Kebutuhan Tenaga Las Masih Tinggi di Batam

menaker resmikan BLK Batam
Calon tenaga kerja kejurusan juru las di BLK Kabil, Batam, 10 Juli. Foto: gokepri/Muhammad Ravi

Disnaker Batam siapkan pelatihan sesuai kebutuhan industri. Sertifikasi menjadi bekal pencari kerja memasuki dunia kerja.

BATAM (gokepri) — Kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor industri Batam masih belum terpenuhi, terutama untuk profesi juru las di industri galangan kapal, fabrikasi, dan lepas pantai. Untuk memperkecil kesenjangan tersebut, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam menyiapkan pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi pencari kerja menjadi tantangan yang terus dihadapi Batam sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Kondisi itu mendorong pemerintah daerah mengarahkan program pelatihan pada bidang yang paling banyak dibutuhkan dunia usaha.

Baca Juga: GALANGAN KAPAL: Iperindo Usulkan Batam Rekrut Juru Las dari Tangerang dan Jawa Timur

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Yudi Suprapto mengatakan salah satu kompetensi yang masih banyak dicari perusahaan ialah juru las. Kebutuhan itu terutama berasal dari industri galangan kapal, fabrikasi, dan lepas pantai yang berkembang di Batam.

“Kebutuhan tenaga las di kawasan industri Batam saat ini masih cukup banyak yang belum terisi,” ujar Yudi saat dihubungi di Batam, Rabu (8/7/2026).

Menurut Yudi, informasi tersebut diperoleh dari sejumlah bagian sumber daya manusia (Human Resources Development/HRD) perusahaan di kawasan industri. Masukan itu menjadi dasar bagi Disnaker untuk menyusun program pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Salah satu program yang kini berjalan ialah pelatihan juru las 5G Shielded Metal Arc Welding (SMAW) yang dimulai pada Senin (6/7/2026). Pelatihan tersebut diikuti 12 lulusan SMA dan SMK sederajat yang sedang mencari pekerjaan.

Batam memiliki konsentrasi industri galangan kapal, fabrikasi, dan lepas pantai yang besar. Pertumbuhan sektor tersebut membuat permintaan tenaga kerja dengan kompetensi pengelasan tetap tinggi.

Selain pelatihan juru las, Disnaker Batam menargetkan 3.024 peserta mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis bersertifikat sepanjang 2026. Program itu mencakup 82 jenis pelatihan yang disusun berdasarkan kebutuhan industri.

Jenis pelatihan tersebut meliputi pengelasan tingkat 3G hingga 6G, scaffolding, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), teknisi listrik, serta berbagai kompetensi teknis lainnya. Seluruh program dirancang agar peserta memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Balai Latihan Kerja (BLK), dan Disnaker Kota Batam. Sertifikasi itu menjadi bukti kompetensi yang dapat meningkatkan daya saing pencari kerja dalam proses rekrutmen.

Yudi menuturkan pelatihan berbasis kompetensi tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Peserta juga dibekali pengetahuan dasar pekerjaan serta etika kerja yang dibutuhkan industri.

Menurut dia, kemampuan teknis perlu diimbangi dengan sikap kerja yang baik agar lulusan pelatihan lebih siap beradaptasi di lingkungan industri. Pendekatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang peserta diterima bekerja.

Meski demikian, Yudi menegaskan pelatihan tidak otomatis menjamin peserta memperoleh pekerjaan. Disnaker berperan memfasilitasi pertemuan antara pencari kerja dan perusahaan melalui layanan penempatan tenaga kerja. ANTARA

Baca Juga: Galangan Kapal Batam Butuh 5.000 Juru Las, Disnaker Terbentur Anggaran Pelatihan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait