Permintaan angkutan laut terus tumbuh. Pemerintah menargetkan TKDN kapal mencapai 40 persen.
JAKARTA (gokepri) – Nilai impor produk kapal Indonesia masih melampaui ekspor hingga sekitar US$770 juta. Pemerintah menyiapkan peta jalan industri perkapalan untuk memperkuat kapasitas galangan dan meningkatkan penggunaan komponen lokal.
Kesenjangan perdagangan itu menjadi salah satu tantangan industri perkapalan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan angkutan laut. Sepanjang 2022 hingga Juni 2026, ekspor produk kapal, perahu, dan bangunan terapung mencapai sekitar US$4,53 miliar, sedangkan impornya mencapai US$5,30 miliar.
Kementerian Perindustrian tengah menyusun peta jalan industri perkapalan nasional untuk periode pengembangan mendatang. Pemerintah ingin menetapkan sasaran yang terukur dan realistis agar industri ini mampu memenuhi kebutuhan armada nasional sekaligus meningkatkan daya saingnya.
Baca Juga: Tragedi Kapal MT Federal II Jadi Alarm K3 Galangan Kapal
“Sejalan dengan dinamika industri dan kebutuhan armada nasional, Kementerian Perindustrian saat ini sedang menyiapkan Peta Jalan Industri Perkapalan Nasional,” kata Menteri Perindustrian dalam pengukuhan pengurus Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) masa bakti 2026–2030 di Jakarta, Selasa 20 Oktober 2026.
Pemerintah tidak hanya ingin menambah kapasitas galangan kapal, tetapi juga memperkuat tenaga kerja, penguasaan teknologi, dan penggunaan komponen dalam negeri. Pengembangan teknologi ramah lingkungan, termasuk penggunaan bahan bakar gas dan elektrifikasi kapal, juga masuk dalam arah kebijakan tersebut.
Pada periode 2026–2030, pemerintah menargetkan galangan kapal, terutama di luar Pulau Jawa dan Batam, mampu membangun kapal dengan kapasitas hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT). Kapasitas pembangunan kapal tanker ditargetkan mencapai 60.000 DWT, sedangkan kapal penumpang ditargetkan mampu mengangkut hingga 2.000 orang.
Pemerintah juga mendorong pembangunan kapal khusus untuk sektor minyak dan gas serta pertahanan. Untuk mengurangi dampak lingkungan, industri diarahkan mengembangkan teknologi liquefied natural gas (LNG), liquefied petroleum gas (LPG), dan elektrifikasi, dengan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 40 persen.
Potensi pasar industri ini bertumpu pada kebutuhan transportasi di negara kepulauan. Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau, garis pantai lebih dari 99 ribu kilometer, dan sekitar dua pertiga wilayah berupa perairan.
Konektivitas laut berperan dalam distribusi barang, mobilitas penumpang, dan ketahanan logistik. Karena itu, kemampuan membangun dan merawat kapal di dalam negeri berkaitan langsung dengan kebutuhan transportasi serta kelancaran kegiatan ekonomi antardaerah.
Data 2022–2025 menunjukkan aktivitas bongkar barang tumbuh rata-rata 5,41 persen per tahun, sedangkan aktivitas muat barang meningkat 4,11 persen per tahun. Secara keseluruhan, kegiatan bongkar-muat tumbuh 4,85 persen per tahun dan angkutan penumpang meningkat rata-rata 12,66 persen per tahun.
Pertumbuhan itu membuka peluang bagi industri galangan untuk membangun kapal baru, memperbaiki armada, dan memodernisasi kapal yang sudah beroperasi. Namun, peningkatan permintaan belum otomatis membuat galangan nasional mampu memasok seluruh kebutuhan pasar.
Indonesia saat ini memiliki 342 perusahaan galangan kapal yang tersebar di lebih dari 29 provinsi dan 70 kabupaten atau kota. Industri ini juga didukung 127 perusahaan komponen kapal, sekitar 90 persen di antaranya merupakan usaha kecil dan menengah.
Industri galangan kapal menyerap sekitar 37 ribu tenaga kerja, sedangkan industri komponen kapal menyerap sekitar 6 ribu pekerja. Selain itu, terdapat 16.620 tenaga kerja bersertifikat keahlian pengelasan atau welder.
Meski memiliki basis industri dan tenaga kerja, tantangannya bukan sekadar menambah jumlah galangan. Industri juga perlu meningkatkan kapasitas produksi, mutu kapal, produktivitas, ketepatan waktu, dan penguasaan teknologi secara konsisten.
Ketua Umum IPERINDO Anita Puji Utami mengatakan pengukuhan pengurus organisasi untuk masa bakti 2026–2030 menjadi momentum bagi pelaku industri memperkuat komitmen pengembangan sektor perkapalan. Kepengurusan baru itu terbentuk melalui Rapat Umum Anggota pada Agustus 2026.
Anita berharap kepengurusan baru mampu mendorong peningkatan kapasitas dan kemampuan produksi industri perkapalan nasional. IPERINDO juga berkomitmen memperkuat transformasi teknologi, digitalisasi, dan efisiensi operasional agar proses produksi lebih efektif dan kompetitif.
Kesenjangan ekspor dan impor memperlihatkan ruang yang masih dapat digarap industri dalam negeri. Menurut Kementerian Perindustrian, industri perkapalan Indonesia telah mampu menembus pasar ekspor, tetapi masih memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. ANTARA
Baca Juga: Peluang Kerja di Galangan Kapal Batam Terbuka Lebar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







