KONSUMSI LISTRIK DI BATAM: Haus Listrik Bisnis Pusat Data

Pusat data KEK Nongsa
Nongsa Digital Park. (Foto: istimewa)

Batam (gokepri.com) – Konsumsi listrik di Batam tak akan melulu diserap industri manufaktur. Pemakaian setrum dalam skala jumbo dibutuhkan pebisnis data center atau pusat data. Kebutuhannya diproyeksi setara beban puncak Batam hari ini.

Perkiraan kebutuhan listrik untuk bisnis pusat data di Batam itu sudah dipetakan PT bRight PLN Batam. Pemetaan itu mengkalkulasikan keberadaan investasi pusat data di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa di Nongsa Digital Park (NDP).

NDP dalam beberapa tahun terakhir menjadi magnet investasi data center dari perusahaan global. Bisnis ini butuh listrik dalam skala jumbo.

HBRL

“Rencana beban yang masuk cukup besar,” ungkap Direktur Utama PT bRight PLN Batam Nyoman Astawa dalam webinar Regional Energy Outlokk 2022: The Sustainable Energy, Prospect and Challenges yang dihelat portal berita Regional.co.id yang bermitra dengan gokepri.com dan READ pada Rabu 13 April 2022.

PLN Batam memetakan setidaknya kebutuhan listrik untuk fasilitas pusat data di NDP saja mencapai sekitar 449 megawatt hingga 2030 mendatang.

Anak perusahaan PT PLN Persero ini menghitung kebutuhan listrik data center secara per tahun dari kebutuhan listrik akses data internet per satu instalasi yang kemudian diperkirakan dengan beban puncak.

Berdasarkan data PLN, kebutuhan listrik itu berasal dari 10 investor data center tapi satu investor belum menghitung kebutuhan listriknya. Data dirangkum dari investor data center langsung dan NDP.

Untuk data center yang eksisting sekarang saja sudah menyerap 43 MW. Dalam hitungan tiga bulan, bebannya mencapai 90 persen yang kemudian naik lagi menjadi 100 MW.

Nyoman menyebutkan tingginya kebutuhan listrik di KEK NDP menunjukkan potensi permintaan jangka panjang di kawasan tersebut.

“Proyeksi kebutuhan listrik di NDP dalam delapan tahun sebesar 449 MW hampir setara dengan pelayanan listrik di Pulau Batam selama 22 tahun. Ini jadi peluang bagi PLN Batam, kami harus segera menambah kapasitas pembangkit,” ujarnya.

Bisnis pusat data diketahui membutuhkan pasokan energi sangat besar untuk menopang keandalan pelayanan data. Proyeksi tersebut dibuat oleh pengelola data centre dan NDP sebagai bahan bagi PLN Batam dalam perencanaan pengembangan pasokan energi pada masa datang.

Pada November 2021 lalu, Global Data Solution (GDS) Ltd, asal China telah menandatangani perjanjian definitif dengan pengelola Nongsa Digital Park dalam rencana pembangunan pusat data berkapasitas 28 megawatt di atas lahan 10.000 meter persegi atau kurang lebih satu hektar.

Sebelumnya, pada Oktober 2021, Data Centre First asal Singapura juga telah lebih dulu memastikan rencana investasi pusat data di NDP dengan investasi senilai US$40 juta untuk fase pertama Nongsa One DC Campus dengan kapasitas 30 MW di atas lahan 25.700 meter persegi. Proyek tersebut rencananya akan mulai beroperasi pada awal 2023 mendatang.

Sebelumnya, Mike Wiluan, CEO, Nongsa Digital Park, menyatakan gembira menyambut kehadiran Data Center 30 MW milik Data Centre First dalam ekosistem perusahaan digital yang tengah berkembang dan terbentuk di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa.

Selain dua perusahaan itu, ada beberapa perusahaan pusat data lain yang akan masuk Batam antara lain Damac Group Dubai, Aesler Group-Huawei hingga Etisalat-Telkom.

Berdasarkan catatan gokepri.com, setidaknya ada 20 operator pusat data yang menimbang membuka kantor di taman teknologi Nongsa Digital Park di Pulau Batam, tak lama setelah Presiden Joko Widodo mengesahkan PP KEK Nongsa. PP itu sudah diserahkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pekan lalu sebagai simbol dimulainya era KEK di FTZ Batam.

Pangsa pasar pusat data terbilang menjadi bisnis “basah”. Menurut laporan lembaga riset Technavio pada Maret 2020, pasar pusat data di Asia Tenggara saja bisa tumbuh USD10,57 miliar atau senilai Rp143 triliun antara 2019 hingga 2023.

Alhasil, pemerintah Indonesia bisa meraup peningkatan pendapatan dari sektor ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Sabtu lalu, mengatakan pemerintah terus mendorong realisasi investasi, khususnya data center, sebagai upaya meningkatkan dan mengembangkan ekonomi digital.

Saat penyerahan PP KEK Nongsa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan sejauh ini yang sudah konfirmasi langsung untuk investasi USD300 juta di sana. Prospektif sekitar USD1,5 miliar.

Target pemerintah pusat USD4 miliar. Dengan target 400 megawatt data center. Sehingga KEK Nongsa bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dan juga bisa membantu pengembangan sektor pariwisata dengan monitoring bagi keamanan wisatawan.

KEK Nongsa seluas 166.45 hektare memiliki target investasi sebesar Rp16 triliun dan penciptaan lapangan pekerjaan 16.500 tenaga kerja. KEK ini akan dikembangkan untuk kegiatan berbasis IT- digital dan pariwisata.

Penulis: Candra Gunawan

Pos terkait