Batu Bara Kembali Dilirik Imbas Konflik di Timur Tengah

Iran ekonomi dunia
Kapal kargo Thailand yang terkena serangan di kawasan Teluk. Foto: AFP

Gangguan pasokan minyak dan gas mendorong peningkatan permintaan batu bara. Pelaku usaha menunggu langkah pemerintah.

JAKARTA (gokepri) – Lonjakan permintaan batu bara datang di saat yang tak terduga. Konflik di Timur Tengah mengguncang pasokan minyak dan gas, mendorong sejumlah negara kembali melirik batu bara. Namun di Indonesia, peluang itu belum sepenuhnya bisa ditangkap. Produksi masih terikat kebijakan pemerintah.

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mencatat adanya peningkatan permintaan dari pasar internasional, termasuk Filipina. Tren ini muncul ketika negara-negara di Asia kesulitan mendapatkan pasokan energi alternatif. Batu bara kembali menjadi pilihan cepat untuk menjaga pembangkit listrik tetap menyala.

Baca Juga: Darurat BBM di Filipina

Di sisi pelaku usaha, situasi ini dianggap sebagai momentum. Harga menguat, permintaan meningkat. Namun respons produksi tidak bisa serta-merta naik. Sejak awal tahun, pemerintah memangkas rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), yang menjadi acuan produksi tahunan perusahaan tambang.

“Kalau ada penyesuaian RKAB, ini jadi ruang untuk optimalkan produksi,” kata Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani, Rabu, 25 Maret 2026, dikutip dari Bisnis.com.

RKAB berfungsi sebagai batas produksi. Ketika kuota turun, kemampuan perusahaan menambah pasokan ikut terbatas. Tanpa revisi, peluang ekspor berisiko tidak maksimal.

Pemerintah mulai memberi sinyal perubahan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut RKAB akan disesuaikan. Namun keputusan akhir masih menunggu pembahasan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. “Akan diubah,” ujarnya.

Selain kuota, pemerintah juga menyiapkan instrumen fiskal berupa bea keluar batu bara. Targetnya mulai berlaku pada 1 April 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk menangkap windfall profit ketika harga komoditas melonjak hingga sekitar US$135 per ton.

Langkah tersebut berkaitan dengan kondisi fiskal. Kenaikan harga minyak dunia mendorong beban subsidi energi. Tekanan terhadap anggaran negara meningkat. Bea keluar menjadi salah satu opsi untuk menambah penerimaan.

Meski demikian, besaran tarif belum diumumkan. Isu yang beredar menyebut kisaran 5 hingga 10 persen. Purbaya belum mengonfirmasi. Ia menegaskan keputusan tarif berada di tingkat presiden.

Di sisi lain, pelaku usaha menghadapi tekanan biaya produksi. Harga bahan bakar meningkat seiring gejolak energi global. Padahal, komponen ini menyumbang porsi besar dalam operasi tambang. Kondisi ini membuat perhitungan produksi menjadi lebih kompleks. “Kenaikan biaya jadi faktor yang perlu diperhitungkan,” kata Gita.

Indonesian Mining Association (IMA) melihat situasi ini sebagai peluang yang perlu dimanfaatkan cepat. Sekretaris Jenderal IMA Tony Wenas mendorong pemerintah memberi ruang lebih luas bagi produksi dan ekspor. Dengan permintaan tinggi, potensi penerimaan negara ikut terdongkrak. “Negara juga untung,” ujarnya.

Permintaan yang meningkat tidak lepas dari perubahan cepat di pasar energi global. Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan gas alam cair (LNG), terutama dari kawasan Teluk. Sejumlah negara Asia mulai beralih ke batu bara untuk menjaga stabilitas listrik.

Laporan Bloomberg mencatat negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Bangladesh mulai meningkatkan penggunaan batu bara. Di Bangladesh, pasokan gas ke pembangkit listrik dan industri pupuk berkurang, lalu digantikan dengan batu bara.

Analis Rystad Energy Sam Chua menyebut batu bara masih mendominasi bauran energi listrik di Asia, dengan kontribusi lebih dari 40 hingga 50 persen. Ketika harga LNG melonjak, peralihan ke batu bara menjadi langkah yang cepat.

“Permintaan gas turun karena LNG terlalu mahal,” kata Chua.

Gangguan pasokan juga terjadi di Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar dunia. Fasilitas Ras Laffan dilaporkan mengalami kerusakan yang memengaruhi sekitar 17 persen kapasitas produksi. Di saat yang sama, jalur pelayaran di Selat Hormuz menghadapi hambatan, membuat distribusi gas semakin sulit.

Kondisi ini mendorong kenaikan harga energi secara luas. Harga batu bara acuan Newcastle naik ke level tertinggi sejak akhir 2024. Negara-negara Asia pun bergerak cepat mengamankan pasokan, terutama menjelang musim panas saat konsumsi listrik meningkat.

Filipina termasuk yang aktif mencari tambahan pasokan. Negara itu membuka pembicaraan dengan Indonesia untuk memastikan ketersediaan batu bara. Kebutuhan listrik diperkirakan melonjak seiring meningkatnya penggunaan pendingin udara. BISNIS.COM

Baca Juga: Pensiun Dini PLTU Batu Bara, PLN Gandeng Badan Energi Internasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait