Catatan Perjalanan ke Gunung Talang (1)

Pendaki asal Ampia Rayo, Nagari Bungo Tanjuang, Batipuh, Kabupaten Tanah Datar.

Rombongan Pendaki Disambut Badai Besar

Solok (gokepri.com) – Tembang lawas milik Iwan Fals mengalun serak dari suara petugas pos 1 Gunuang Talang saat menyambut kedatangan kami, Sabtu, 28 Mei 2022 sekitar pukul 22.00 WIB.

Suara cengengesan dari petugas pos jaga tersebut kontras dengan petikan gitar yang dimainkannya.

Di pos itu, beberapa orang pendaki nampak sedang mempacking barang ke dalam carrier (tas ransel). Mereka kelihatan berseloroh dengan para pendaki lain.

Dari catatan registrasi di pos jaga, ada puluhan pendaki yang hendak menaiki Gunung Talang malam itu, mereka ada yang berasal dari Padang, Bukittinggi, Padang Panjang dan Solok. Rata-rata yang naik malam itu adalah pendaki lokal asal Sumbar.

Sambil mengisi registrasi, tiba-tiba badai besar datang, suaranya mendesau di atas kepala.

“Di Gunung Talang memang seperti ini, sudah biasa ada badai. Tapi sepertinya hujan takkan turun lah,” ujar salah seorang petugas jaga di pos 1.

Setelah selesai mempacking barang dan mengisi buku registrasi, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pendakian Gunung Talang dengan ketinggian 2597 MDPL.

Salah satu rute yang dilewati pendaki.

Usai berdoa, rombongan pendaki asal Nagari Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar yang terdiri dari Riko, Benny, Fajar, Rahman, Rio, Ririn dan Ilham ini mulai menanjak meninggalkan pos 1 menuju pos 2.

Rombongan ini dipimpin Riko sebagai leader, kemudian disusul Rahman, Rio, Benny, Fajar, Ririn dan Ilham sebagai sweaper.

Trek pendakian dari pos 1 ke pos 2 masih berupa semenisasi. Awalnya, luas jalan sekitar 3 meter, namun ketika sudah berbelok kiri ke arah ladang milik masyarakat setempat, jalan sudah seukuran sepeda motor.

Beberapa meter menjelang pos 2, jalanan berupa bebatuan gunung. Di sepanjang jalan ditemukan ladang bawang, seledri dan markisah yang terkenal dari Solok itu.

Antara pos 1 dengan pos 2 jaraknya sekitar 1 kilometer dengan jarak tempuh sekitar 1 jam perjalanan.

Di pos 2, petugas menyediakan sebuah pondok untuk melepas penat sementara bagi para pendaki.

Begitu sampai di pos 2, rombongan ini kembali dikejutkan dengan badai yang besar.

Badai terus mengiringi rombongan hingga terus bergerak menuju R 10. Beberapa kali pendaki asal Nagari Bungo Tanjuang ini harus istrirahat sambil melepas penat hingga sampai di R 15.

Hanya saja, pemandangan dari pos 2 menuju R 10 disuguhkan dengan pembalakan kayu oleh masyarakat sekitar untuk membuka lahan kebun markisah.

Trek dari pos 2 menuju R 15 cukup menantang.

Sebenarnya, pendakian Gunung Talang sangat cocok bagi pendaki pemula. Sebab, pengelola pendakian Gunung Talang telah menyediakan pegangan yang terbuat dari kayu.

Begitu juga, ketika ditemukan pohon tumbang dengan ukuran besar hingga menyulitkan pendakian, pengelola juga telah menyediakan tangga dan dibantu dengan pegangan kayu.

Dari R 15 menuju cadas atau area camp jalanan mulai menurun dan ditemukan beberapa sumber mata air yang biasa digunakan pendaki untuk menambah bekal minuman.

Trek menuju cadas terbilang ringan karena lebih banyak turunan. Hanya saja, trek ini sering becek. Namun, petugas sudah menyediakan lantai yang terbuat dari kayu. Di sisi kiri dan kanannya banyak ditumbuhi pohon pandan.

Sehabis gugusan pandan, akhirnya ditemukan hamparan luas yang banyak ditumbuhi bunga edelweis dan bunga padi. Lokasi ini disebut cadas atau area camp.

Cadas atau area camp Gunung Talang 2597 MDPL.

Cadas ini merupakan titik istirahat terakhir menuju puncak Gunung Talang. Lokasinya luas, sehingga sangat pas dijadikan sebagai lokasi kemping. Selain itu, lokasi ini juga ditemukan aliran sumber mata air bagi para pendaki.

Jarak tempuh dari pos 1 menuju cadas hanya sekitar 3 jam (termasuk istirahat).

Di cadas, sudah banyak ditemukan tenda para pendaki. Di sini udaranya sudah sangat dingin.

Para pendaki lebih memilih mendirikan tenda di tepi-tepi semak atau saling berdekatan dengan tenda pendaki lain. Tujuannya, agar antara satu tenda dengan tenda lain bisa saling melindungi dari terjangan badai.

Kami sampai di cadas sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Sempat mengitari beberapa titik, akhirnya kami menemukan lokasi yang pas untuk mendirikan tenda. Lokasi kami berada paling ujung dan bersebelahan dengan pendaki asal Padang.

Usai menurunkan ransel masing-masing, kami segera mendirikan tenda. Hanya sekejap, tiga tenda sudah selesai dibangun dan kompor pun lansung menyala.

Riko yang merupakan leader juga bertindak sebagai koki dalam rombongan ini. Maklum, dia sudah tak terhitung membawa rombongan pendaki ke Gunung Talang.

Usai makan malam, kami semua akhirnya masuk ke dalam tenda masing-masing sambil meringkuk ke dalam sleeping bag.

Lampu tenda kembali gelap seiring suara yang mulai senyap. Hanya suara angin yang masih mendesau di luar sana. (bersambung…)

Penulis: Ilfitra

BAGIKAN