KEK Nongsa Membuahkan Hasil, Batam Ramai Dilirik Operator Pusat Data

KEK Nongsa Digital Park
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyerahkan PP 68/2021 tentang KEK Nongsa kepada pemilik Citramas Group Kris Taenar Wiluan di Nongsa Digital Park, Kota Batam, 8 Juni 2021. (Foto: istimewa)

Batam (gokepri.com) – Penetapan kawasan ekonomi khusus Nongsa Digital Park di Batam membuahkan hasil. Baru disahkan lewat Peraturan Pemerintah, sederet operator pusat data ramai-ramai memilih Batam sebagai basis kantornya.

Setidaknya ada 20 operator pusat data yang menimbang membuka kantor di taman teknologi Nongsa Digital Park di Pulau Batam, tak lama setelah Presiden Joko Widodo mengesahkan PP KEK Nongsa. PP itu sudah diserahkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pekan lalu sebagai simbol dimulainya era KEK di FTZ Batam.

“Sebagian besar dari mereka menunggu KEK diwujudkan dan sudah memulai percakapan awal tahun ini,” ujar Direktur Eksekutif Senior Nongsa Digital Park Marco Bardelli seperti dikutip dari Harian The Straits Times.

HBRL

“Kami telah menandatangani dengan satu pihak dan saya melakukan dialog. Pada tahap yang berbeda, sekarang dengan 19 pihak pusat data,” sambung dia.

Pangsa pasar pusat data terbilang menjadi bisnis “basah”. Menurut laporan lembaga riset Technavio pada Maret 2020, pasar pusat data di Asia Tenggara saja bisa tumbuh USD10,57 miliar atau senilai Rp143 triliun antara 2019 hingga 2023.

Alhasil, pemerintah Indonesia bisa meraup peningkatan pendapatan dari sektor ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Sabtu lalu, mengatakan pemerintah terus mendorong realisasi investasi, khususnya data center, sebagai upaya meningkatkan dan mengembangkan ekonomi digital.

Bardelli mengatakan sekitar 25 hektare taman, atau area seukuran Kebun Binatang Singapura, telah dialokasikan untuk mengembangkan pusat data pada tahap pertama, dengan rencana perluasan di masa depan di Nongsa Digital Park.

Eksistensi kawasan teknologi itu didukung pula dengan adanya 13 segmen kabel serat optik bawah laut internasional yang mendarat hanya 2,5 km jauhnya dengan hubungan langsung ke Indonesia, Singapura, dan Pantai Barat Amerika Serikat.

Infrastruktur ini akan menjadikan Nongsa Digital Park sebagai sebagai lokasi potensial bagi operator yang ingin menargetkan pasar Asia-Pasifik.

Sementara itu operator pusat data mengatakan kepada The Straits Times bahwa Batam relatif terlindung dari bencana alam, secara geografis dekat dengan Singapura, dan menyediakan akses ke pasar besar berpenduduk 270 juta orang.

Darren Webb, kepala eksekutif Pusat Data Evolusi start-up yang berbasis di Singapura, juga menyebutkan alasan seperti adanya moratorium pembangunan pusat data baru di Singapura serta meningkatnya penggunaan data karena lebih banyak orang bekerja dari rumah dan berbelanja online selama pandemi.

“Data hanya booming karena orang sekarang (clocking) lebih banyak screen time,” katanya.

“Ini hampir seperti badai sempurna yang telah diciptakan, yang membuat Nongsa lebih menarik dan relevan sekarang daripada dua atau tiga tahun lalu.”

Kavin Wong dari Singapura, kepala eksekutif Data Center First, mengatakan dia telah membeli 2,75 hektare lahan di Nongsa Digital Park untuk membangun beberapa pusat data yang disesuaikan untuk klien seperti bank, perusahaan telekomunikasi dan bisnis e-commerce.

Wong mengatakan pertumbuhan pasar pusat data diperkirakan akan meningkat di wilayah tersebut, mendorong permintaan untuk “pusat data tepi” yang terletak lebih dekat ke pengguna akhir sehingga mereka dapat memperoleh manfaat dari latensi yang lebih rendah, keamanan yang lebih tinggi, dan kontrol yang lebih besar atas data mereka.

Semua data center di Indonesia yang saat ini berada di ibu kota Jakarta, dan Batam akan semakin menonjol seiring berkembangnya pusat bisnis di kota-kota di pulau Sumatera seperti Palembang, Medan dan Pekanbaru.

“Kota-kota ini sangat jauh dari Jakarta, tetapi lebih dekat ke Batam. Meskipun lokasinya strategis dan kecepatan jaringan yang lebih cepat dari Batam, orang, bahkan orang Indonesia, cenderung menganggap pulau itu sebagai desa nelayan kecil,” kata Wong, yang bekerja di sebuah pusat data di Jakarta selama beberapa tahun.

Dia menambahkan bahwa Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura telah mendukung bisnis Singapura, termasuk pusat data, di taman digital.

Memperlakukan Indonesia sebagai mitra bisnis daripada pesaing akan membawa keuntungan yang lebih besar bagi kedua negara, kata Wong, menambahkan: “Ini tentang memperluas kue, bukan berbagi kue.”

Saat penyerahan PP KEK Nongsa, Airlangga Hartarto menyatakan sejauh ini yang sudah konfirmasi langsung untuk investasi USD300 juta di sana. Prospektif sekitar USD1,5 miliar.

Target pemerintah pusat USD4 miliar. Dengan target 400 megawatt data center. Sehingga KEK Nongsa bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dan juga bisa membantu pengembangan sektor pariwisata dengan monitoring bagi keamanan wisatawan.

KEK Nongsa seluas 166.45 hektare memiliki target investasi sebesar Rp16 triliun dan penciptaan lapangan pekerjaan 16.500 tenaga kerja. KEK ini akan dikembangkan untuk kegiatan berbasis IT- digital dan pariwisata. (Can/The Straits Times)

|Baca Juga: KEK Nongsa Mercusuar Digital Ekonomi Nasional dan Mancanegara

Pos terkait