BATAM (gokepri) – Proyek pelebaran jalan di kawasan Kantor DPRD Batam menutup total akses ke Masjid Raya. Warga protes karena aktivitas ibadah terganggu.
Penutupan total akses jalan akibat proyek pelebaran dan pembangunan drainase di ruas Jalan Engku Hang Tuah itu membuat jamaah Masjid Raya Batam harus memutar jauh untuk beribadah.
Biasanya cukup lima menit berjalan kaki, kini mereka harus menempuh perjalanan hingga sepuluh menit lebih. Dari pantauan di lapangan, jalur utama dari kantor DPRD menuju Masjid Raya dan Pengadilan Negeri Batam tertutup sepenuhnya. Kawasan itu tampak semrawut oleh alat berat, tumpukan tanah, dan jalan yang diblokade seng.
Proyek senilai Rp8,1 miliar ini dikerjakan PT Artha Gemah Lestari dan diawasi CV Bergin Dwi Dimensi. Pekerjaan dimulai sejak 14 Agustus 2025 dengan target selesai dalam 120 hari kerja. Namun, setelah lebih dari sebulan berjalan, belum ada tanda proyek akan rampung dalam waktu dekat.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Batam, Arlon Veristo, menyoroti cara kerja kontraktor yang dianggap abai terhadap kebutuhan masyarakat. Ia menilai proyek di jantung pemerintahan itu seharusnya dikerjakan bertahap agar tidak menutup seluruh akses.
“Ini bukan kawasan eksklusif untuk pegawai dewan. Warga ke pengadilan, jamaah ke Masjid Raya, bahkan aktivitas Asrama Haji juga terganggu,” kata Arlon, Senin, 6 Oktober 2025. Ia juga mengingatkan agar kontraktor tidak menjadikan cuaca buruk sebagai alasan keterlambatan. “Kalau terus hujan, progres bisa terganggu. Tapi jangan sampai molor terlalu lama. Masyarakat sudah cukup terganggu.”
Anggota Komisi I DPRD Batam, Tumbur Hutasoit, menambahkan agar kontraktor tetap menjaga mutu pekerjaan meski cuaca menjadi kendala. “Ini proyek di jantung kota, bukan di pelosok. Kualitasnya harus terjaga,” ujarnya.
Warga di sekitar proyek berharap pemerintah segera membuka kembali akses menuju Masjid Raya, setidaknya untuk pejalan kaki. “Kasihan orang tua yang mau salat berjamaah,” kata seorang warga.
Di lokasi proyek, para pekerja hanya menyebut mereka tidak berwenang memberi penjelasan. “Kami hanya pelaksana lapangan. Soal penutupan jalan, itu keputusan pengawas,” ujar salah satu dari mereka.
Dengan cuaca yang masih tak menentu, warga khawatir penutupan jalan bakal berlangsung lebih lama. Mereka menunggu langkah pemerintah mengevaluasi agar proyek di pusat kota itu tidak terus mengganggu aktivitas warga.
Baca Juga: Proyek Kantor Lurah Rp1,3 Miliar di Fasum Sukajadi Diprotes Warga
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








