Tas, perhiasan, jam tangan hingga properti akan dijual bertahap. Lelang terbuka bagi peserta dari berbagai negara.
SINGAPURA (gokepri) — Lebih dari 1.000 barang mewah dan 80 properti yang disita dalam kasus pencucian uang senilai S$3 miliar (US$2,4 miliar atau setara Rp42,6 Triliun) di Singapura akan mulai dijual pada 7 September 2026.
Audit firm Deloitte, yang ditunjuk untuk mengelola dan menjual aset non-tunai tersebut, mengatakan penjualan akan berlangsung bertahap hingga pertengahan 2027. Jumlah dan komposisi aset pada setiap tahap masih dapat berubah karena proses autentikasi dan persiapan penjualan belum seluruhnya rampung.
Baca Juga: Singapura Impor 900 MW Listrik Tenaga Surya dari Malaysia
Barang mewah yang dilelang mencakup perhiasan, jam tangan, tas dan aksesori. Rumah lelang Hotlotz menangani penjualan barang-barang tersebut, sementara properti akan dipasarkan melalui SRI, Edmund Tie & Company, dan Knight Frank.
Sebagian properti juga akan ditawarkan melalui mekanisme expression of interest yang dikelola List International Realty, di luar proses lelang.
Hotlotz menjadwalkan 15 lelang daring untuk barang-barang mewah tersebut mulai September 2026 hingga Mei 2027. Dua lelang pertama dibuka pada 7 September pukul 10.00 waktu Singapura, bersamaan dengan penerbitan katalog.
Lelang pertama berakhir pada 20 September pukul 16.00. Barang yang ditawarkan antara lain tas dan aksesori dari Chanel, Louis Vuitton, dan Christian Dior.
Lelang kedua berakhir pada 27 September pukul 16.00 dengan koleksi perhiasan dari merek seperti Graff, Bulgari, dan Van Cleef & Arpels.
Kedua lelang awal tersebut mencakup lebih dari 300 tas dan aksesori serta lebih dari 250 perhiasan. Nilai estimasi pra-penjualan seluruh barang mencapai S$2,9 juta hingga S$3,9 juta.
Lelang berikutnya akan menawarkan barang dari merek lain, termasuk tas Hermès serta jam tangan Patek Philippe, Richard Mille, dan Rolex.
Peserta dari berbagai negara dapat mengikuti lelang tersebut. Namun, setiap calon pembeli harus mendaftar dan melewati proses verifikasi identitas sebelum dapat mengajukan penawaran.
Peserta yang lolos verifikasi juga dapat memesan jadwal untuk melihat barang secara langsung di Le Freeport, fasilitas penyimpanan berkeamanan tinggi di kawasan Changi. Kunjungan hanya tersedia berdasarkan janji temu dan tidak menerima kedatangan tanpa jadwal.
Hotlotz mengatakan slot kunjungan terbatas dan diberikan kepada peserta yang sudah terdaftar berdasarkan urutan pendaftaran.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Hotlotz Matt Elton mengatakan tingginya perhatian terhadap kasus tersebut berpotensi menarik minat pembeli dari berbagai negara. Namun, ia ingin proses penjualan tetap berfokus pada nilai dan kondisi barang, bukan sensasi kasusnya.
“Tujuan saya menjual semuanya dengan cara yang paling adil dan transparan kepada pasar seluas mungkin,” kata Elton.
Menurut dia, keterbukaan juga penting agar calon pembeli mengetahui asal-usul barang yang mereka beli. Harga awal setiap barang akan mengacu pada hasil lelang barang sejenis, bukan harga saat pertama kali dibeli atau harga pasar sekunder.
Aset tersebut menjadi bagian dari penyelesaian perkara pencucian uang yang terungkap setelah penggerebekan di sejumlah lokasi di Singapura pada Agustus 2023. Penggerebekan itu membongkar jaringan perjudian ilegal yang berbasis di Asia Tenggara dan menghasilkan penyitaan aset dalam jumlah besar.
Sepuluh pelaku dalam perkara tersebut, yang seluruhnya berasal dari China meski sebagian memiliki kewarganegaraan lain, telah divonis bersalah. Mereka kemudian menjalani hukuman sebelum dideportasi.
Deloitte mendapat penunjukan dari Singapore Police Force pada Juli 2025 untuk mengelola dan merealisasikan aset non-tunai yang disita dalam perkara tersebut. CHANNEL NEWS ASIA
Baca Juga: Pemanfaatan Sampah Jadi Listrik Masuk Agenda Baru RI-Singapura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







