BP Batam Janjikan Air Kembali Mengalir ke Sambau dan Bakau Serip Selasa Malam

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano saat menemui puluhan warga yang menggelar aksi protes di depan gerbang Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/2026). (foto: engesti/gokepri.com)

BATAM (gokepri.com) – Badan Pengusahaan (BP) Batam menjanjikan pasokan air bersih ke permukiman warga Sambau dan Bakau Serip, Kecamatan Nongsa, kembali mengalir dan stabil mulai Selasa (6/10) malam setelah beberapa pekan mengalami gangguan.

Kepastian tersebut disampaikan Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano saat menemui puluhan warga yang menggelar aksi protes di depan gerbang Nongsa Digital Park (NDP), Senin (5/10/2026).

Denny mengatakan, penyambungan pipa ditargetkan selesai pada Senin malam. Setelah jaringan tersambung, dibutuhkan waktu untuk membangun tekanan agar air dapat mengalir hingga ke rumah-rumah warga.

“Malam ini tersambung, besok malam bisa jalan dan stabil,” kata Denny, Senin.

Ia menjelaskan, aliran air tidak dapat langsung normal sesaat setelah penyambungan pipa dilakukan. BP Batam perlu memastikan tekanan jaringan terbentuk dan distribusi berjalan hingga ke permukiman.

Sebagai langkah sementara, BP Batam menyiapkan enam mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan warga selama proses pemulihan. Penyaluran air tangki akan dilakukan berdasarkan pendataan warga terdampak bersama RT, RW, kelurahan, dan kecamatan.

Denny belum dapat memastikan apakah setelah jaringan kembali beroperasi pasokan air akan tersedia selama 24 jam. Namun, ia memastikan air ditargetkan mulai mengalir ke permukiman pada Selasa malam.

“Belum bisa melimpah, tapi besok mengalir,” ujarnya.

Menurut Denny, gangguan pasokan air di Nongsa tidak terlepas dari kondisi kemarau berkepanjangan yang menekan ketersediaan air baku di Batam. Selain faktor cuaca, BP Batam juga menyoroti kondisi daerah tangkapan air (DTA) di sekitar Waduk Nongsa. Ia menyebut adanya aktivitas tambang di kawasan yang berdekatan dengan hutan lindung dan waduk yang dinilai berpengaruh terhadap daerah tangkapan air.

“Itu yang beberapa kali kami turun dan coba kami tertibkan. Itu akan kami lakukan supaya ketika kemarau lama, dam ini masih bisa bertahan,” katanya.

Ads bp batam 2026 baru

Untuk membantu memenuhi kebutuhan air di Nongsa, BP Batam saat ini memasok tambahan air dari Waduk Duriangkang melalui sistem booster. Denny mengatakan BP Batam bersama PT Air Batam Hilir (ABH) juga akan mengecek jaringan hingga ke rumah-rumah warga. Jika ditemukan persoalan pada jaringan, infrastruktur pendukung akan disiapkan untuk memperbaiki distribusi.

“Setelah ini akan langsung ke lokasi untuk mengecek jaringan. Tentu jika masalah di jaringan air, kita akan siapkan infrastrukturnya,” tuturnya.

  • BP Batam Bantah Data Center Penyebab Air Menyusut

Di tengah keluhan warga, Denny membantah anggapan bahwa berkurangnya debit air di sejumlah waduk Batam disebabkan oleh kebutuhan air untuk pendinginan data center yang berkembang di kawasan Nongsa.

Ia mengatakan, penurunan debit, terutama di Waduk Nongsa, lebih banyak dipengaruhi kemarau berkepanjangan dan rendahnya curah hujan.
Kondisi tersebut membuat produksi air di kawasan Nongsa turun drastis. Dari biasanya sekitar 90 liter per detik, produksi saat ini hanya sekitar 25 liter per detik.

“Biasanya produksi air di Nongsa sekitar 90 liter per detik. Saat ini tinggal sekitar 25 liter per detik karena kondisi kemarau,” kata Denny.

Untuk menjaga pelayanan kepada pelanggan, BP Batam kemudian menambah pasokan dari sistem Waduk Duriangkang.

Denny juga membantah, informasi bahwa data center yang telah beroperasi di Batam mengambil air baku dari Waduk Nongsa maupun Waduk Duriangkang.

Menurut dia, data center yang telah beroperasi memperoleh pasokan dari kawasan Kabil Industrial Estate yang memiliki sistem pengelolaan air sendiri, termasuk kolam penampungan air hujan.

“Mereka menggunakan sumber air dari kawasan Kabil Industrial Estate. Di sana ada kolam tadah hujan dan pengelolaan air tersendiri yang kapasitasnya cukup besar,” ujarnya.

Ia sekaligus membantah informasi mengenai penggunaan air dari Duriangkang hingga 160 liter per detik untuk kebutuhan data center.

“Tidak mungkin 160 liter per detik. Itu tidak ada,” tegasnya.

Denny mengatakan, perusahaan data center yang masih dalam tahap pembangunan juga telah menyiapkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk memenuhi kebutuhan air operasional.

Fasilitas pendukung dengan kapasitas sekitar 1.200 liter per detik pada tahap pertama saat ini sedang dibangun dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu tahun.

Menurut Denny, kondisi waduk di Batam secara umum masih mampu memenuhi kebutuhan air untuk beberapa bulan ke depan. Namun, Waduk Nongsa menjadi perhatian karena kapasitasnya relatif kecil.

“Yang agak kecil tinggal Nongsa, sehingga hari ini kami dukung dari Duriangkang,” katanya.

Nongsa juga termasuk dalam 18 kawasan yang dikategorikan sebagai daerah dengan tekanan pasokan air tinggi atau stress area. BP Batam, kata dia, terus melakukan pembenahan jaringan dan distribusi untuk mengatasi kondisi tersebut.

  • Warga Protes Air Tak Mengalir

Sebelumnya, puluhan warga Sambau menggelar aksi di depan gerbang NDP karena pasokan air bersih ke permukiman mereka terhenti dalam beberapa pekan terakhir. Warga mempertanyakan ketimpangan distribusi air di tengah pesatnya perkembangan kawasan NDP sebagai pusat industri digital dan data center.

Mereka mengaku, kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, sementara kawasan industri di sekitar permukiman tetap beraktivitas.

Dalam aksi tersebut, warga bahkan sempat menghentikan kendaraan yang hendak memasuki kawasan NDP. Mereka meminta pemerintah segera memulihkan pasokan air ke permukiman.

Salah seorang warga, Defit, mengatakan warga tetap menerima tagihan air meski air tidak mengalir ke rumah.
“Biaya tagihan bisa dari Rp180 ribu sampai Rp200 ribu satu bulan, itu paling murah. Tetes pun tidak ada air kami mengalir,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengandalkan pasokan air tangki. Namun, jumlah air yang diterima dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan warga.

Defit mengatakan, air yang disalurkan melalui ABH hanya mencukupi sekitar empat hingga lima rumah. Warga pun harus berebut ketika mobil tangki datang.

“Air dari ABH juga diminta lagi Rp5 ribu, itupun rebutan dan hanya mencukupi empat sampai lima rumah,” ujarnya.

Sementara itu, warga yang membeli air tangki secara mandiri harus mengeluarkan biaya lebih besar, yakni sekitar Rp135 ribu untuk satu tangki.
Kondisi tersebut membuat warga harus menanggung biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama pasokan air tidak berjalan normal.

Warga berharap pemerintah tidak hanya memulihkan aliran air, tetapi juga memberikan kepastian mengenai keberlanjutan distribusi air di permukiman mereka.

Penulis: Engesti

 

Pos terkait