Batam dilintasi jutaan orang setiap tahun. Amsakar ingin arus itu benar-benar menggerakkan ekonomi.
BATAM (gokepri) – Bagi Wali Kota Batam Amsakar Achmad, setiap orang yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan Batam bukan hanya catatan administratif keimigrasian, melainkan potensi ekonomi yang bisa dikelola.
Gagasan itu ia sampaikan saat menerima audiensi Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepulauan Riau, Guntur Sahat Hamonangan, di ruang kerjanya, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Pelantikan HMI Batam, Amsakar Dorong Mahasiswa Jadi Agen Perubahan Berintegritas
Hingga Februari 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam telah mencapai 257.928 orang, naik 25,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam. Pemerintah kota menargetkan 1,75 juta kunjungan wisman sepanjang 2026, melanjutkan tren kenaikan dari 1,19 juta pada 2023, 1,33 juta pada 2024, dan 1,61 juta pada 2025.
“Kepri, khususnya Batam, memiliki daya tarik tersendiri. Banyak pihak yang berminat untuk datang, berusaha, dan berinvestasi,” ujar Amsakar.
Dengan posisinya di jalur pelayaran internasional Selat Malaka dan banyaknya pelabuhan dengan akses langsung ke Singapura dan Malaysia, Batam menjadi salah satu pintu masuk wisman terbesar di Indonesia. Namun, menurut Amsakar, potensi itu belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sistem keimigrasian yang lambat atau tidak ramah, katanya, bisa membuat orang yang seharusnya singgah memilih lewat begitu saja.
Amsakar juga menekankan sektor pariwisata masih menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, penguatan sektor ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis imigrasi dalam memberikan kemudahan akses bagi wisatawan dan investor.
Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu penopang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kota Batam menargetkan PAD 2026 minimal Rp 2,2 triliun dari total APBD Rp 4,299 triliun, dengan pariwisata, pajak daerah, dan retribusi sebagai andalan.
Sektor pariwisata sendiri pada 2024 menyumbang sekitar Rp357 miliar untuk PAD yang bersumber dari pajak sektor perhotelan, restoran dan hiburan.
“Koordinasi yang kuat adalah kunci. Kita ingin Batam tampil sebagai kota yang terbuka, progresif, tetapi tetap tertib dan terkendali,” kata Amsakar.
Guntur mengakui posisi strategis Batam dalam peta layanan keimigrasian nasional. Banyaknya pelabuhan membuat pengawasan lalu lintas orang perlu sistem yang cepat dan tidak mempersulit.
“Batam sangat strategis karena memiliki banyak pelabuhan. Kondisi ini memudahkan pengawasan lalu lintas orang secara cepat dan efektif,” jelasnya.
Kanwil Imigrasi Kepri, kata Guntur, berkomitmen mempercepat layanan bagi investor dan wisatawan yang masuk melalui Batam, sejalan dengan arahan pemerintah pusat untuk menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Baca Juga: Pungli di Pintu Masuk Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









