Antre di Sistem Resmi, Warga Pilih Tukar Uang Baru Lewat Media Sosial

Suku bunga acuan 2024
Kasir merapikan setumpuk uang rupiah di money changer, Jakarta. Foto: REUTERS

BATAM (gokepri) — Kuota penukaran uang resmi cepat habis menjelang Lebaran. Warga Batam kini beralih ke jasa tukar berbayar yang ramai ditawarkan di media sosial.

Selama Ramadan dan menyambut Idulfitri 1447 Hijriah, kebutuhan uang pecahan baru meningkat. Namun tidak semua warga berhasil mendapat kuota melalui layanan resmi Bank Indonesia.

Di media sosial, sejumlah warga menawarkan jasa penukaran uang dengan biaya administrasi Rp10 ribu hingga Rp12 ribu untuk setiap Rp100 ribu. Bagi sebagian orang, biaya itu dianggap wajar demi menghindari antrean dan kegagalan sistem.

HBRL

Baca Juga: Tukar Uang Pecahan Baru Jelang Lebaran, Cek Syaratnya

Ade, warga Nongsa, mengaku sempat mencoba mendaftar melalui laman PINTAR milik Bank Indonesia. Ia gagal karena kuota sudah penuh.

“Daftarnya cukup lama. Kalau sekali gagal harus ulang dari awal, akhirnya kehabisan kuota. Jadi kemungkinan saya tukar lewat yang di media sosial saja,” ujarnya, Senin 23 Februari 2026.

Menurut dia, semakin mendekati Lebaran, semakin banyak penawaran serupa dengan tarif yang bervariasi. Ia memperkirakan biaya bisa meningkat seiring tingginya permintaan. “Kalau sudah ada uang, lebih baik ditukar sekarang. Tapi saya juga menunggu THR suami cair dulu,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan tingginya kebutuhan uang tunai saat Lebaran—tradisi yang belum sepenuhnya tergantikan oleh transaksi digital.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Ronny Widijarto, mengingatkan masyarakat agar menukar uang melalui lembaga resmi seperti perbankan atau layanan kas keliling BI untuk memastikan uang yang diterima asli.

Ia juga mendorong masyarakat dan pelaku usaha lebih banyak memakai transaksi non-tunai seperti QRIS selama Ramadan. “Supaya lebih praktis dan aman, baik pedagang maupun masyarakat sebaiknya memanfaatkan transaksi non-tunai. Sekarang penggunaannya sudah sangat mudah,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang tetap bertransaksi tunai, Ronny mengingatkan metode 3D—Dilihat, Diraba, dan Diterawang—untuk mengenali keaslian uang. Menurut dia, ciri uang palsu biasanya mudah dikenali. “Tingkat kemiripannya tidak sampai 25 persen. Dengan 3D saja sudah bisa dikenali,” katanya.

BI Kepri terus berkoordinasi dengan perbankan dan aparat penegak hukum untuk mengantisipasi peredaran uang palsu, terutama saat aktivitas ekonomi meningkat menjelang pembagian THR dan belanja kebutuhan Lebaran.

Baca Juga: BI Kepri Ajak Masyarakat Tukar Uang di Tempat Resmi, Ini Jadwal dan Lokasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait