Pemko Batam respons aspirasi warga Galang. Pendidikan dan nelayan ikut disorot.
BATAM (gokepri) — Lapangan kerja, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, dan peningkatan kesejahteraan nelayan menjadi tiga harapan utama warga Galang kepada Pemerintah Kota Batam. Di tengah bertambahnya investasi di Batam, masyarakat berharap manfaat pembangunan juga dirasakan kawasan hinterland.
Harapan itu muncul karena banyak warga menilai peluang kerja, kualitas pendidikan, dan infrastruktur di Galang masih perlu diperkuat. Bagi masyarakat pesisir, pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari terbukanya kesempatan bekerja dan meningkatnya taraf hidup.
Baca Juga: Bagaimana Kolaborasi RI-AS Membangun Ekosistem Semikonduktor di Pulau Galang
Berbagai aspirasi tersebut mengemuka dalam dialog antara Pemerintah Kota Batam dengan ketua RT, RW, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), serta tokoh masyarakat di Kantor Camat Galang, Selasa (14/7/2026). Pertemuan itu menjadi ruang bagi warga menyampaikan kebutuhan yang mereka hadapi sehari-hari.
Tokoh masyarakat Galang, Safii, meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadap kesejahteraan nelayan. Ia juga berharap putra-putri Galang memperoleh kesempatan lebih besar bekerja di perusahaan yang beroperasi di Batam.
“Kami berharap pemuda setempat dapat menjadi prioritas untuk bekerja di daerahnya sendiri,” ujar Safii.
Selain pekerjaan, warga juga menyoroti kebutuhan pendidikan yang lebih selaras dengan kebutuhan industri. Perwakilan LPM Galang, Suherman, mengusulkan agar sekolah yang akan dibangun di kawasan Rempang Eco-City berupa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), bukan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Menurut Suherman, kawasan tersebut telah memiliki tiga SMA sehingga kehadiran SMK dinilai lebih relevan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil. Ia juga meminta pemerintah meningkatkan kualitas jalan yang menjadi akses utama masyarakat.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan dialog dengan masyarakat menjadi bagian dari penyusunan kebijakan pemerintah. Aspirasi yang muncul dalam pertemuan itu, menurut dia, akan menjadi bahan penyusunan program pembangunan.
“Energi silaturahmi ini menjadi tata kelola baru di era kepemimpinan Amsakar-Li Claudia,” ujar Amsakar.
Menurut Amsakar, kesejahteraan nelayan tetap menjadi perhatian pemerintah karena masyarakat pesisir merupakan salah satu penopang ekonomi Batam. Pemerintah, kata dia, akan memperkuat program pemberdayaan, termasuk pengembangan sarana pendukung dan perluasan akses pasar hasil tangkapan.
Ia juga menegaskan bahwa setiap investasi di Batam harus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Karena itu, pemerintah akan mendorong perusahaan yang beroperasi di Batam memberi kesempatan lebih besar kepada putra-putri daerah.
Di bidang pendidikan, Pemerintah Kota Batam mulai memperluas akses bagi generasi muda hinterland. Tahun ini, lima anak hinterland diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, meski satu orang mengundurkan diri. Selain itu, 30 anak hinterland diterima di Politeknik Negeri Batam.
Pemerintah Kota Batam juga merancang pembangunan Sekolah Rakyat Merah Putih Terintegrasi yang akan dilengkapi SMK berstandar internasional. Sekolah itu diharapkan menyiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Untuk mendukung aktivitas masyarakat, pemerintah berjanji meningkatkan kualitas jalan di Galang. Pembangunan konektivitas dinilai penting agar manfaat pengembangan Galang-Rempang dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat hinterland.
Bagi warga Galang, pembangunan tidak berhenti pada hadirnya proyek investasi. Yang lebih penting ialah apakah investasi itu membuka pekerjaan, memperluas akses pendidikan, meningkatkan kesejahteraan nelayan, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Batam.
Baca Juga: Konsorsium AS-Jerman Siap Bangun Pabrik Cip di Pulau Galang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









