Gencatan senjata AS-Iran berlaku dua pekan sejak 7 April, tapi negosiasi substantif baru saja dimulai. Pakistan menawarkan Islamabad sebagai lokasi perundingan tatap muka yang masih dipertimbangkan Washington.
JAKARTA (gokepri) — Iran menyodorkan 10 tuntutan kepada Amerika Serikat sebagai syarat mengakhiri perang dan salah satunya kendali permanen atas Selat Hormuz. Tuntutan itu diserahkan ke Gedung Putih melalui perantara Pakistan, sementara gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran mulai berlaku sejak Selasa, 7 April 2026.
Mengutip The Guardian, Kamis, 9 April 2026, 10 tuntutan Iran mencakup jaminan non-agresi dari AS, hak pengayaan uranium yang diakui penuh, pencabutan semua sanksi primer dan sekunder, kompensasi kerusakan akibat konflik, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan. Namun tuntutan yang paling tajam kontroversinya adalah kendali Iran atas Selat Hormuz—jalur laut yang sebelum konflik ini sama sekali tidak berada di bawah kendali Teheran.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS–Iran, Negosiasi Dimulai di Islamabad
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di sana setiap harinya. Siapa yang mengendalikan selat itu, mengendalikan sebagian besar denyut energi global.
Senator Demokrat AS Chris Murphy tidak menyembunyikan kecemasannya. “Siapa yang tahu apakah semua itu benar, tetapi jika perjanjian ini memberi Iran hak untuk mengendalikan selat tersebut, itu akan menjadi bencana bagi dunia,” katanya, dikutip dari The Guardian.
Dalam masa gencatan senjata, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kapal-kapal boleh melintas melalui Hormuz—di bawah pengelolaan militer Iran. Sebuah rencana bahkan menyebut Iran dan Oman akan mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS per kapal yang melintas, dengan hasil pungutan itu dipakai untuk rekonstruksi Iran. Namun sejauh mana Iran benar-benar akan melonggarkan kendalinya masih belum jelas. Dan jika perundingan perdamaian gagal, Teheran berpeluang kembali menutup selat itu sepenuhnya.
Di tengah ketegangan itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif tampil sebagai mediator. Ia mengundang delegasi Iran dan AS untuk bertemu langsung di Islamabad pada Jumat ini. Teheran sudah menyatakan kesediaannya hadir. AS masih mempertimbangkan.
Sejumlah tuntutan Iran sudah sampai ke meja Gedung Putih lewat jalur Pakistan. Trump sejauh ini belum berkomentar langsung soal tuntutan tersebut, meski pejabat AS menyebut persoalan Selat Hormuz akan tetap dibahas dalam perundingan.
Para analis menilai 10 tuntutan Iran itu bersifat maksimalis—dirancang bukan untuk langsung diterima, melainkan sebagai posisi pembuka dalam negosiasi yang kemungkinan panjang dan alot.
Dari Tel Aviv, Israel menyuarakan posisi yang lebih keras. Pemerintah Israel mendesak Iran segera membuka Selat Hormuz dan menghentikan serangan terhadap AS, Israel, serta negara-negara lain di kawasan. Israel juga menyatakan dukungannya atas upaya AS memastikan Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, maupun “teror” dalam bentuk apapun. GUARDIAN
Baca Juga: Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz atau Infrastruktur Dihancurkan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








