Pemilik penampungan arang bakau di Batam bisa meraup ratusan juta rupiah untuk sekali ekspor. Pembelinya adalah penduduk negara-negara maju.
Penulis: Engesti
BATAM – Puluhan tahun bergelut dengan bisnis arang, Junaidi akhirnya bisa memiliki usaha sendiri. Tujuh tahun lalu ia mendirikan perusahaan jual beli arang dengan bendera PT Makmur Persada. Bisnisnya berkembang pesat sampai berencana ekspansi mendirikan dapur produksi di luar Batam.
“Saya hanya menyediakan dokumen ekspor,” ungkap Junaidi, baru-baru ini. Bisnis yang digeluti Junaidi adalah membeli arang jadi kemudian mendapat untung dengan dijual ke pembeli dari sejumlah negara. Ia menyiapkan gudang atau tempat penampungan arang di kawasan Sembulang, Pulau Galang, Kota Batam. Dari gudangnya kemudian arang bakau ini diekspor.
Junaidi tak merinci berapa keuntungannya tapi ia menyebut bisa sampai ratusan juta rupiah untuk sekali kirim ke luar negeri. Arang bakaunya berasal dari lokasi produksi di luar Batam yang ia sebut sebagai dapur arang.
“Arang bakau ini dari Meranti, Lingga dan Karimun,” sebut Junaidi. Arang bakau Junaidi diekspor ke Jepang, Taiwan, Singapura, Hong Kong hingga Arab Saudi. Dalam satu bulan, ia bisa mengirim sampai setidaknya 30 kontainer atau sekitar 24 ribu karung arang bakau.
Junaidi membeli satu karung bakau dengan harga berkisar Rp5.000. Untuk ukuran 30 kontainer berisi 24 ribu karung, modal Junaidi sebesar Rp120 juta. Tapi ia enggan menyebut berapa harga per karung yang ia jual untuk ekspor. “Kalau dijual lagi bisa banyak (untung),” kata Junaidi.
Junaidi bahkan berencana ekspansi tak hanya sebagai eksportir. Ia ingin memiliki dapur arang sendiri. Lokasinya di Tambelan, sebuah kecamatan di Kabupaten Bintan. “Sudah dibangun, sudah dapat izin juga. Kalau ini saya produksi sendiri,” kata Junaidi.
Junaidi sudah bekerja puluhan tahun di usaha arang bakau. Tetapi yang usahanya sendiri PT Makmur Persada ini baru berlangsung tujuh tahun. “Arang bakau ini untuk diluar negeri sebagai barbekyu,” katanya.
Junaidi mengatakan kualitas kayu bakau lebih bagus daripada kayu biasa. “Kami ekspornya melalu pelabuhan Sekupang dan Batuampar,” sebut dia.
Gudang milik Junaidi di Sembulang menjadi salah satu lokasi yang disegel oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena ditengarai arangnya berasal dari aktivitas pembabatan hutan mangrove. Sampai ada keputusan final, usaha Junaidi dan 10 tempat lain dilarang beraktivitas.
Nilai Ekonomis Arang
Arang adalah produk hasil sisa dari proses pembakaran kayu atau bahan organik lainnya. Meskipun dulunya dianggap sebagai sampah, arang kini diakui sebagai sumber daya ekonomis yang penting.
Arang memiliki banyak manfaat ekonomi, di antaranya sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan sumber energi yang relatif murah. Arang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik, industri besi dan baja, dan pabrik semen. Arang juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi karbon aktif, yang digunakan dalam pengolahan air dan pengolahan limbah industri.
Selain itu, arang juga memiliki nilai ekonomi dalam industri kehutanan. Arang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi pupuk organik, yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Arang juga dapat digunakan sebagai bahan baku untuk produksi briket arang, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif bagi masyarakat pedesaan yang tidak memiliki akses ke listrik.
Di beberapa negara, arang juga diakui sebagai sumber daya ekonomi yang penting dalam industri pariwisata. Contohnya, di Jepang, arang dikenal sebagai sumber daya ekonomi yang penting dalam industri pariwisata pemandian air panas alami.
Secara umum, arang memiliki banyak manfaat ekonomi yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai sektor industri. Namun, untuk dapat memanfaatkan arang secara optimal, diperlukan pengelolaan yang baik dan terencana, serta kesadaran akan pentingnya arang sebagai sumber daya ekonomi yang berharga.
***
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: Mendadak Segel Bisnis Arang Bakau









