Saat Koperasi Menjadi Pengelola Energi Desa

Panel surya PLTS KDKMP Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau.
Panel surya pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Pulau Sembur Laut, Batam, Kepulauan Riau. Proyek yang telah mencapai progres 80 persen itu ditargetkan beroperasi penuh pada triwulan III 2026 untuk mendukung kemandirian energi dan ekonomi masyarakat pesisir. Foto: Pertamina NRE

BATAM (gokepri) — Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Pulau Sembur Laut, Kota Batam, Kepulauan Riau, memasuki tahap akhir pembangunan.

Proyek yang digagas Kementerian Koperasi bersama PT Pertamina New & Renewable Energy (NRE) itu telah mencapai progres sekitar 80 persen dan ditargetkan beroperasi penuh pada triwulan III 2026.

Lebih dari sekadar menghadirkan listrik, proyek ini dirancang sebagai model pembangunan ekonomi desa berbasis energi bersih. Koperasi setempat tidak hanya menjadi pengguna listrik, tetapi juga pengelola aset energi dan fasilitas ekonomi yang terintegrasi.

Baca Juga: Kepri Bangun PLTS untuk Pulau-Pulau Terpencil

Corporate Secretary Pertamina NRE Nur Hidayati mengatakan seluruh panel surya pada tahap pertama telah terpasang. Sistem baterai juga telah tiba di lokasi proyek sehingga pekerjaan kini berfokus pada penyelesaian jaringan distribusi dan integrasi sistem.

“Proyek PLTS berbasis energi terbarukan yang disandingkan dengan program KDKMP ini telah mencapai kemajuan sekitar 80 persen,” ujar Nur Hidayati dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).

Pulau Sembur dipilih karena memenuhi sejumlah syarat pengembangan KDKMP. Wilayah itu telah memiliki aktivitas ekonomi dan koperasi yang aktif, tetapi belum terhubung dengan jaringan listrik utama.

Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Ketersediaan energi yang stabil dinilai dapat memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada keterbatasan pasokan energi.

Pada tahap pertama, PLTS dibangun dengan kapasitas 400 kilowatt peak (kWp) dan didukung baterai berkapasitas 600 kilowatt hour (kWh). Secara keseluruhan, kapasitas pembangkit nantinya mencapai satu megawatt peak (MWp) dengan sistem penyimpanan energi satu megawatt hour (MWh).

Selain infrastruktur kelistrikan, proyek ini mencakup pembangunan fasilitas pendukung ekonomi berupa cold storage berkapasitas lima ton dan pabrik es berkapasitas dua ton per hari. Kedua fasilitas tersebut akan dikelola oleh KDKMP Pulau Sembur.

Keberadaan fasilitas penyimpanan dingin dinilai penting bagi masyarakat pesisir yang bergantung pada sektor perikanan. Dengan penyimpanan hasil tangkapan yang lebih baik, nelayan berpeluang menjaga kualitas produk lebih lama dan memperluas akses pasar.

Menurut Pertamina NRE, fasilitas ekonomi berbasis energi bersih itu diharapkan menjadi fondasi ekosistem usaha produktif di pulau tersebut. Manfaat ekonomi tidak berhenti pada penyediaan listrik, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan menciptakan lapangan kerja.

Proyek ini menjadi PLTS berbasis koperasi pertama di Indonesia. Model yang dikembangkan menempatkan koperasi sebagai pengelola utama aset energi sekaligus penggerak aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kami berharap PLTS KDKMP Pulau Sembur dapat menjadi contoh bagaimana energi terbarukan tidak hanya menghadirkan energi yang andal, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi,” kata Nur.

Pengembangan energi terbarukan di wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan pembangunan nasional. Banyak pulau kecil masih menghadapi keterbatasan akses listrik karena kondisi geografis dan tingginya biaya distribusi energi konvensional.

Karena itu, keberhasilan proyek di Pulau Sembur dapat menjadi rujukan bagi pengembangan energi bersih di wilayah terpencil lain. Jika model ini berjalan efektif, koperasi tidak hanya berperan sebagai lembaga ekonomi masyarakat, tetapi juga sebagai pengelola sumber energi yang menopang pembangunan desa. ANTARA

Baca Juga: Kepri Listriki Enam Pulau dengan PLTS Komunal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait