Batam Pimpin Pertumbuhan Destinasi Wisata Selama Imlek 2026

Imlek di lubuk baja batam
Ribuan warga memadati perayaan Imlek di kawasan Komplek Bumi Indah, Lubuk Baja, Batam, Senin (16/2/2026) malam. HUMAS DISKOMINFO BATAM / RICKY WIHENDAR

BATAM (gokepri) – Batam mencatat pertumbuhan tertinggi dalam arus perjalanan domestik selama libur Tahun Baru Imlek 2026. Kota-kota sekunder mulai menyaingi dominasi pusat metropolitan dalam peta pariwisata nasional.

Ketika perayaan Tahun Baru Imlek tiba, arus perjalanan domestik di Indonesia kembali bergerak. Bandara dan pelabuhan dipadati penumpang, hotel-hotel mulai penuh, dan kota-kota wisata bersiap menerima gelombang pengunjung. Bagi banyak keluarga Tionghoa di Indonesia, momen Imlek bukan sekadar ritual budaya. Ia juga menjadi waktu untuk pulang, berkumpul, dan bepergian.

Data yang dirilis perusahaan analisis perjalanan PRISM menunjukkan bahwa libur Imlek 2026 kembali mendorong mobilitas domestik di awal tahun. Tradisi reuni keluarga, perjalanan lintas provinsi, hingga liburan singkat selama periode perayaan menciptakan lonjakan aktivitas pariwisata di berbagai daerah.

HBRL

Baca Juga: Imlek di Lubuk Baja, Potret Harmoni Batam yang Terawat

Country Head PRISM Indonesia Hendro Tan mengatakan pola perjalanan tahun ini memperlihatkan perubahan menarik. Jika sebelumnya arus wisata banyak terkonsentrasi di kota-kota besar, kini destinasi sekunder mulai memainkan peran yang lebih penting.

“Tahun ini kami melihat distribusi permintaan yang lebih seimbang, di mana kota-kota sekunder turut berkontribusi bersama pusat-pusat metropolitan yang telah mapan,” ujar Hendro dalam keterangan resminya, Sabtu 7 Maret 2026.

Salah satu kota yang mencatat pertumbuhan paling mencolok adalah Batam. Kota industri yang berada di jalur perdagangan internasional itu menjadi destinasi dengan pertumbuhan wisata tertinggi selama periode Imlek 2026.

Capaian tersebut menandai semakin kuatnya posisi Batam sebagai destinasi wisata alternatif. Selain akses transportasi yang relatif mudah, kota ini juga menawarkan kombinasi wisata belanja, kuliner, dan kedekatan geografis dengan Singapura serta Malaysia.

Pertumbuhan Batam mencerminkan perubahan lanskap perjalanan domestik. Kota-kota yang sebelumnya dianggap sekunder kini mulai mengambil peran lebih besar dalam menarik wisatawan.

Di sisi lain, kota-kota besar tetap menjadi pusat mobilitas nasional selama periode Imlek. Jakarta misalnya, kembali menjadi magnet perjalanan domestik.

Selain sebagai pusat pemerintahan dan bisnis, ibu kota memiliki sejumlah kawasan pecinan yang menjadi pusat perayaan Imlek. Festival budaya, kegiatan ibadah, hingga wisata kuliner khas perayaan membuat Jakarta tetap menjadi tujuan utama banyak wisatawan.

Perjalanan ke Jakarta juga kerap terkait dengan tradisi reuni keluarga. Banyak keluarga besar memanfaatkan libur Imlek untuk berkumpul di ibu kota sebelum kembali ke kota asal masing-masing.

Di bagian barat Indonesia, Medan juga menunjukkan kinerja yang kuat selama musim perayaan. Kota ini memiliki salah satu komunitas Tionghoa terbesar di Indonesia, dengan tradisi Imlek yang masih hidup dalam berbagai kegiatan budaya.

Perayaan lampion, ritual keagamaan, hingga aktivitas kuliner menjadikan Medan tidak hanya pusat ekonomi Sumatera Utara, tetapi juga destinasi perjalanan berbasis budaya.

Sementara itu di Pulau Jawa, Bandung tetap mempertahankan posisinya sebagai pilihan utama wisata singkat bagi warga Jabodetabek. Kota berhawa sejuk ini dikenal sebagai destinasi pelarian cepat dari hiruk-pikuk ibu kota.

Wisata kuliner, pusat perbelanjaan, serta panorama pegunungan membuat Bandung tetap ramai selama musim liburan. Banyak wisatawan memilih perjalanan dua hingga tiga hari tanpa harus menempuh jarak jauh.

Bali, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon pariwisata Indonesia, juga tetap masuk dalam daftar destinasi favorit. Pulau ini menarik wisatawan yang ingin menikmati liburan lebih panjang dengan suasana santai.

PRISM mencatat meningkatnya tren perpanjangan durasi menginap atau extended stay di sejumlah hotel dan vila di Bali. Fenomena ini berkaitan dengan semakin fleksibelnya pola kerja jarak jauh serta tren bleisure—gabungan perjalanan bisnis dan liburan.

Selain itu, Yogyakarta juga menunjukkan daya tarik tersendiri selama periode Imlek. Kota budaya ini menarik wisatawan yang ingin menggabungkan perjalanan reflektif dengan eksplorasi sejarah dan warisan budaya.

Di tingkat provinsi, Jawa Barat muncul sebagai salah satu kontributor utama arus perjalanan domestik. Akses transportasi yang relatif mudah serta ragam destinasi wisata keluarga membuat wilayah ini ramai dikunjungi selama libur panjang.

DKI Jakarta juga mencatat mobilitas intra dan antarprovinsi yang tinggi. Sementara Jawa Timur dan Sumatera Utara memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi sekaligus gerbang perjalanan regional.

Data PRISM juga menunjukkan dinamika menarik di segmen perjalanan bisnis. Deli Serdang, misalnya, tercatat sebagai salah satu kota dengan pemesanan perjalanan bisnis tertinggi.

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi di luar pusat metropolitan tradisional. Bahkan kota seperti Muara Bungo di Jambi tercatat mengalami pertumbuhan tercepat dalam mobilitas perjalanan bisnis.

Di sektor wisata rekreasi, Banyumas mulai menarik perhatian sebagai destinasi alternatif. Wisata berbasis alam dan suasana yang lebih tenang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menghindari keramaian kota besar.

Hendro Tan menilai perkembangan tersebut mencerminkan perubahan preferensi wisatawan domestik. Peningkatan konektivitas transportasi serta akses informasi membuat wisatawan lebih berani mengeksplorasi destinasi baru di luar jalur populer. BISNIS.COM

Baca Juga: Imlek Meriah di Nagoya, BP Batam Dorong Wajah Baru Kawasan New Nagoya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait