Presiden AS ancam ledakkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tak membuka jalur vital minyak dunia. Negosiasi disebut masih berjalan.
BATAM (gokepri) – Selat Hormuz—jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia—telah tertutup lebih dari sebulan. Kini Donald Trump memberi Iran waktu hingga Selasa malam untuk membuka kembali jalur itu, atau menghadapi serangan militer AS yang menghancurkan infrastruktur vital negara itu.
Melalui platform Truth Social-nya, Minggu, 6 April, Trump hanya menulis: “Tuesday, 8pm Eastern Time!” Tenggat baru itu—pukul 00.00 GMT Rabu atau pukul 08.00 WIB—memberi Teheran satu hari tambahan untuk bernegosiasi. Iran menutup Selat Hormuz sejak kampanye pengeboman AS-Israel dimulai pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Israel Gempur Lebanon, Trump Isyaratkan Perang Berlanjut
Trump mempertegas ancamannya dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. “Negara itu butuh 20 tahun untuk membangun kembali, kalau beruntung, kalau masih punya negara,” katanya. Jika tidak ada kesepakatan pada Selasa malam, ia memperingatkan, tidak akan ada lagi pembangkit listrik maupun jembatan yang berdiri di Iran.
Namun di saat yang sama, Trump membuka celah diplomasi. Kepada Fox News, ia menyebut peluang kesepakatan pada Senin “sangat bagus” dan mengonfirmasi bahwa negosiasi masih berlangsung.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan dengan cepat, saya akan mempertimbangkan untuk menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyaknya,” ujarnya—pernyataan yang menunjukkan betapa lebarnya rentang opsi yang ada di benaknya, dari diplomatik hingga militer total.
Dalam wawancara yang sama, Trump mengklaim telah memberi negosiator Iran “kekebalan dari kematian” dan menyebut Teheran telah mengakui tidak akan mengembangkan senjata nuklir. “Itu sudah diakui. Sebagian besar poin sudah disetujui,” katanya. Kepada ABC News, Trump memperkirakan konflik ini bisa selesai dalam “hitungan hari, bukan minggu”—tapi tanpa kesepakatan, hampir tidak ada yang akan dianggap tabu oleh AS.
Di tengah ketegangan itu, Trump juga mengungkap klaim yang langsung dibantah: bahwa AS telah mengirim senjata kepada para demonstran anti-pemerintah di Iran melalui perantara Kurdi. Demonstrasi bermula pada Desember lalu, dipicu oleh tingginya biaya hidup akibat sanksi berat terhadap Teheran, sebelum berkembang menjadi protes antipemerintah yang ditumpas dengan kekerasan.
“Kami mengirim senjata kepada para demonstran, banyak sekali,” kata Trump. “Dan saya kira senjata-senjata itu diambil oleh orang Kurdi.”
Namun klaim itu langsung dibantah. Wakil Perdana Menteri Kurdistan Irak Otonom, Qubad Talabani, menegaskan dalam wawancara dengan AFP bahwa Washington tidak pernah mempersenjatai kelompok oposisi Iran Kurdi yang berada di wilayah itu. “Kami tidak melihat adanya upaya dari Amerika Serikat, cabang mana pun, untuk mempersenjatai kelompok oposisi Iran di Kurdistan,” ujarnya. AFP
Baca Juga: Tiba di Washington DC, Presiden Prabowo akan Bertemu Trump dan Hadiri KTT Perdamaian Gaza
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








