Tanjungpinang (gokepri.com) – Danrem 033/WP Brigjen TNI Jimmy Ramos Manalu menuturkan kolaborasi menjadi faktor penting dalam mempercepat tercapainya kekebalan kelompok atau herd immunity di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Kolaborasi itu, salah satunya ditunjukkan TNI bersama Pemko Tanjungpinang melalui Serbuan Vaksinasi bagi pelajar usia 12 sampai 17 tahun di SMPN 1 Tanjungpinang, Sabtu (21/8/2021).
“Capaian vaksinasi, baik dosis satu maupun dua di Kepri berada di peringkat 3 dari 34 provinsi di Indonesia. Ini pencapaian dari suatu kolaborasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah yang luar biasa. Dan bisa kita wujudkan secara bersama-sama,” ujar Brigjen Jimmy.
Herd immunity adalah ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu. Sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Misalnya, jika 80 persen populasi kebal terhadap suatu virus, empat dari setiap lima orang yang bertemu seseorang dengan penyakit tersebut tidak akan sakit dan tidak akan menyebarkan virus lebih jauh.
Data Satgas Covid-19 Kota Tanjungpinang hingga Sabtu (21/8), sudah 118.920 warga Tanjungpinang berusia 18 tahun ke atas yang sudah mendapatkan dosis pertama. Artinya, vaksinasi sudah mencapai sekitar 77,1 persen dari target 154.242 orang.
Adapun untuk kategori pelajar usia 12 sampai 17 tahun, vaksinasi sudah menyasar 13.334 orang atau 56,1 persen dari target 23.788 orang. Sedangkan untuk tenaga kesehatan dosis ketiga, vaksinasi sudah menyasar 1.459 orang atau 56,2 dari target 2.596 orang.
Menurut Brigjen Jimmy, vaksinasi menjadi salah satu indikator pencapaian herd immunity. Tanjungpinang sebagai ibukota Provinsi Kepri bisa menjadi tolok ukur untuk menurunkan angka kasus Covid-19.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat pembentukan herd immunity,” ucapnya.
Wali Kota Tanjungpinang, Rahma, berterima kasih atas dukungan vaksinasi yang dilakukan Danrem dan jajarannya selama ini. “Alhamdulillah, vaksinasi bagi anak usia 12 sampai 17 tahun sudah mencapai 56,1 persen. Mudah-mudahan lewat kolaborasi antara TNI, Polri, Pemko, dan Pemrov, dapat mempercepat vaksinasi bagi pelajar SD, SMP, dan SMA,” ujarnya.
Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa Covid-19 diyakini para ahli, akan hidup berdampingan dengan masyarakat dalam waktu yang tidak dapat ditentukan kemudian. Karena itulah Indonesia perlu menyiapkan peta jalan (road map) jangka panjang ke depan agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan Covid-19.
“Hal baik yang dapat ditangkap, yaitu di masa yang akan datang, kekebalan masyarakat akan meningkat terhadap virus ini, seiring dengan akselerasi vaksinasi maupun infeksi alamiah. Sehingga angka perawatan dan kematian akan berkurang walaupun virus ada dan terus beredar,” ujarnya.
Karena itulah upaya penanggulangan harus terus menerus. Karena agen atau penyebab penyakit, masih tetap ada di lingkungan sekitarnya dan berpeluang muncul kembali apabila lengah. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan saat ini untuk membentuk ketahanan kesehatan masyarakat jangka panjang oleh Indonesia.
Upaya pertama, pengendalian kegiatan masyarakat dan modifikasi perilaku menjalankan protokol kesehatan. Upaya ini baiknya dimonitoring dan dievaluasi berkala demi penanganan yang antisipatif. Selama virus ini masih ada, maka proses mengetat-longgarkan kegiatan akan terus dilakukan demi mencapai masyarakat sehat dan produktif serta aman.
Kedua, mempercepat pembentukan kekebalan atau herd immunity secara gradual atau bertahap. Mulai dari pembentukan kekebalan secara regional termasuk secara bersamaan dengan daerah aglomerasi di wilayah sekitarnya sampai perlahan terbentuk menyeluruh secara nasional dengan prioritas populasi dan daerah yang berisiko.
“Jika kita telah mencapai kekebalan komunitas secara nasional, maka kita telah memberikan dan dapat dengan cukup besar dalam upaya intensifikasi vaksinasi secara global demi eliminasi Covid-19,” lanjutnya.
Ketiga, terus meningkatkan kapasitas dan infrastruktur kesehatan secara merata di seluruh pelosok daerah, melalui upaya testing, tracing dan treatment. Hal ini demi pelandaian kasus terus menerus yang merata. Modal, alat dan material kesehatan yang terus dikuatkan ini, juga dapat menjadi modal kuat ketahanan sistem kesehatan nasional secara berkelanjutan.
Keempat, mengawasi distribusi varian yang muncul, dan terus melakukan pengembangan dan pembaharuan teknologi untuk meminimalisir efek varian. Baik terhadap upaya pengobatan, diagnostik dan upaya pelayanan kesehatan lainnya.
Kelima, menyusun rencana ketahanan kesehatan masyarakat jangka panjang dengan pertimbangan multi disiplin sepeti interaksi antar manusia, hewan dan tumbuhan, sebagai investasi kesehatan jangka panjang. Hal ini akan sangat bermanfaat tidak hanya menangani Covid-19, namun juga mempersiapkan diri terhadap ancaman kedaruratan kesehatan di masa yang akan datang.
Baca juga: Vaksin Covid-19 Pelaku Pariwisata Batam Usaha Wujudkan Kekebalan Komunal
Karenanya, fakta bahwa kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19 harus mampu menumbuhkan sikap optimisme terhadap kekuatan bangsa sendiri. Ingat, bahwa pandemi ini bukan yang pertama. Sejarah peradaban manusia mencatatkan bahwa manusia kuat dan mampu belajar dengan baik, hasilnya terdapat beberapa penyakit yang dapat dieradikasi atau hilang secara permanen seperti flu Spanyol, cacar dan flu babi.
“Saya pun berharap sikap optimisme ini dapat menggugah rasa nasionalisme dan patriotisme dari setiap orang. Untuk berperang melawan setiap serangan Covid-19 seusai kemampuan dan kapasitas masing-masing,” pungkasnya. (zak)








