Perang AS–Israel dengan Iran menekan pertumbuhan dan memicu inflasi. Bank Indonesia melihat risiko arus modal keluar dan gejolak energi.
JAKARTA (gokepri) — Bank Indonesia memperingatkan memburuknya prospek ekonomi global pada 2026. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut kombinasi perlambatan pertumbuhan dan kenaikan inflasi sebagai tanda awal stagflasi, kondisi yang kerap sulit diatasi.
Dalam forum Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin, 13 April 2026, Destry memaparkan proyeksi terbaru. Produk domestik bruto (PDB) global diperkirakan hanya tumbuh 3,1 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 3,2 persen. Sementara itu, inflasi global justru meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. “Ini kondisi yang tidak terlalu bagus,” kata Destry. Ia menyebut situasi tersebut sebagai stagnasi ekonomi dengan tekanan harga yang meningkat.
Baca Juga: Negosiasi Gagal, Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak
Menurut Destry, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pemicu utama tekanan global. Dampaknya merambat melalui tiga jalur utama: pasar keuangan, komoditas, dan perdagangan internasional.
Di sektor finansial, keterlibatan Amerika Serikat sebagai pusat keuangan global memperbesar efek rambatan. Ketidakpastian meningkat seiring posisi strategis Iran di kawasan Timur Tengah. Investor merespons dengan mengurangi risiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap aman.
Fenomena ini dikenal sebagai risk-off. Indikasinya terlihat dari penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS hingga 4,5–4,6 persen.
Arus modal pun bergerak menjauh dari negara berkembang. Indonesia termasuk yang terdampak. Meski sempat ada aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara, pasar saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia, secara total terjadi arus keluar sekitar Rp21 triliun.
Di sektor komoditas, lonjakan harga minyak menjadi faktor kunci. Ketegangan di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—mengganggu distribusi energi global.
Meski produksi Iran hanya sekitar 5 persen dari total dunia, posisi geografisnya menjadikan kawasan ini krusial. Gangguan kecil saja mampu memicu kenaikan harga yang signifikan. Harga minyak bahkan sempat menembus US$100 per barel setelah kegagalan perundingan damai.
Kenaikan harga energi ini merembet ke komoditas lain. Emas menguat sebagai aset aman. Batu bara, aluminium, dan minyak kelapa sawit ikut terdorong naik. Sejumlah negara bahkan mulai meningkatkan cadangan energi alternatif sebagai langkah antisipasi.
Di jalur perdagangan, dampaknya tidak kalah besar. Selat Hormuz menjadi titik sempit dalam rantai pasok global. Gangguan di wilayah ini memicu kenaikan biaya pengapalan dan premi asuransi.
Efeknya menjalar ke negara-negara di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, serta mitra dagang utama Iran seperti Cina, India, Turki, dan Irak. Rantai pasok global terganggu, termasuk untuk bahan baku industri seperti plastik dan produk pertanian.
Destry menilai respons kebijakan menjadi kunci menghadapi situasi ini. Sejumlah negara diperkirakan akan melonggarkan kebijakan fiskal untuk menjaga pertumbuhan. Namun di sisi moneter, bank sentral cenderung lebih berhati-hati.
“Respons kebijakan akan lebih penting,” ujarnya.
Bank sentral di berbagai negara menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka perlu menahan inflasi. Di sisi lain, perlambatan ekonomi menuntut stimulus. Kondisi ini mempersempit ruang kebijakan.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara juga bersaing menjaga daya tarik aset domestik agar tetap dilirik investor global. Persaingan tersebut berpotensi memperketat likuiditas di negara berkembang.
Bagi Indonesia, tekanan eksternal ini menjadi ujian ketahanan ekonomi. Stabilitas nilai tukar, arus modal, dan inflasi domestik akan sangat dipengaruhi dinamika global dalam beberapa bulan ke depan. Jika konflik berkepanjangan, risiko stagflasi bukan lagi sekadar proyeksi, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. ANTARA
Baca Juga: Perang Dorong Harga Minyak, Batam Siaga Jaga BBM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







