Oleh: Dr. Fendi Hidayat, S.T., M.Kom, Ketua Umum PP IAPolbat dan Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam
Pada awal 2000-an, Batam berada dalam sebuah persimpangan penting. Pertumbuhan industri manufaktur meningkat signifikan, didorong oleh investasi asing dan posisi strategis yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Kawasan industri berkembang cepat, namun pada saat yang sama muncul persoalan mendasar: ketersediaan sumber daya manusia yang benar-benar siap kerja.
Dalam kerangka pembangunan ekonomi daerah, kondisi ini menunjukkan adanya mismatch antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Lulusan tersedia, tetapi tidak selalu relevan. Industri tumbuh, tetapi tidak sepenuhnya ditopang oleh tenaga kerja lokal yang kompeten.
Di titik inilah kehadiran Politeknik Negeri Batam menjadi signifikan. Institusi ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan sebagai respons terhadap kebutuhan riil pembangunan. Pendidikan vokasi ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk menjembatani kesenjangan antara sistem pendidikan dan dunia kerja.
Di balik proses tersebut, terdapat sosok yang bekerja dengan arah yang jelas, meskipun tidak selalu tampak di permukaan: Priyono Eko Sanyoto.
Dengan tangan dinginnya, beliau tidak hanya mengelola institusi yang sedang tumbuh, tetapi mampu mengonsolidasikan tim, membangun budaya kerja, dan mengarahkan visi bersama. Salah satu capaian paling fundamental adalah keberhasilan mendorong transformasi Politeknik Batam menjadi perguruan tinggi negeri pada tahun 2010, menjadikannya sebagai perguruan tinggi negeri pertama di Kepulauan Riau. Capaian ini tidak hanya bersifat administratif, tetapi memiliki implikasi strategis terhadap peningkatan kualitas, tata kelola, dan akses pendidikan tinggi di wilayah ini.
Sebagai direktur di masa awal pengembangan, beliau tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi membangun fondasi epistemik dan operasional pendidikan vokasi di Batam. Ia memahami bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi harus menghasilkan kompetensi yang terukur dan relevan.
Pendekatan yang ia lakukan dapat dibaca dalam kerangka link and match, sebuah konsep yang menekankan keterkaitan erat antara pendidikan dan kebutuhan industri. Namun dalam praktiknya, pendekatan tersebut tidak berhenti sebagai jargon kebijakan. Ia diterjemahkan ke dalam desain kurikulum, sistem pembelajaran berbasis praktik, serta penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan industri.
Langkah ini tidak selalu mudah. Pada fase awal, membangun kepercayaan industri terhadap institusi pendidikan membutuhkan waktu dan konsistensi. Namun strategi yang ditempuh menunjukkan hasil. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman kerja melalui program magang dan pembelajaran berbasis produksi.
Keunggulan geografis Batam sebagai wilayah perbatasan juga dibaca secara strategis oleh beliau. Kedekatan dengan pusat pendidikan dan industri di kawasan regional membuka peluang kolaborasi internasional. Dalam konteks ini, kerja sama dengan Nanyang Technological University serta jaringan perguruan tinggi di Malaysia menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi para dosen dan tenaga pengajar.
Kolaborasi tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi berkontribusi pada peningkatan kompetensi akademik, transfer pengetahuan, serta penguatan standar pendidikan. Dengan demikian, pengembangan SDM tidak hanya terjadi pada mahasiswa, tetapi juga pada ekosistem pengajarnya.
Sebagai alumni, kami merasakan langsung implikasi dari pendekatan tersebut. Ketika memasuki dunia kerja, proses adaptasi menjadi relatif lebih singkat. Kompetensi yang dimiliki tidak berhenti pada tataran teoritis, tetapi telah teruji dalam praktik.
Namun kontribusi beliau tidak berhenti pada aspek sistem.
Dalam interaksi akademik, beliau menunjukkan karakter sebagai intelektual yang terbuka terhadap dialog. Diskusi tidak dibangun di atas otoritas, tetapi pada argumentasi. Mahasiswa dan alumni didorong untuk berpikir kritis, berbasis data, dan berorientasi pada solusi. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses transfer ilmu, tetapi sebagai proses pembentukan nalar.
Sebagai Ketua Umum PP IAPOLBAT, saya melihat bahwa warisan terbesar beliau terletak pada integrasi antara visi, sistem, dan manusia. Ia tidak hanya membangun institusi, tetapi juga membangun ekosistem. Relasi antara kampus dan industri diperkuat, kualitas lulusan ditingkatkan, dan kepercayaan publik terhadap pendidikan vokasi perlahan tumbuh.
Dampak dari proses tersebut bersifat jangka panjang. Batam tidak hanya berkembang sebagai kawasan industri, tetapi juga sebagai wilayah yang memiliki basis sumber daya manusia yang semakin kompetitif di tingkat regional.
Kini, ketika beliau telah berpulang, yang hilang bukan sekadar seorang tokoh pendidikan, tetapi seorang perintis yang sejak awal membaca arah kebutuhan zaman dan meresponsnya dengan kerja nyata.
Dalam perspektif pembangunan, kontribusi seperti inilah yang menjadi fondasi kemajuan. Infrastruktur dapat dibangun dalam waktu relatif singkat, tetapi pembangunan manusia membutuhkan visi, konsistensi, dan kepemimpinan yang berkelanjutan.
Selamat jalan, Pak Eko.
Jejak yang Bapak tinggalkan tidak berhenti pada institusi yang berdiri, tetapi berlanjut dalam setiap lulusan yang bekerja, dalam setiap dosen yang berkembang, dan dalam setiap kolaborasi yang terus terbangun. Dalam arti itu, Bapak tetap hadir dalam masa depan yang pernah Bapak rancang.
Terima kasih atas ilmu, keteladanan, dan dedikasi yang telah Bapak berikan. Jejak pengabdian Bapak akan terus hidup dalam dalam keabadian, menjadi jejak yang terus menginspirasi setiap langkah kami.**








