BP Batam Perkirakan Investasi SWRO untuk Data Center Tembus Rp500 Miliar

(istimewa)

BATAM (gokepri.com) – Kebutuhan air bersih untuk menopang ekspansi industri pusat data atau data center di Batam, Kepulauan Riau, mendorong Badan Pengusahaan (BP) Batam menawarkan pembangunan fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) kepada investor.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan, pembangunan fasilitas SWRO diperkirakan membutuhkan investasi Rp400 miliar hingga Rp500 miliar, dengan kapasitas produksi sekitar 300 liter per detik.

“Investasi untuk SWRO memakan biaya kurang lebih Rp400 miliar sampai Rp500 miliar dengan kebutuhan air estimasi mencapai 300 liter per detik,” kata Ariastuty, Kamis.

Menurut dia, kebutuhan infrastruktur air tersebut sejalan dengan perkembangan investasi data center di Batam. Saat ini, BP Batam mencatat terdapat 10 perusahaan data center yang telah terdaftar dan tersebar di kawasan Nongsa Digital Park (NDP), Nongsa di luar NDP, serta Kabil Industrial Estate.

Ariastuty merinci, enam perusahaan berada di kawasan NDP. Dua di antaranya telah menyelesaikan pembangunan fasilitas, satu perusahaan masih dalam tahap konstruksi, sedangkan tiga lainnya masih berada pada tahap perencanaan.

Di luar kawasan NDP, terdapat dua perusahaan data center di Nongsa yang sedang membangun fasilitas. Dua perusahaan lainnya juga tengah memasuki tahap konstruksi di Kabil Industrial Estate.
Meski demikian, BP Batam belum bersedia mengungkap identitas 10 investor tersebut.

“Kalau ditanya 10 investor yang masuk dalam daftar perusahaan data center tersebut belum dapat kami beberkan,” ujarnya.

Ariastuty menjelaskan, peningkatan investasi data center harus diikuti kesiapan infrastruktur dasar, terutama air dan listrik. Untuk itu, BP Batam mendorong konsep one investment, yakni investor tidak hanya membangun fasilitas pusat data, tetapi juga ikut berinvestasi dalam penyediaan utilitas yang dibutuhkan.

SWRO menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber air baku konvensional. “Teknologi tersebut memanfaatkan air laut yang diproses melalui penyaringan dan membran bertekanan tinggi untuk memisahkan garam serta kandungan lainnya hingga menghasilkan air tawar,” kata dia.

Pembangunan fasilitas SWRO diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun, bergantung pada kapasitas produksi dan kebutuhan masing-masing perusahaan.

Ads bp batam 2026 baru

Melalui skema tersebut, BP Batam berharap pertumbuhan industri pusat data tidak hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi juga mendorong pembangunan infrastruktur air dan energi yang dapat menopang aktivitas ekonomi Batam dalam jangka panjang.

penulis: Engesti

Pos terkait