Warga Rempang Akan Dapat Lahan Garapan untuk Bertani

Festival Transmigrasi 2026 di kawasan Rempang Eco City yang dihadiri Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah dan Kepala BP Batam Amsakar Achmad.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara bersama Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad dalam Festival Transmigrasi 2026 di kawasan Rempang Eco City, Sabtu (10/10/2026). Foto: BP Batam

Warga Rempang akan mendapat lahan garapan sementara. Lahan itu disiapkan sebelum kawasan masuk tahap pengembangan industri.

BATAM (gokepri) – Sebelum lahan Rempang digunakan untuk pengembangan industri, pemerintah menyiapkan lahan garapan sementara bagi warga transmigrasi lokal. Lahan sekitar 20-25 hektare itu diarahkan untuk pertanian dan peternakan agar warga tetap memiliki pekerjaan dan pendapatan.

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan Pemkot Batam dan BP Batam telah menawarkan lahan sekitar 25 hektare untuk kegiatan produktif warga. Lahan itu dapat digunakan sementara sebelum masuk tahap pengembangan industri.

Baca Juga: Dua Ton Ikan Nelayan Rempang Masuk Pasar Batam Tiap Bulan

“Intinya masyarakat harus punya pekerjaan, masyarakat harus punya pendapatan,” kata Iftitah seusai Festival Transmigrasi 2026 di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Minggu (11/10/2026).

Lahan tersebut diarahkan terutama bagi warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani. Mereka dapat kembali mengembangkan usaha pertanian selama kawasan menunggu pengembangan industri.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyebut luas lahan yang telah disiapkan sekitar 20 hektare. Ia berharap lahan itu dapat menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat setempat.

“Ini mudah-mudahan dapat menggerakkan potensi masyarakat kita yang ada di sini,” ujar Amsakar.

Rencana pemanfaatan lahan itu juga mempertimbangkan jenis usaha yang sesuai dengan kondisi Rempang. Iftitah menyebut kelapa sebagai salah satu komoditas yang direkomendasikan peneliti Technical University of Munich (TUM), Jerman, sementara peternakan juga disiapkan sebagai pilihan usaha warga.

Pemerintah mengaitkan penyediaan lahan tersebut dengan rencana pengembangan industri di Rempang. Iftitah mengatakan investasi perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan keterampilan dan kesempatan kerja bagi masyarakat yang sudah tinggal di kawasan itu.

Ads bp batam 2026 baru

“Orang yang sudah di sini jangan sampai terusir, jangan sampai dilupakan,” kata Iftitah.

Kebutuhan lahan garapan tambahan juga dirasakan Muhammad Asli Lubis, warga transmigrasi lokal asal Blongkeng, Pulau Rempang, yang kini tinggal di Tanjung Banon. Selama sekitar tiga bulan terakhir, ia mengembangkan kebun dengan menanam cabai, kangkung, tomat, daun bawang, dan sejumlah sayuran lain.

Dari usaha tersebut, Lubis mengaku sudah memanen sekitar 70-80 kilogram sayuran. Salah satu panen menghasilkan sekitar 40 kilogram daun bawang yang saat itu dijual dengan harga sekitar Rp70.000 per kilogram.

“Daun bawang kemarin harganya lumayan Rp70.000 per kilogram, saya panen 40 kilogram,” ujar Lubis.

Lubis belum dapat memastikan perkembangan pendapatannya karena usaha pertanian itu masih berada pada tahap awal. Ia berharap rencana pemanfaatan lahan sementara segera terealisasi agar warga yang memiliki pengalaman bertani dapat memperluas usaha.

Menurut Lubis, terdapat kemungkinan setiap kepala keluarga mendapat pinjaman lahan sekitar setengah hingga satu hektare. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap pengupayaan.

“Kami mau usaha bertanam-tanam sayuran seperti biasa,” katanya.

Kebutuhan lahan tambahan muncul karena rumah baru warga tidak dirancang sebagai lahan pertanian berskala usaha. Berdasarkan data BP Batam per 13 Mei 2026, sebanyak 242 kepala keluarga atau 842 jiwa telah menempati hunian baru di kawasan Rempang Eco-City.

Hunian tersebut berupa rumah tipe 45 yang berdiri di atas kavling seluas 500 meter persegi. Kavling rumah itu berbeda dengan lahan garapan tambahan yang kini masuk dalam pembahasan pemerintah untuk mendukung kegiatan ekonomi warga.

Peneliti TUM Walter Timo de Vries menilai pekarangan rumah masih dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Namun, luas lahan tersebut belum tentu memadai untuk menghasilkan pendapatan dari kegiatan pertanian.

“Untuk makan sendiri oke, tapi untuk dapat gaji itu kurang,” kata Walter.

Menurut Walter, warga yang memiliki keterampilan bertani membutuhkan lahan lebih luas untuk mengembangkan usaha. Salah satu pilihan yang ia sebut ialah pemanfaatan lahan secara bersama atau komunal. ANTARA

Baca Juga: Empat Rekomendasi untuk Mengembangkan Rempang Eco City

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait