah tersebut dinukilkan Sang Ustadz, Al Mukarram Abdul Wahab Sinambela saat menjadi khatib shalat Idul Adha di Masjid Agung Karimun, Kamis, 29 Juni 2023.

Penulis: Ilfitra

Pos terkait