Barcelona, Antara Tumpukan Utang dan Sang Mesiah

Krisis keuangan barcelona
Lionel Messi. (foto: Reuters)

Klub sepak bola terkaya di dunia sedang bergelut dengan krisis keuangan. Salah siapa?

Batam (Gokepri.com) – Rencana Barcelona yang sudah disiapkan dengan matang tiba-tiba berantakan setelah negosiatornya masuk ruangan sebuah hotel.

Pada musim panas, para petinggi Barcelona datang ke salah satu hotel paling eksklusif di Monte Carlo, Monaco. Mereka bertemu dengan perwakilan klub asal Jerman, Borrussia Dortmund, untuk bernegosiasi membeli pemain muda paling prospektif di Eropa; Ousmane Dembele.

Barcelona sudah keukeh dengan harga Dembele senilai USD96 juta. Tidak bisa lebih tapi boleh kurang seandainya Dortmund berbaik hati sore itu. Sebelum masuk ruangan, para eksekutif Barcelona sudah menyusun strategi dan memantapkan hati; jangan terima kalau Dortmund menaikkan harga, tak peduli seberapa keras Dortmund menekan.

Sudah mantap, dua orang petinggi Barcelona itu berjalan menuju ruangan suite yang sudah dipesan orang Jerman. Sebelum mengetuk pintu, mereka menghembuskan napas dalam-dalam dan berharap negosiasi berjalan sesuai strategi.

Tapi strategi cermat mereka buyar seketika. Baru membuka pintu, perwakilan Dortmund sudah langsung bicara. Mereka harus buru-buru pergi ke Jerman karena harus mengejar pesawat.

Dortmund tak mau basa-basi dengan tamunya dan seakan-akan tak mau bernegosiasi.

Jika Barcelona menginginkan Dembele, mereka harus membayar kira-kira dua kali lipat dari estimasi awal: USD193 juta!.

Harga itu akan membuat pemain Prancis berusia 20 tahun itu menjadi pemain sepak bola termahal kedua dalam sejarah.

Presiden Barcelona, ​​Josep Maria Bartomeu, tercengang di ruangan mewah itu. Tak ada pilihan, sekarang atau tidak sama sekali.

Tanpa pikir panjang, Bartomeu dengan cepat mengatakan oke dan membayar USD127 juta sebagai uang muka. Sisa USD50 juta belakangan karena klausul seberapa bagus performa Dembele nanti atau biasa disebut Add-On.

Kesepakatan membeli Dembele beberapa minggu setelah pemain pentingnya, Neymar, dibeli Paris St Germain (PSG). Bartomeu tak mau penggemar Barcelona galau terlalu lama setelah Neymar hengkang karena ia pulang dari Monaco dengan tangan hampa. Barca menyanggupi mahar Dembele, sang pengganti Neymar.

Kaya Raya Dulu, Utang Kemudian

Barcelona dalam 10 tahun terakhir adalah contoh bagaimana klub olahraga berhasil secara komersil dan di lapangan. Abad ini adalah milik Barcelona. Sukses di lapangan, kaya raya di luar stadion.

Krisis keuangan Barcelona
Foto: Getty Images

Barcelona adalah klub olahraga pertama dan satu-satunya yang bisa meraup pendapatan tahunan lebih dari USD1 miliar.

Setiap laga, stadion ikonik Camp Nou selalu penuh hampir 100.000 orang yang rela membayar iuran sebagai anggota klub.

Tapi kini berubah. Barcelona ibarat sedang berdiri di tepi jurang karena krisis keuangan. Salah sedikit saja, mereka jatuh ke bawah. Kita bisa belajar dari kesuksesan Barcelona di lapangan, tapi kini juga bisa mengambil pelajaran dari situasi klub terkaya di dunia ini.

Siapa yang salah? Sebagian telunjuk mengarah ke manajemen. Selama bertahun-tahun, petinggi Barcelona kerap mengambil keputusan terburu-buru dan menyetujui kontrak pemain tanpa perhitungan.

Selama bertahun-tahun pendapatan Barcelona memang melonjak dan mampu mengatasi utang-utang. Tetapi virus corona sekarang telah mengubah perhitungan.

Mengutip pernyataan dewan direksi Barcelona dari New York Times, pandemi telah menggerus pendapatan klub lebih dari USD500 juta. Manajemen pusing tujuh keliling karena tagihan gaji pemain Barcelona adalah yang tertinggi di Eropa.

Utang yang jatuh tempo juga sulit dibayar. Masalah besarnya, bunga pinjaman itu menggunung. Utang Barcelona kepada krediturnya membengkak.

Hasilnya, klub terkaya ini sekarang menghadapi krisis keuangan yang parah. Situasi makin kusut karena pemilihan presiden yang kontroversi. Lionel Messi juga kemungkinan hengkang karena tak kunjung tanda tangan kontrak perpanjangan.

Sulit menemukan pangkalnya, selain pandemi. Tapi kasus pembelian Dembele yang buru-buru menjadi salah satu bagian bagaimana Barcelona jadi seperti sekarang.

Neymar boleh laku seharga USD222 juta tapi pembelian Dembele menyedot pendapatan besar itu.

Dortmund cermat dan paham situasi. Seperti klub lain, mereka tahu Barcelona punya banyak uang sehingga merasa wajar saja mereka menaikkan harga pemain. “Barcelona punya posisi negosiasi yang lebih lemah,” ujar Jodri Moix, mantan wakil presiden Barcelona untuk urusan finansial.

Barcelona kini lebih basar pasak dari tiang. Situasinya pelik. Total utangnya kepada bank, otoritas pajak, klub lain dan pemainnya sendiri sudah lebih dari 1,1 miliar Euro. Lebih dari 60 persen utang jangka pendek, paling besar dari klub manapun di Eropa.

Belum lagi membayar gaji pemainnya yang sudah masuk daftar tunggu. Menurut Carles Tusquets, presiden sementara sejak Bartomeu digulingkan tahun lalu, tagihan gaji tahunan Barcelona sebesar USD771 juta , atau 74 persen dari total pendapatan tahunan. “Ini sangat banyak,” kata Tusquets.

Kesuksesan Barcelona ibarat pisau bermata dua. Semakin menang dan juara, semakin besar pula pengeluaran. Pemain meminta kenaikan gaji dan bonus.

Apalagi sejumlah pemain di Barcelona ibarat karyawan tetap. Sebut saja Lionel Messi, Gerard Piqué, Sergio Busquets dan Jordi Alba yang sudah dianggap jiwanya klub. Mereka bukti nyata sukses dari bawah, dari akademi klub La Masia ke tim utama. Punya pengaruh besar di antara pemain bahkan klub.

Salah satu calon presiden Barcelona punya cukup nyali menerangkan masalah pemain ini. “Jelas kurangnya kepemimpinan, kepemimpinan dewan klub yang takut untuk mengatakan tidak, adalah salah satu hal utama yang perlu dihindari di masa mendatang,” kata Víctor Font, salah satu kandidat untuk menjadi presiden klub. Pemilihan presiden Barcelona akan berlangsung pada bulan Maret. “Upah sudah terlalu tinggi,” sambung dia.

Pelik memang. Ketika pendapatan klub USD1 miliar, tapi gaji pemain sudah USD700 juta. Gaji pemain bisa saja dikurangi, tapi apa Barcelona mau pemainnnya hengkang?. “Kami tidak punya ruang untuk menyimpang pendapatan, sementara pemain ini adalah tulang punggung tim. Kalau kami tidak menuruti kesepakatan dengan pemain, mereka akan pergi,” papar Moix.

Moix mengakui Bartomeu dan dewan direksi melakukan kesalahan, tetapi dia yakin situasi ini di luar kendali mereka yang akhirnya membuat klub malah kehilangan kendali.

Dalam laporan keuangan terbarunya, Barcelona mengumumkan kerugian tahun ini sebesar USD117 juta. Diperkirakan sudah kehilangan USD246 juta akibat pandemi. Total kerugian diperkirakan bisa mencapai USD600 juta.

Pada saat yang sama, utang Barcelona kepada lembaga keuangan dan klub lain telah meningkat sebesar USD327 juta. Angka ini bisa membengkak pada 2021.

Makin kusut karena sektor pendapatan dari kunjungan turis juga tak bisa diharapkan.
Kunjungan stadion dan museumnya sebagai dua tujuan wisata paling populer di Spanyol, kemungkinan akan tetap tertutup bagi pengunjung setidaknya selama sisa musim ini.

Sang Mesiah

Pemain adalah segalanya. Setidaknya inilah yang dipegang Barcelona. Lihat saja Lionel Messi, sang mesiah yang membawa Barcelona ke puncak selama satu dekade terakhir.

Krisis keuangan Barcelona
Mantan Presiden Barcelona Joseph Bartomeu saat perpanjangan kontrak Lionel Messi pada 2017. (foto: Barcelona)

Barcelona betul-betul mendewakan Messi. Menurut laporan surat kabar Spanyol, berkas kontrak Messi pada 2017 sebanyak 30 halaman.

Angkanya menggiurkan. Mendantangani kontrak perpanjangan saja, Messi dapat bonus USD139 juta. Lalu ada bonus loyalitas USD93 juta. Totalnya bersama semua klausul, USD675 juta!. Belum lagi gaji tahunan Messi yang mencapai USD132 juta.

Angka-angka dalam berkas kontrak Messi itu dibocorkan ke publik lewat sebuah surat kabar.

Ronald Koeman, pelatih Barcelona, ​​meminta siapa pun yang terbukti bertanggung jawab membocorkan kontrak harus dipecat. Klub mengancam akan mengambil tindakan hukum.

Messi, juga, sangat marah dengan apa yang dia anggap sebagai upaya untuk menyabot posisinya di klub.

Hubungan Messi dengan Barcelona telah tegang selama beberapa waktu. Tapi musim panas lalu, setelah musim ketiga berturut-turut mengecewakan dan sejarah memalukan 8-2 di Liga Champions, frustrasi Messi memuncak dan dia memberi klub pemberitahuan resmi bahwa dia bermaksud untuk mengakhiri kontraknya dan pergi.

Bartomeu menolak permintaan Messi. Jika ada pembeli yang ingin merekrut Messi, katanya, harus mengeluarkan uang.

Enam bulan kemudian, masa depan Messi tidak lagi pasti. Kesepakatannya berakhir pada bulan Juni 2021.

Sejak 1 Januari, dia bebas menyetujui pindah musim panas ini ke klub mana pun di luar Spanyol.

Dalam wawancara televisi bulan lalu, dia mengatakan akan menunggu sampai musim berakhir sebelum membuat keputusan apa pun. “Jika saya pergi. Saya ingin pergi dengan cara yang terbaik.”

Meski sebenarnya tidak enak rasanya membiarkan Messi pergi, tapi internal Barcelona merasa kepergian Messi bisa menolong Barcelona dari tepi jurang.

Krisis keuangan Barcelona
Victor Font. (Reuters)

Masalahnya, hanya ada beberapa klub di dunia yang mampu memenuhi gaji dan ambisinya Messi, dan tidak ada yang mau membayar mahal untuk pemain yang mungkin bisa mereka dapatkan secara gratis musim panas ini.

Terlepas dari itu, menurut Moix, penetapan harga untuk Messi tidak realistis. “Apakah kami akan menjual Messi seharga 100 juta euro,” katanya.

Jelang pemilihan presiden klub semakin dekat, setiap kandidat mencoba memposisikan dirinya sebagai satu-satunya kandidat dengan solusi untuk krisis keuangan.

Pilihan membiarkan Messi pergi mungkin menyelesaikan banyak masalah dan memberikan nafas neraca keuangan Barcelona.

Tapi Messi juga mampu menghasilkan pemasukan dari komersial. Victor Font, salah satu kandidar presiden Barcelona malah mau menawarkan Messi dengan kontrak seumur hidup bahkan setelah pensiun sebagai pesepakbola.

(Can)

|Baca Juga: Barcelona Kembali Pangkas Gaji Pemain dan Staf

BAGIKAN