Indonesia, Singapura, dan Malaysia dinilai berhasil menjaga jalur pelayaran. Pengalaman itu disebut dapat menjadi contoh bagi kawasan lain.
SINGAPURA (gokepri) – Pemerintah Singapura menilai kerja sama Indonesia, Singapura, dan Malaysia dalam menjaga keamanan Selat Malaka dan Selat Singapura telah berkembang menjadi contoh penyelesaian kepentingan bersama di tingkat internasional. Keberhasilan itu dinilai menunjukkan negara-negara ASEAN mampu membangun solusi bersama atas jalur pelayaran paling sibuk di dunia.
Pandangan tersebut disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim saat menjawab pertanyaan jurnalis dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.

Baca Juga: Menjaga Selat Malaka dari Ancaman Geopolitik
Pernyataan itu disampaikan ketika menjawab pertanyaan mengenai hubungan Indonesia dan Singapura di tengah munculnya sejumlah isu bilateral, termasuk polemik mengenai Selat Malaka. Zhulkarnain justru menilai kerja sama di kawasan tersebut menjadi bukti bahwa kedua negara mampu menyelesaikan persoalan melalui dialog.
“Kami selalu mencari solusi bersama,” kata dia.
Zhulkarnain mengungkapkan pengalaman itu sempat ia sampaikan dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ketika membahas situasi Selat Hormuz. Saat itu perhatian dunia tertuju pada pentingnya jalur energi global di Timur Tengah.
Ia kemudian membandingkan Selat Hormuz dengan Selat Malaka dan Selat Singapura. Jika Selat Hormuz memiliki lebar sekitar 22 mil laut pada titik tersempitnya, Selat Malaka dan Selat Singapura hanya sekitar dua mil laut di bagian tersempit.
Meski jauh lebih sempit, arus pelayaran di kawasan itu justru jauh lebih padat.
Nadi Perdagangan Dunia
Zhulkarnain mengatakan sekitar 250 kapal melintasi Selat Malaka dan Selat Singapura setiap hari. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding lalu lintas di Selat Hormuz yang berkisar antara 90 hingga 120 kapal per hari.
Berbagai jenis komoditas melewati jalur tersebut, mulai dari energi, bahan baku industri, hingga barang konsumsi yang diperdagangkan ke berbagai belahan dunia.
Pengalaman sebagai pengacara maritim membuat Zhulkarnain memahami arti penting jalur pelayaran itu bagi rantai pasok internasional. Barang yang dibeli masyarakat melalui berbagai platform perdagangan elektronik, kata dia, sebagian besar diangkut melalui Selat Malaka dan Selat Singapura.
“Jika Selat Hormuz adalah minyak pelumas dunia, Selat Malaka dan Selat Singapura adalah penggeraknya.”
Karena itu, keamanan dan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut bukan hanya menjadi kepentingan tiga negara pesisir, tetapi juga kepentingan perdagangan global.
Model Kerja Sama ASEAN
Zhulkarnain menilai keberhasilan Indonesia, Singapura, dan Malaysia menjaga selat itu lahir dari kemauan membangun kepentingan bersama. Ketiga negara tidak hanya menjaga kepentingan nasional masing-masing, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan internasional.
Pendekatan itu diwujudkan melalui Cooperative Mechanism, forum kerja sama yang melibatkan negara pengguna, pelaku industri pelayaran, dan organisasi internasional untuk mendukung keselamatan navigasi serta perlindungan lingkungan di Selat Malaka dan Selat Singapura.
Pengalaman tersebut, kata Zhulkarnain, menarik perhatian banyak negara ketika dibahas di Dewan Keamanan PBB. Sejumlah delegasi ingin mengetahui bagaimana tiga negara di Asia Tenggara mampu membangun mekanisme kerja sama di jalur pelayaran yang sangat strategis.
Keberhasilan itu dinilai menunjukkan bahwa dialog dan kolaborasi dapat menghasilkan solusi yang diterima semua pihak.
Fondasi Hubungan Indonesia-Singapura
Zhulkarnain menegaskan semangat yang sama juga menjadi dasar hubungan bilateral Indonesia dan Singapura. Perbedaan pandangan tidak dihindari, tetapi diselesaikan melalui komunikasi terbuka antara kedua pemerintah.
Ia menilai hubungan kedua negara telah cukup matang untuk membahas setiap persoalan tanpa mengganggu kerja sama strategis di bidang ekonomi, investasi, keamanan, maupun hubungan antarmasyarakat.
Ke depan, Singapura berharap pendekatan serupa terus menjadi fondasi kerja sama kawasan. Bagi Singapura, kemampuan negara-negara ASEAN menyelesaikan persoalan melalui dialog akan memperkuat posisi kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Baca Juga: Apa Respons Singapura terhadap Narasi #SellSingapore?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









