Negara ASEAN Berebut Minyak Rusia, Apa Risikonya?

Minyak rusia
Presiden Rusia Vladimir Putin bersalaman dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto saat kunjungan Prabowo ke Rusia, 10 Desember 2025. Foto: Alexander Zemlianichenko/Pool via Reuters

KUALA LUMPUR (gokepri) — Sejumlah negara Asia Tenggara mulai melirik minyak dan gas Rusia untuk meredakan tekanan pasokan energi domestik. Pilihan ini dinilai mengutamakan kebutuhan jangka pendek, meski berpotensi memicu risiko geopolitik dan ketegangan dengan negara Barat.

Langkah itu muncul di tengah gangguan pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz yang selama ini menyuplai lebih dari separuh impor energi kawasan. Dalam kondisi ini, Rusia menawarkan pasokan yang relatif cepat tersedia dan kompetitif secara harga.

Analis pasar dari FXEM, Abdelaziz Albogdady, mengatakan ketersediaan kargo minyak Rusia di laut memberi fleksibilitas distribusi. “Pasokan dapat dialihkan ke wilayah yang membutuhkan,” ujarnya. Ia menambahkan, relaksasi sementara sanksi Amerika Serikat membuat transaksi tersebut tetap layak secara komersial.

HBRL

Baca Juga: Indonesia Mau Beli Minyak Rusia, Ini Respons Pertamina

Pemerintah Amerika Serikat pada April memperpanjang pengecualian terbatas yang memungkinkan pembelian minyak Rusia yang sudah dimuat di kapal hingga 16 Mei 2026. Kebijakan ini bertujuan meredakan tekanan pasokan energi global, meski tetap berada dalam kerangka sanksi terhadap Moskwa.

Namun, langkah tersebut menuai kritik dari Ukraina yang menilai pendapatan energi Rusia berkontribusi terhadap pembiayaan perang. Di sisi lain, Washington diperkirakan tetap mencermati negara-negara yang meningkatkan pembelian energi dari Rusia.

Pengamat hubungan internasional Universitas Jenderal Achmad Yani, Yohanes Sulaiman, menilai negara-negara perlu menimbang konsekuensi jangka panjang. “Keuntungan jangka pendek harus diukur dengan dampak jangka panjang, termasuk relasi diplomatik,” ujarnya.

Pasokan Terbatas, Persaingan Ketat

Minat negara ASEAN terhadap energi Rusia meningkat di tengah keterbatasan pasokan alternatif. Filipina, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Myanmar termasuk negara yang menjajaki pembelian, meski realisasinya masih terbatas.

Data Kpler menunjukkan Filipina menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang mengimpor minyak Rusia sejak Maret 2026. Negara itu memperoleh sekitar 2,5 juta barel untuk kebutuhan kilang domestik setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu.

Analis Kpler, Muyu Xu, menilai kapasitas ekspor Rusia juga menghadapi kendala. Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di kawasan Laut Hitam dan Baltik menghambat peningkatan produksi. “Kapasitas riil menjadi isu,” ujarnya.

Selain itu, sebagian besar ekspor Rusia telah terserap oleh pembeli utama seperti China dan India. Kondisi ini membatasi ketersediaan bagi negara-negara dengan volume permintaan lebih kecil.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan negaranya membuka peluang negosiasi dengan Rusia melalui Petronas untuk menjamin pasokan domestik. Namun, akses tetap bergantung pada harga dan pembatasan sanksi.

Pengamat The Asia Group, Asrul Sani, menilai dominasi pembeli besar membuat negara seperti Malaysia sulit memperoleh pasokan signifikan. “Ketersediaan untuk pasar kecil menjadi terbatas,” ujarnya.

Meski menawarkan harga lebih rendah, manfaat ekonomi minyak Rusia tidak selalu optimal. Biaya pengiriman yang lebih panjang, premi asuransi, dan penyesuaian kilang dapat mengurangi keuntungan.

Analis Rystad Energy, Nithin Prakash, menyebut pembelian minyak Rusia cenderung bersifat oportunistik. “Digunakan saat kondisi harga dan pasokan memungkinkan, bukan sebagai solusi permanen,” ujarnya.

Di Indonesia, kerja sama energi dengan Rusia menguat setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin pada April 2026. Pemerintah menyatakan potensi pasokan minyak mentah dari Rusia sebagai bagian dari diversifikasi energi.

Namun, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengingatkan risiko ketergantungan. Menurut dia, krisis saat ini mencerminkan kerentanan sistem energi berbasis fosil terhadap gejolak geopolitik.

“Selama masih bergantung pada impor minyak dan LPG, tekanan terhadap anggaran dan stabilitas ekonomi akan terus berulang,” ujarnya.

Tekanan Geopolitik Menguat

Pilihan membeli energi Rusia berpotensi memengaruhi hubungan negara ASEAN dengan mitra Barat. Selain itu, ketergantungan dapat memperbesar pengaruh Moskwa dalam hubungan bilateral.

Pengamat hubungan internasional President University, Teuku Rezasyah, menilai Rusia berpotensi memanfaatkan posisi tersebut untuk memperluas kerja sama ekonomi maupun strategis. “Ketergantungan energi bisa berujung pada tekanan politik,” ujarnya.

Yohanes juga mengingatkan potensi reaksi dari negara Eropa dan Timur Tengah. Negara-negara tersebut dapat menilai kebijakan ini merugikan kepentingan mereka, baik secara ekonomi maupun geopolitik.

Meski demikian, tekanan domestik dinilai lebih dominan. Keterbatasan cadangan energi dan kebutuhan menjaga stabilitas harga bahan bakar membuat pemerintah cenderung mengambil langkah pragmatis.

Sejumlah analis menilai pergeseran ke minyak Rusia tidak akan bersifat permanen. Negara-negara Asia Tenggara masih memiliki kontrak jangka panjang dengan pemasok dari Timur Tengah yang secara geografis lebih dekat.

Selain itu, pasokan Rusia menghadapi keterbatasan distribusi dan persaingan tinggi dari pembeli besar. Dalam jangka panjang, negara ASEAN diperkirakan kembali ke pola pasokan semula setelah kondisi geopolitik mereda.

“Minyak Rusia lebih berperan sebagai penyangga sementara untuk menutup kekurangan pasokan,” kata Xu. CHANNEL NEWS ASIA

Baca Juga: Prabowo Temui Putin di Rusia, Bahas Kerja Sama Minyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait