BPS mencatat China tetap menjadi pemasok utama bawang putih. Volume impor semester pertama juga meningkat.
JAKARTA (gokepri) — Pasokan bawang putih Indonesia masih bertumpu pada impor dari China. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hampir seluruh bawang putih yang diimpor sepanjang Januari–Mei 2026 berasal dari negara tersebut, sementara volume impor selama semester pertama tahun ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ketergantungan itu tercermin dari komposisi negara asal impor. Dari total bawang putih yang masuk ke Indonesia selama lima bulan pertama 2026, hampir seluruhnya dipasok China.
Baca Juga: Harga Bawang Putih dan Cabai Naik, Ini Daftar Harga Pangan Terbaru
Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan volume impor bawang putih sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 186.780 ton. Dari jumlah itu, 183.620 ton atau 98,31 persen berasal dari China.
“Sebanyak 98,31 persen impor bawang putih kita memang berasal dari China,” ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (13/7/2026).
India menjadi pemasok terbesar kedua dengan volume sekitar 3.150 ton atau 1,69 persen. Sementara itu, impor dari negara lain tercatat sekitar 1.000 ton.
Menurut Amalia, sebagian besar bawang putih yang masuk ke Indonesia masih berupa bawang putih segar maupun bawang putih yang disimpan dalam kondisi dingin.
Berdasarkan klasifikasi Harmonized System (HS) delapan digit, impor didominasi komoditas garlic, other than bulbs for propagation, fresh or chilled (HS 07032090). Volumenya mencapai 180.870 ton atau 96,83 persen dari total impor.
Adapun impor garlic, dried, whole, cut, sliced, broken or in powder, but not further prepared (HS 07129010) mencapai 5.910 ton atau 3,17 persen. Sementara impor bawang putih untuk bibit (HS 07032010) tercatat sangat kecil.
BPS juga mencatat volume impor bawang putih terus meningkat secara kumulatif. Berdasarkan data sementara, impor Januari–Juni 2026 mencapai 229.760 ton atau naik 28,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara bulanan, volume impor Juni lebih rendah dibandingkan Juni 2025. Namun, kenaikan pada bulan-bulan sebelumnya membuat realisasi selama semester pertama tetap lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
“Secara kumulatif dari Januari–Juni ini sudah lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu, sehingga ini bisa menjadi landasan kita untuk kemudian melakukan beberapa intervensi,” ujar Amalia.
Selain volume, nilai impor bawang putih juga meningkat. Menurut Amalia, kondisi tersebut menunjukkan harga rata-rata bawang putih impor mengalami kenaikan.
Ia menjelaskan kenaikan itu dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing serta meningkatnya biaya logistik internasional.
“Beberapa dinamika yang terjadi adalah kenaikan bawang putih salah satunya ada faktor dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional,” ujar Amalia.
Data BPS menunjukkan impor bawang putih sepanjang semester pertama 2026 masih didominasi pasokan dari China. Pada saat yang sama, volume impor meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan kenaikan nilai impor dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah dan biaya logistik internasional menurut BPS. BISNIS.COM
Baca Juga: Jangan Pakai Bawang Putih untuk Obati Jerawat, Bahaya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









