Nyanyian Siamang Pengantar Pulang
Solok (gokepri.com) – “Hoooii, bangun! udah pagi. Kalau tidur, enak lah di rumah, ngapain di sini,” teriak salah seorang pendaki di luar sana. Suaranya membahana memecah kesunyian lembah Gunung Talang.
Tak ada jawaban dari pendaki lain. Suasana kembali hening. Senyap. Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 05.00 WIB pagi itu, Ahad, 29 Mei 2022.
Area kemping di Cadas masih gelap. Badai sesekali tetap menerjang, hingga menimbulkan suara riuh akibat pantulan di antara dinding puncak Gunung Talang.
Saya kemudian membuka jendela tenda. Cadas begitu dingin. Sambil membawa sarung, saya mendekati mushala Gunung Talang yang dibangun di Cadas. Rupanya kran air mati. Saya pun kembali ke tenda mengambil sebotol air mineral untuk berwudhu.

Di mushala, ternyata ada tiga orang pendaki asal Indarung, Padang yang meringkuk dalam sleeping bag. Namun, masih ada sebagian ruang untuk shalat.
Satu hal yang unik, hanya di sekitar mushala inilah pendaki bisa menemukan sinyal handphone. Jika keluar dari areal mushala, maka sinyal akan kembali hilang.
Di depan mushala juga banyak ditumbuhi Bunga Padi dan Bunga Edelwis yang terkenal sebagai bunga abadi itu.
Di sisi sebelah timur, perlahan-lahan fajar mulai muncul. Cahaya jingga kemerahan menyeruak. Matahari mulai bertandang, terang pun beringsut datang.
Satu persatu para pendaki mulai keluar dari peraduannya. Menghirup udara khas gunung di pagi hari, memberikan sensasi yang luar biasa.
Sebagian lain membawa jerigen dan nesting untuk mengambil air. Dua orang pendaki cewek, nampak kompak menggosok gigi di sumber air yang memang disediakan alam di Cadas Gunung Talang.
Beberapa orang pendaki mulai menapaki puncak Gunung Talang. Jalur ke puncak melewati hutan mati.

Hutan mati ini terbentuk usai terjadinya kebakaran di puncak Gunung Talang saat terjadinya letusan pada 2007 silam.
Dari kejauhan, hanya terlihat warna baju maupun jaket yang mereka gunakan menandakan kalau itu adalah manusia.
Trek dari Cadas menuju puncak Gunung Talang sangat tegak. Namun, pendaki bisa melewati jalur dengan cara berbelok menyusuri jalan yang sudah ada.
Dari atas puncak, terlihat ada tiga danau terbentang luas di bawah. Orang menyebutnya danau kembar (Danau di Atas dan Danau di Bawah) serta Danau Talang.
Dari kejauhan, terlihat Gunung Kerinci dengan anggunnya. Marapi dan Singgalang tampak berdampingan. Bahkan, sesayup-sayup mata memandang, Gunung Sago juga malu-malu mengintip.
Selain di puncak, banyak aktivitas lain yang dilakukan pendaki di areal kemping Cadas, salah satunya tentu saja berselfie ria bersama rombongan mereka.
Secangkir kopi hangat menemani saya pagi itu.

Sementara, dua bungkus mie instant dimasak dan dimakan beramai-ramai oleh Rio, Benny, Fajar dan Ririn.
Riko hanya memandang ulah mereka sambil tersenyum.
Di dalam tenda, Rahman masih meringkuk dalam sleeping bag nya. Dia nampak bermalas-malasan pagi itu.
“Sebenarnya saya tidak tidur. Saya cuma ‘lalok-lalok ayam‘. Saya mendengar semua yang kalian bicarakan,” sebutnya cengengesan.
Di belakang tenda kami, terdapat ketinggian yang dipenuhi rerimbunan pohon. Lokasi ini juga menjadi tempat ajang berfoto oleh pendaki.
Sebab, dari lokasi ini para pendaki bisa memandang ke bawah dan terlihat hamparan tenda membentang luas dengan aneka warna. Hamparan tenda itu berlatar belakang lereng dan puncak Gunung Talang.
Selain dari Rahman, kami semua menaiki ketinggian itu. Ternyata, di sana sudah ramai oleh pendaki lain untuk mengabadikan momen indah di atas sana.

Riko yang duluan sampai terkejut melihat seseorang tengah bermenung di balik semak.
“Ada yang lagi ‘serius’,” ungkap Riko. Rupanya kata-kata ‘serius’ yang dimaksud Riko artinya orang yang ditemuinya sedang bermenung itu tengah boker alias BAB.
Selanjutnya, anak-anak muda Jorong Ampia Rayo itu sibuk bergaya di depan ponsel masing-masing.
Puas menikmati semua keindahan yang diciptakan Tuhan di atas Gunung Talang, kami pun berencana turun.
Satu per satu tenda kami bongkar, dipacking dan kembali bersarang dalam carrier.
Rombongan kami perlahan-lahan menuruni kembali jejak langkah yang telah kami lalui.

Nyanyian Siamang bersahut-sahutan menemani langkah kami menuruni Gunung Talang.
Penurunan pun berakhir di pos 1. Mobil Avanza Veloz BP 1336 YC warna merah dari Karimun sudah menunggu untuk membawa kami pulang.
Salam Lestari Gunung Talang 2.597 mdpl! Salam rindu untuk kembali bertemu.
Penulis: Ilfitra









