Batam Jadi Pusat Diskusi Maritim Kawasan Melayu

seminar antarbangsa batam
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan Seminar Antarbangsa Kesusatraan Asia Tenggara (SAKAT) 2023 di Jakarta, Kamis (21/9/2023). FOTO: Kemendikbudristek

BATAM (gokepri) – Seminar Antarbangsa ke-12 yang digelar di Batam menyatukan para ahli dari Indonesia, Jepang dan Malaysia untuk membahas isu krusial perikanan, kelautan, dan perubahan lingkungan di kawasan Melayu. Acara ini tidak hanya menjadi ajang tukar menukar ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi untuk mencari solusi atas tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Kota Batam, Kepulauan Riau, menjadi tuan rumah Seminar Antarbangsa ke-12 diikuti peneliti, dosen, dan mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia, membahas isu perikanan dan kelautan serta perubahan lingkungan di dunia Melayu.

Baca: Guntur Sakti: Spirit KSM Melestarikan Budaya Melayu Serumpun

Ketua Panitia Seminar Antarbangsa ke-12 Dr Deni Efizon dikonfirmasi di Batam, Rabu, menyebut seminar ini diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia dan Jepang. Ada 65 paper (tulisan ilmiah) yang dipresentasikan selama 2 hari, 25 dan 26 Juli 2024.

“Jika tahun lalu Seminar Antarbangsa ini dilaksanakan di Malaysia, tahun ini Seminar Antarbangsa yang ke-12 ini dilaksanakan di Indonesia, kami memilih Batam sebagai lokasi,” kata Deni.

Deni menjelaskan, seminar tahunan ini selain menjadi ajang bertukar ilmu pengetahuan antara akademisi, peneliti dan mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia. Juga menjadi ajang untuk mempromosikan daerah masing-masing.

Seperti pemilihan tempat lokasi seminar, yang setiap tahun berbeda-beda, seperti di Malaysia digelar di daerah-daerah di negeri Jiran tersebut, begitupun saat Indonesia menjadi tuan rumah digelar di Pekanbaru, Bandung dan kini Batam.

“Tahun ke-12, tukar-tukar tempat dibuat di Indonesia di Pekanbaru, tahun berikutnya di Malaysia bergantian setiap tahun. Lokasinya pindah-pindah kalau di Indonesia kami lakukan di mana-mana, di Batam, di Bandung, Pekanbaru, untuk penyegaran,” katanya.

Ada tiga tema utama yang jadi fokus seminar ini, yakni ekologi, habitat manusia, dan perubahan lingkungan di dunia Melayu. Tema ini jadi agenda utama dalam seminar tahunan yang ditaja oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FAPERIKA) Universitas Riau dan Tamaddun Melayu (ATMA) Universiti Kebangsaan Malaysia.

“Ini 3 isu yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup di muka bumi ini. Maka kami fokuskan ke 3 hal tersebut,” kata Deni.

Adapun hasil dari seminar ini nanti, kata dia, akan ada publikasi dalam bentuk prosiding (kumpulan paper akademis hasil publikasi dari seminar akademis atau konferensi). Di mana paper yang dikirimkan membahas 3 isu utama. Dari paper ini peserta bisa mengambil pelajaran, mencari solusi terkait permasalahan yang dikaji. Tidak menutup kemungkinan buah pikir yang disampaikan dalam seminar ini, bisa disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai referensi dalam pengambilan kebijakan terkait ekologi, habitat manusia, dan perubahan lingkungan.

“Seminar ini berbagi ilmu pengetahuan, bisa dilanjutkan ke penelitian dengan pengalaman yang ada di Indonesia maupun Malaysia. Hasil penelitian ini bisa dipakai oleh pemda jika mau, karena paper akan dipublikasikan dalam bentuk prosiding,” ujar Deni.

Seminar ini menghadirkan pembicara kunci dari kedua universitas, Prof. Bintal Amin dari Faperika Unri, Prof. Madya Asyaari Muhammad dari Universitas Kebangsaan Malaysia, serta pembicara pleno yakni Dr Windarti dari Faperika Unri, dan Prof Madya Zuliskandar Ramli dari Universitas Kebangsaan Malaysia. ANTARA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait