Batam, Destinasi Singkat yang Tak Pernah Sepi

visa 7 hari
Wisatawan mancanegara di area Pelabuhan Internasional Batam Centre, Batam, Kepulauan Riau, 17 Desember 2023. ANTARA/Teguh Prihatna

BATAM (gokepri) — Batam tidak pernah benar-benar lengang. Setiap akhir pekan, wisatawan mancanegara—terutama dari Singapura dan Malaysia—terus berdatangan melalui Pelabuhan Internasional Batam Center dan Sekupang. Mereka datang bukan untuk liburan panjang, melainkan pelarian singkat: tiga hari dua malam yang diisi makan enak, belanja, dan relaksasi.

Pola kunjungan singkat ini menjadi ciri khas pariwisata Batam. Dalam waktu terbatas, kota industri di perbatasan ini menawarkan kombinasi kuliner, pusat perbelanjaan, spa, dan beberapa titik wisata yang cukup untuk membuat wisatawan kembali lagi.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pariwisata Indonesia (ASPABRI), Surya Wijaya, mengatakan wisatawan Batam umumnya terbagi dua: pelancong mandiri atau Free Independent Traveler (FIT), serta wisatawan rombongan.

Wisatawan FIT, kebanyakan dari Singapura, datang tanpa paket tur. Mereka mengatur sendiri perjalanan, memilih tempat makan, dan menentukan agenda santai. “Mereka nyaman ke Batam untuk makan, belanja, dan spa,” kata Surya di Batam, Kamis 8 Januari 2026.

Bagi wisatawan Singapura, Batam ibarat halaman belakang rumah. Tempat kabur sejenak setelah sepekan bekerja. Hari pertama biasanya diisi wisata kuliner seafood, dilanjutkan spa. “Makan seafood dulu, baru spa. Itu sudah seperti paket wajib,” ujar Surya.

Kawasan Harbour Bay dan Bengkong menjadi tujuan favorit karena dekat dari pelabuhan. Restoran seafood di kawasan pesisir kerap dipadati wisatawan. Harga yang relatif murah, ditambah keuntungan nilai tukar rupiah, membuat mereka merasa “untung” berbelanja dan makan di Batam.

Hari kedua, agenda beralih ke belanja. Menariknya, yang dicari justru barang nonbranded dan kebutuhan harian. Mulai dari pakaian diskon hingga mi instan. “Barang-barang seperti itu justru dicari. Kalau barang bermerek, di negara mereka juga ada,” kata Surya.

Hari ketiga biasanya diisi bersantai dan persiapan pulang. Polanya sederhana, berulang, tapi efektif. “Pijat di sini murah, makanannya lengkap. Itu yang mereka cari,” ujarnya.

Berbeda dengan wisatawan FIT, wisatawan rombongan—terutama dari Malaysia—datang dengan agenda yang lebih terstruktur. Dalam paket tiga hari dua malam, destinasi seperti Puncak Beliung di Sekupang hampir selalu masuk daftar kunjungan.

Puncak Beliung sejatinya bukan destinasi istimewa. Namun, di tangan pengelola tur, tempat ini justru menjadi magnet. “Di tempat lain mungkin biasa saja. Tapi di Batam bisa jadi favorit dan omzetnya besar. Akhir pekan bahkan antre,” kata Surya.

Rombongan wisatawan juga hampir selalu diajak ke Jembatan Barelang untuk menikmati panorama laut dan berfoto. Meski memiliki potensi wisata bahari, Batam masih jarang dipilih untuk snorkeling atau diving. Pantai lebih banyak dikunjungi sebagai latar swafoto, bukan untuk aktivitas laut yang serius.

Kuliner tetap menjadi kekuatan utama. Dalam paket singkat, wisatawan bisa menikmati hingga lima kali makan dengan menu berbeda—mulai dari masakan Padang, Sunda, Melayu, hingga seafood pesisir. “Kita buat variatif supaya mereka tidak bosan,” ujar Surya.

Tak hanya wisatawan mancanegara, wisatawan domestik pun memiliki pola serupa. Wisatawan dari Jawa dan Sumatra datang ke Batam untuk hal yang sama: makan dan belanja. “Memang itu yang dijual Batam,” kata Surya.

Antara Potensi dan Tantangan

Di balik ramainya akhir pekan, Surya menilai kunjungan wisatawan ke Batam cenderung stagnan. Lonjakan hanya terasa saat libur panjang atau hari besar. Salah satu kendala utama adalah harga tiket feri yang relatif mahal.

“Wisatawan Singapura itu bayar sekitar 76 dolar sekali jalan. Artinya, mereka memang harus menyiapkan uang ekstra untuk ke Batam,” ujarnya.

Batam juga dinilai belum maksimal memanfaatkan peluang nilai tukar rupiah yang menguntungkan wisatawan asing. Promosi pariwisata masih kalah agresif dibanding Johor, Malaysia. “Informasi Batam justru banyak datang dari agen luar, bukan dari promosi pemerintah kita,” kata Surya.

Meski begitu, Batam tetap relevan sebagai destinasi wisata singkat di kawasan perbatasan. Selama belanja, kuliner, spa, dan destinasi sederhana itu dikemas dengan baik, Batam akan terus dikunjungi. “Batam ini sebenarnya sederhana. Tapi kalau dikemas benar, orang selalu mau kembali,” ujarnya.

Kunjungan Wisman Terus Naik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau mencatat kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari–November 2025 mencapai lebih dari 1,79 juta kunjungan. Angka ini melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kepri 2025 sebesar 1,76 juta.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, mengatakan jumlah tersebut belum termasuk data Desember. “Artinya, masih berpotensi naik. Bisa mendekati dua juta kunjungan,” kata Hasan.

Dibandingkan 2024 yang mencatat 1,6 juta kunjungan, terjadi peningkatan sekitar 20 persen. Kunjungan wisatawan nusantara juga naik signifikan menjadi 3,9 juta kunjungan hingga November 2025.

Menurut Hasan, capaian ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. “Termasuk pelaku pariwisata yang menawarkan paket menarik dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Baca Juga: Bisakah Wisata Medis Batam Bersaing dengan Singapura dan Malaysia?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait