Sebelum Turis dari Singapura Datang, Jadi Turis Dulu di Kota Sendiri

Turis singapura
Natra Bintan. (Foto: Istimewa)

Batam (gokepri.com) – Bisnis pariwisata di Kepri mengandalkan wisatawan lokal agar bisa bertahan. Turis dari negara sendiri akan disuguhi atraksi lokal termasuk event pariwisata yang digarap pemerintah. Staycation tetap jadi tren pelesir tahun ini.

Kehadiran Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Kepri selama dua hari pekan lalu memberikan energi baru bagi Dinas Pariwisata Kepri.

Sandiaga membawa misi menyelamatkan pariwisata provinsi ini, salah satunya dengan cara membuka akses perjalanan terbatas atau travel bubble di luar kesepakatan Green Lane atau Travel Corridor Agreement (TCA).

HBRL

Berulang kali Sandiaga menyatakan pula kunci pemulihan bisnis pariwisata adalah disiplin protokol kesehatan lalu diimbangi dengan adaptasi, inovasi dan kolaborasi sektor pariwisata.

Arahan-arahan dari Sandiaga itu dicatat betul oleh Buralimar, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri. “Kita akan terapkan konsep Pak Sandiaga di Kepri,” ungkap Buralimar di gedung PMI Batam, Senin (25/1/2021).

Arahan Sandiaga ini akan didukung atraksi wisata lokal. Dinas Pariwisata Kepri sudah menggagendakan event-event pariwisata kembali pada 2021 walau masih ada pandemi.

Momennya diyakini pas dengan proyeksi program vaksinasi berhasil dan Covid-19 mereda. Buralimar memperkirakan setidaknya mulai bulan Juni, bisnis pariwisata bisa bergeliat lagi dan masyarakat tidak was-was lagi tertular virus saat piknik.

Faktor lain juga rencana Sandiaga melobi Singapura agar mau memberlakukan Travel Bubble. Kawasan Lagoi, Bintan, sudah dibahas bersama Kementerian di Singapura soal pembukaan akses itu. Kepri sudah mengajukan proposal ke Singapura untuk pembukaan akses Singapura-Bintan pada 2021. Akses ini melibatkan feri teminal Tanah Merah di Singapura dan pelabuhan Bentan Telani di kawasan Bintan Resor Cakrawala.

Semula akses perjalanan Singapura-Bintan akan dibuka awal Februari menjelang Imlek. Namun akhirnya ditunda hingga Maret karena kebijakan nasional. Apalagi Malaysia juga menerapkan PSBB hingga Maret. Dua negara itu selalu menjadi target utama wisatawan mancanegara di Kepri.

Hanya saja Kepri tak lagi mengandalkan turis dari Singapura dan Malaysia karena kebijakan menutup perbatasan masing-masing negara.

“(Singapura) Tidak lagi menjadi target utama. Menjelang pembukaan akses (perjalanan), kita menggarap staycation wisnus (wisatawan nusantara),” ujar Buralimar.

Menggarap wisatawan lokal menjadi langkah realistis mendongrak ekonomi. Masyarakat akan didorong piknik dan menjadi turis di kota sendiri. “Belanja Rp500 ribu sampai Rp1 juta dalam sehari saja sudah membantu ekonomi daerah,” sambung Buralimar.

Mendorong turis dari kota sendiri ini sembari menunggu kejelasan travel bubble.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mengupayakan pembukaan perbatasan secara terbatas dengan Singapura, melalui kebijakan travel bubble, terutama di Bintan dan Batam yang selama ini bergantung pada kunjungan wisman dari Negara Singa.

Pemerintah sudah melangkah jauh karena sudah ada pembicaraan awal dengan Singapura. Bahkan berencana mengundang otoritas penerbit sertifikasi kebersihan di Singapura untuk mengecek protokol kesehatan di Kabupaten Bintan, sebagai upaya menggesa “travel bubble”.

SG Clean merupakan kampanye meningkatkan standar kebersihan publik di tengah pandemi COVID-19 di Singapura. Sertifikat SG Clean diberikan untuk hotel, restoran, tempat wisata dan lainnya yang memenuhi syarat-syarat.

Menurut Buralimar, sertifikasi itu dibutuhkan untuk meyakinkan calon pelancong dari Singapura untuk berlibur di Kepri. Selain itu, demi meyakinkan pelancong Singapura berkunjung, angka penularan COVID-19 harus ditekan selama 21 hari.

Turis Lokal di Bintan

Resor di Bintan seperti Banyan Tree Bintan j mengandalkan turis lokal dari Batam dan Tanjungpinang lewat potongan harga. Sebelum pandemi, rata-rata 95 persen tamu resor di Bintan dari Singapura.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, resort ini baru beroperasi lagi sejak Agustus 2020 dan langsung menurunkan harga demi menarik turis lokal.

“Kami mulai tidak menerima tamu sejak Februari (2020). Buka kembali dan menerima tamu lokal pada pertengahan Agustus seperti tamu dari Batam dan Tanjungpinang,” ujar Room Division Manager Banyan Tree Bintan, Ibnu Maskur seperti dikutip dari Channel News Asia.

Sebagai perbandingan, villa termurah di Banyan Tree sejak dibuka lagi seharga Rp1,75 juta dari harga biasa Rp6 juta. Diskon harga besar-besaran ini telah berhasil membantu Banyan Tree untuk bertahan. Dari 67 villa, 20 di antaranya terisi setiap akhir pekan.

Selain mendapat keuntungan dari diskon kamar, Banyan Tree juga mengadakan bazaar setiap akhir pekan sehingga karyawannya bisa menjual makanan atau oleh-oleh agar mendapat tambahan pendapatan.

Sedangkan di Anmon Bintan, selain diskon harga juga memberikan akses gratis ke fasilitas permainan dan olahraga air. Anmon pun menggarap wisatawan lokal.

Anmon lalu bisa bertahan dibantu kegiatan pemerintah lewat MICE. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar cara dua hari di Anmon pada Oktober 2020 dan Kementerian Kesehatan menggelar seminar pada November tahun lalu.

Sebagai gambaran, kunjungan wisatawan mancanegara di Kepri turun hingga 84 persen sepanjang 2020 dibanding 2019. Jumlahnya hanya 411.913 orang, sedang tahun 2019 mencapai 2.587.881.

(Can)

|Baca Juga: Sandiaga Ingin Bangkitkan Pariwisata Batam dan Bintan

Pos terkait