BATAM (gokepri) – Batam Aero Technic (BAT) Lion Air Group terus berkembang dan berpotensi menyerap 10.000 tenaga kerja. Membantu mengurangi tingkat pengangguran dan memperkuat daya saing industri MRO Indonesia secara global.
Batam Aero Technic (BAT) Lion Air Group, perusahaan penyedia jasa perawatan dan perbaikan pesawat udara (Maintenance, Repair, Overhaul/ MRO) terluas ke-2 di dunia, telah beroperasi penuh sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sejak 2014 dan menjadi MRO terluas kedua di dunia.
Dengan luas area mencapai 30 hektare (300.000 m2) di kawasan Bandara Hang Nadim Batam, BAT akan terus berkembang dan memperluas kapasitasnya untuk memenuhi permintaan pasar. Berikut Fakta-Fakta menarik Batam Aero Technic:
Perluasan Lahan
Fase pengembangan MRO BAT yang direncanakan akan dilaksanakan dari tahun 2012 hingga 2030, menunjukkan perkembangan yang pesat dalam meningkatkan layanan perawatan pesawat di Indonesia. Fase pertama dilakukan pada periode 2012-2019 dengan luas area 1-2 hektare dan memiliki 6 spesifik area pekerjaan MRO yang terdiri dari maintenance hangar, shop, dan warehouse.
Pada fase kedua yang berlangsung pada 2019-2021, area pekerjaan MRO diperluas menjadi 12 hektare dengan tambahan supporting dan public facility. Fase ketiga yang akan berlangsung pada 2022-2024 akan fokus pada pengembangan maintenance hangar dan component shop seluas 7 hektare. Kemudian, pada fase keempat (2022-2024) seluas 7 hektare dan kelima (2025-2027), akan dibangun maintenance hangar seluas 2,5 hektare dan dilengkapi dengan tools dan equipment. Fase keenam pada 2028-2030 seluas 2,5 hektare.
Terluas Kedua di Dunia
Berkembangnya industri penerbangan di seluruh dunia, terutama dalam beberapa dekade terakhir, telah mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan perawatan pesawat atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pesawat yang semakin meningkat. Salah satu indikator dari ukuran dan kemampuan perusahaan MRO adalah luas hangar yang dimiliki BAT, di mana pesawat dapat menjalani perawatan dan perbaikan.
Berikut adalah beberapa perusahaan MRO global terkemuka berdasarkan lokasi dan luas hangar mereka. Lufthansa Technic di Hamburg, Jerman memimpin daftar dengan luas hangar 623,000 m2, diikuti oleh Batam Aero Technic Lion Air Group di Indonesia dengan luas 300,000 m2 dan Delta TechOps di Amerika Serikat dengan luas 280,000 m2. Hong Kong Aircraft Engineering Company (HAECO) di Hong Kong menempati posisi keempat dengan luas hangar 250,000 m2, dan AMECO Beijing di China menempati urutan kelima dengan luas hangar 207,000 m2.
Perusahaan MRO lainnya seperti AAR Corporation di Amerika Serikat, GMF AeroAsia di Indonesia, ST Aerospace di Singapura, Turkish Technic di Turki, SR Technics di Swiss, dan Sabena Technics di Prancis, juga memiliki luas hangar yang besar dan kemampuan yang diakui secara global dalam memberikan layanan perawatan pesawat.
10.000 Tenaga Kerja
BAT diharapkan dapat mendorong perawatan pesawat udara lebih efisien, membantu mengurangi tingkat pengangguran, dan memperkuat daya saing industri MRO Indonesia secara global.
Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan BAT dapat menyerap tenaga kerja berkualitas tinggi yang dibutuhkan bidang aviasi dan dapat menyerap sekitar 10.000 orang pada tahun 2030 dengan proyeksi daya serap 800 hingga 1.000 orang setiap tahun.
Operasi ini merupakan upaya menciptakan dan membangun industri MRO Indonesia berdaya saing di lingkup penerbangan internasional. BAT diharapkan dapat mendorong perawatan pesawat udara lebih efisien. “Kami optimis, membantu kesejahteraan masyarakat, mengurangi tingkat pengangguran, serta memperkuat daya saing industri MRO Indonesia secara global,” papar Danang.
Menghemat Devisa
Selain itu, BAT dapat menghemat devisa 30 persen-35 persen dari kebutuhan MRO maskapai penerbangan nasional senilai Rp26 triliun per tahun yang selama ini mengalir ke luar negeri. Batam Aero Technic juga telah mampu menangani perawatan kecil, sedang, dan besar pada berbagai jenis pesawat, termasuk Airbus 320 series, Boeing 737 series, Airbus 330 series, Hawker 800/900 XP, ATR 72 500/600, dan tipe pesawat lainnya.
“Dengan adanya BAT sangat memungkinkan mencetak tenaga kerja professional dan berkualitas tinggi yang dibutuhkan bidang aviasi dan dinilai penting bagi keberlanjutan sektor penerbangan secara keseluruhan,” jelas Danang.
Diakui Internasional
BAT telah memperoleh beberapa sertifikat resmi MRO dari berbagai negara, seperti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia, The Civil Aviation Authority of Thailand, The Civil Aviation Authority of Malaysia, The United States Department of Transportation, Director of Civil Aviation – Amerika Serikat, Director of Civil Aviation Bailiwick of Guernsey (Eropa), dan The Federal Aviation Administration US – Amerika Serikat.
Diharapkan kemampuan dan kapabilitas BAT akan dapat memenuhi permintaan pasar Asia Pasifik yang tumbuh dengan rata-rata 12.000 unit pesawat udara dengan nilai bisnis berkisar USD100 miliar pada 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: Tangkap Pasar Perbaikan Pesawat Asia-Pasifik, Batam Aero Technic Kian Ekspansif
Penulis: Candra Gunawan










