Kisah Perjuangan Perempuan Pengawas Pemilu Dibukukan

Buku Srikandi Mengawasi
Anggota Bawaslu Kepri Maryamah saat peluncuran buku Srikandi Mengawasi: Kisah Perempuan Pengawas Pemilu di Batam, Selasa (12/8/2025). Buku ini memuat kisah perjuangan 30 perempuan pengawas pemilu dalam mengawal demokrasi. GOKEPRI/Muhammad Ravi

BATAM (gokepri) – Peran ganda dan tekanan mental menjadi tantangan utama perempuan pengawas pemilu. Pengalaman tersebut dicatat dalam buku Srikandi Mengawasi untuk menginspirasi dan menguatkan para pengawas.

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggelar bedah buku Srikandi Mengawasi di Batam, Selasa (12/8). Buku ini mengungkap tantangan dan peran perempuan dalam mengawal Pemilu 2024.

Buku setebal 244 halaman ini memuat kisah 30 perempuan pengawas pemilu di berbagai daerah. Acara bedah buku dihadiri penulis sekaligus anggota Bawaslu Kepri Maryamah dan Rosnawati, Mikewati Vera Tengka dari Koalisi Perempuan Indonesia, serta Indrawati Sugiatiningsih dari Perkata Foundation.

HBRL

Tenaga Ahli Bawaslu RI, Apriyanti Marwah, menjelaskan penerbitan buku bertujuan memperkuat posisi perempuan sebagai pengawas pemilu. Pengalaman mereka didiskusikan dan divalidasi agar kontribusi para “srikandi” ini diketahui publik.

Buku Srikandi Mengawasi
Anggota Bawaslu Kepri Maryamah saat peluncuran buku Srikandi Mengawasi: Kisah Perempuan Pengawas Pemilu di Batam, Selasa (12/8/2025). Buku ini memuat kisah perjuangan 30 perempuan pengawas pemilu dalam mengawal demokrasi. GOKEPRI/Muhammad Ravi

Salah satu penulis, Maryamah, mengungkapkan perempuan pengawas pemilu sering memikul peran ganda. Mereka harus bersikap profesional di saat yang sama juga memiliki tanggung jawab pribadi. “Saat tugas mendadak datang, kita wajib profesional,” katanya.

Dalam bukunya, Maryamah menceritakan pengalaman tak menyenangkan saat bertugas. Ia pernah adu mulut dengan warga yang mabuk saat menertibkan alat peraga kampanye.

Maryamah juga pernah dihadang sekelompok orang bersenjata balok saat hendak mengklarifikasi dugaan politik uang. “Kalau mental kita lemah, kita tidak akan sanggup,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mendapat ucapan bernada ancaman dan merendahkan dari salah satu kandidat. Kejadian itu terjadi di forum resmi setelah debat kandidat.

“Ini ujian mental bagi kami sebagai perempuan,” ungkap Maryamah.
Ia menegaskan prinsip utama pengawas pemilu adalah menjaga pemilu damai dengan menegakkan hukum secara konsisten. “Penegakan hukum tetap menjadi yang utama,” pungkasnya.

Baca Juga: Kerentanan Pekerja Migran Perempuan Dibahas dalam Rakernas PWKI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait