Bank Indonesia menyiapkan puluhan triliun rupiah untuk penukaran uang. Tradisi bagi-bagi “angpao Lebaran” kembali menggerakkan antrean warga di berbagai kota.
BATAM (gokepri) – Matahari belum sepenuhnya turun ketika barisan warga mulai memanjang di kawasan Taman Gurindam 12, Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Sebagian membawa amplop kosong. Sebagian lain menggenggam uang lama yang sudah dilipat rapi.
Mereka datang dengan satu tujuan: menukar uang menjadi pecahan baru. Bagi banyak keluarga, tradisi membagikan uang kepada anak-anak saat Hari Raya Idul Fitri hampir sama pentingnya dengan hidangan ketupat di meja makan.
Baca Juga:
Minggu sore itu, layanan kas keliling Bank Indonesia (BI) menjadi pusat keramaian. Antrean berlangsung sejak siang hingga menjelang petang. “Saya tukar pecahan kecil senilai Rp1 juta untuk saudara dan keponakan,” kata Ardiansyah, warga Tanjungpinang yang ikut mengantre di lokasi, dikutip dari ANTARA.
Warga lain, Aldi, menukar uang pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 dengan total Rp800 ribu. Uang tersebut, kata dia, akan dibagikan kepada anak-anak yang datang bersilaturahmi saat Lebaran.
“Sekarang lebih mudah karena ada layanan kas keliling. Tidak perlu lagi keliling bank,” ujarnya.
Fenomena antrean penukaran uang bukan hal baru setiap Ramadan. Bank Indonesia bahkan telah menjadikannya program tahunan melalui layanan Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI).

Program ini berlangsung sejak 13 Februari hingga 15 Maret 2026. Tujuannya memastikan ketersediaan uang rupiah yang layak edar sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh pecahan kecil untuk kebutuhan Lebaran.
Kepala Kantor Perwakilan BI Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan pihaknya menyiapkan uang kartal sebesar Rp2,9 triliun untuk wilayah Kepri selama Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya.
“Tahun ini kami menyediakan Rp2,9 triliun. Ini naik sekitar 38 persen dari tahun lalu yang sebesar Rp2,1 triliun,” kata Rony saat penutupan acara Kepri Ramadhan Fair (KURMA) 2026 di Tanjungpinang.
Peningkatan ini, menurut dia, mencerminkan tingginya kebutuhan uang tunai masyarakat pada periode Ramadan hingga Lebaran—masa dengan tingkat konsumsi tertinggi sepanjang tahun.
Selain menambah pasokan uang kartal, BI juga menaikkan batas maksimal penukaran uang per orang. Jika tahun lalu maksimal Rp4,3 juta, tahun ini menjadi Rp5,3 juta.
Untuk memperluas akses masyarakat, BI Kepri bekerja sama dengan 15 bank dalam layanan penukaran uang. Warga juga dapat melakukan pemesanan melalui platform digital PINTAR di laman pintar.bi.go.id.
Selain di kantor bank, penukaran juga tersedia di berbagai lokasi strategis, termasuk masjid besar dan pusat perbelanjaan. Salah satu titik layanan di Batam digelar di One Batam Mall pada 9–10 Maret 2026. Pendekatan ini bertujuan mengurangi kepadatan antrean sekaligus mempercepat distribusi uang layak edar.
Skema serupa diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, BI membuka layanan penukaran di 3.191 titik yang bekerja sama dengan 21 bank.
Uang Lusuh Tetap Bisa Ditukar

Menjelang Lebaran, banyak masyarakat ragu menukar uang yang sudah kusut atau tampak lusuh. Bank Indonesia memastikan uang dalam kondisi tersebut tetap dapat ditukar.
Analis Senior Departemen Pengelolaan Uang BI, Fenty Tirtasari Ekarina, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir selama uang tersebut masih berlaku dan tidak rusak berat.
“Kami menerima penukaran berbagai pecahan dan tahun emisi sepanjang masih berlaku dan kondisinya tidak rusak,” kata Fenty dalam siniar bertema Jaga Harga, Jaga Rupiah: Pengendalian Inflasi Jelang HBKN bersama SERAMBI 2026.
Namun BI mengingatkan agar uang yang akan ditukar tidak dilakban, diselotip, atau distaples. Masyarakat cukup merapikan uang dan mengelompokkannya berdasarkan pecahan serta tahun emisi agar proses penukaran lebih cepat. Setiap penukar juga wajib membawa KTP dan tidak dapat diwakilkan.
Di banyak keluarga Indonesia, uang baru yang dibagikan saat Lebaran bukan sekadar hadiah kecil bagi anak-anak. Tradisi ini telah menjadi bagian dari ritual sosial setelah salat Idul Fitri dan kunjungan silaturahmi.
Amplop kecil berisi uang sering menjadi simbol berbagi rezeki. Bagi anak-anak, momen ini bahkan menjadi salah satu kenangan paling ditunggu setiap tahun. Di sisi ekonomi, tradisi tersebut juga mencerminkan lonjakan perputaran uang tunai selama periode hari besar keagamaan nasional.
Bank Indonesia mencatat, khusus untuk wilayah DKI Jakarta saja, total uang kartal yang disiapkan selama Ramadan dan Idul Fitri 2026 mencapai Rp52,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp1,8 triliun dialokasikan untuk layanan penukaran melalui program SERAMBI.
Meski transaksi digital terus meningkat, kebutuhan uang tunai menjelang Lebaran masih sulit tergantikan. Banyak masyarakat tetap memilih uang fisik untuk dibagikan langsung kepada kerabat atau anak-anak. Kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah percepatan ekonomi digital, sebagian tradisi sosial tetap bertahan.
Baca Juga: THR Cair, Awas Penipuan Digital Mengintai
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









