Padang (gokepri.com) – Ranah Minang terkenal sebagai tujuan wisata kuliner di tanah air.
Setiap nagari di Sumatera Barat memiliki makanan khas sendiri.
Tentu saja, makanan khas Ranah Minang akan mudah dijumpai di pasar, salah satunya adalah di Lakaik, Pitalah, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.
Lakaik awalnya disebut Balai Akaik. Balai berarti pasar sementara Akaik yang berarti Akad atau Ahad.
Artinya, Lakaik berarti pasar yang dibuka atau ramai setiap hari Ahad.
Memang benar, setiap hari Ahad, pasar yang berada di jalan raya Padangpanjang-Solok atau sebelum Danau Singkarak ini memang ramai dikunjungi masyarakat setiap Ahad.
Umumnya, yang datang ke Lakaik adalah masyarakat yang berasal dari enam Jorong di Nagari Bungo Tanjuang, seperti Jorong Jambak, Ampia Rayo, Kapuah, Padang Kunyik, Haru, Guguak Nyariang dan Balai Akaik.
Bukan hanya warga setempat, pasar tersebut juga ramai dikunjungi oleh masyarakat daerah lain karena berada di jalan raya yang menghubungkan Padangpanjang dan Solok.
Ketika sudah memasuki hari Ahad, pasar tersebut akan menjadi tujuan transaksi jual beli bagi masyarakat se antero negeri. Pasar itu sudah mulai dibuka sejak pagi hari.
Beragam macam yang dijual masyarakat setempat di pasar itu, mulai dari hasil kebun atau pertanian masyarakat, termasuk juga hasil hutan di daerah itu seperti Sijangkang atau Kincuang, Mauang, Puduang atau lainnya.
Hasil kebun tersebut memang berasal dari hutan di daerah setempat dan sekarang mulai langka diperjualbelikan karena memang pohon sebagai sumbernya juga sudah mulai jarang ada.
Kalaupun ada, paling tumbuhnya makin jauh ke tengah hutan.
Selain hasil kebun, di Lakaik juga ditemukan berbagai makanan khas tradisional ranah Minang seperti Lapek, Pinukuik, Ketan Jaguang, Ketan Gandum termasuk Karupuak Pitalah hingga Katupek Pitalah yang terkenal itu.
Namanya saja makanan tradisional, tentu saja harganya juga sangat murah meriah.
“Kami sengaja datang dari Siak untuk berburu wisata kuliner di Lakaik ini,” ujar Santi, warga Jorong Ampia Rayo, Nagari Bungo Tanjuang, Kabupaten Tanah Datar namun sudah sekitar 10 tahun menetap di Kabupaten Siak, Riau.
Santi yang datang bersama keluarga besarnya sengaja memesan makanan khas Minang seperti Tambusu (Pangek Usus) dan berbagai penganan tradisional lainnya.
“Makanan tardisional di sini enak-enak dan harganya sangat murah,” pungkas Santi.
Penulis: Ilfitra









