Singapura-Malaysia Kembangkan Zona Ekonomi di Johor, Apa Dampaknya ke Indonesia?

JS SEZ Singapura Johor
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan PM Malaysia Anwar Ibrahim saat mengesahkan kesepakatan terkait Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura pada 7 Januari. FOTO STRAITS TIMES: AZMI ATHNI

JAKARTA (gokepri) — Kerja sama Malaysia dan Singapura dalam mengembangkan Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) memantik perhatian di Indonesia. Persaingan ini menuntut Indonesia untuk berbenah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai inisiatif Malaysia tersebut meniru keberhasilan Indonesia dalam membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Namun, di balik potensi manfaat regional, JS-SEZ juga menghadirkan tantangan baru bagi Indonesia dalam menarik investasi.

“Mereka melihat kita sudah membangun beberapa KEK, terutama Malaysia melihat itu sebagai salah satu keberhasilan Indonesia mengembangkan kritikal mineral,” kata Airlangga, Senin, 13 Januari 2025. “Mereka ingin meniru untuk bidang inovasi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan lain-lain.”

HBRL

Airlangga menilai Indonesia tidak bisa melarang negara lain meniru kebijakan. Kuncinya, kata dia, Indonesia harus siap bersaing. “Ancaman ada di mana-mana, tapi kita harus bersaing, itu saja kuncinya,” ujarnya.

Sepanjang 2024, KEK di Indonesia telah menghimpun investasi Rp 82,6 triliun dan menyerap 42.930 tenaga kerja. Secara kumulatif sejak 2012 hingga 2024, investasi di KEK mencapai Rp 256,7 triliun dengan 156.208 tenaga kerja terserap dan melibatkan 394 pelaku usaha. Saat ini, terdapat 24 KEK di berbagai sektor, termasuk manufaktur, ekonomi digital, kesehatan, pendidikan, serta maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat.

persaingan KEK Johor
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Denpasar, Bali, Minggu (29/9/2024). ANTARA/Rolandus Nampu

Namun, kehadiran JS-SEZ menjadi tantangan bagi Indonesia dalam menarik investasi asing, terutama di sektor pusat data (data center). Penasihat Khusus Presiden Prabowo Subianto di bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengakui persaingan semakin ketat.

Ia mencontohkan, Indonesia tertinggal jauh dari Malaysia dalam investasi pusat data, bahkan dibandingkan Johor sekalipun. “Indonesia punya aspirasi menggaet lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI) ke pusat data, ternyata kita ketinggalan jauh. Tak usah bandingkan dengan Singapura. Dibanding Johor saja, kita sudah jauh tertinggal,” kata Bambang dalam acara Mindialogue, Jumat, 10 Januari 2025.

Anggota DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin, mewanti-wanti tantangan persaingan ekonomi yang semakin ketat, khususnya bagi Batam. “Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapura berpotensi mengancam perekonomian Kepri. Industri di Batam umumnya terkait dengan kantor-kantor perusahaan Eropa atau Asia yang berbasis di Singapura. Ini bisa berdampak pada ekonomi Indonesia,” kata Wahyu, Sabtu, 11 Januari.

Menghadapi persaingan ini, Wahyu mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk berbenah di berbagai sektor. Ia menekankan pentingnya penguatan industri manufaktur dan pariwisata di Batam dan Kepri. “Untuk bersaing, pemerintah Indonesia, khususnya Batam dan Kepri, harus berbenah, terutama di sektor industri manufaktur dan pariwisata,” ujarnya.

Selain perbaikan infrastruktur dan sektor industri, Wahyu juga mendorong pemberian insentif khusus yang lebih menarik bagi investor. Langkah ini dianggap penting untuk mempertahankan daya tarik Batam sebagai tujuan investasi utama di Indonesia. “Insentif dan relaksasi bagi investor harus digencarkan,” imbuhnya.

Zona Ekonomi Johor-Singapura

SEZ Johor Singapura
The Causeway akses perbatasan Johor dan Singapura. Foto: Straits Times

Singapura dan Malaysia resmi menandatangani perjanjian pembentukan JS-SEZ pada pertemuan puncak pemimpin kedua negara ke-11 atau Leaders’ Retreat di Putrajaya, Malaysia, Selasa, 7 Januari 2025. Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, hadir dalam seremoni tersebut.

Wong menegaskan JS-SEZ bertujuan menciptakan lapangan kerja dan memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat kedua negara, serta menarik investasi global melalui kekuatan komplementer kedua negara. Anwar Ibrahim menyoroti keunikan inisiatif ini dan menekankan stabilitas politik dan kebijakan ekonomi yang jelas di kedua negara sebagai daya tarik bagi investor.

JS-SEZ, yang pertama kali diumumkan pada Oktober 2023, dirancang untuk mempermudah pergerakan barang dan orang antara Johor dan Singapura.

Malaysia sudah mengumumkan serangkaian insentif pajak untuk memikat investor ke Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ). Pemangkasan pajak menjadi andalan utama, salah satunya tarif khusus 5 persen bagi perusahaan yang berinvestasi di sektor-sektor bernilai tinggi.

Kementerian Keuangan Malaysia dan Pemerintah Negara Bagian Johor, dalam pernyataan bersama 8 Januari 2025, menyebutkan tarif 5 persen ini berlaku selama 15 tahun. Insentif ini menyasar perusahaan di bidang manufaktur dan jasa tertentu. Rantai pasok kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum, perangkat medis, serta manufaktur kedirgantaraan, menjadi prioritas.

Tak hanya perusahaan, pekerja terampil di JS-SEZ pun kebagian insentif. Mereka akan dikenai pajak penghasilan 15 persen selama 10 tahun. Semua insentif ini berlaku surut sejak 1 Januari. Pemerintah Johor juga memangkas bea hiburan sejak awal tahun.

JS-SEZ membentang seluas 3.571 kilometer persegi di selatan Johor, dari pantai timur hingga barat. Wilayah yang empat kali lebih luas dari Singapura ini terbagi dalam sembilan zona unggulan: Pusat Kota Johor Bahru, Iskandar Puteri, Forest City, Kompleks Minyak Terpadu Pengerang, Tanjung Pelepas-Tanjung Bin, Pasir Gudang, Senai-Skudai, Sedenak, dan Desaru.

Pada 2030, JS-SEZ diproyeksikan memberikan kontribusi 117,1 miliar ringgit per tahun bagi perekonomian Malaysia dan menciptakan 20 ribu lapangan kerja terampil melalui 100 proyek.

Pembentukan JS-SEZ adalah langkah strategis Malaysia dan Singapura untuk memperkuat daya saing ekonomi mereka di kawasan. Kolaborasi ini berpotensi menarik investasi di sektor-sektor yang juga menjadi fokus Indonesia, seperti pusat data, ekonomi digital, dan mineral kritis. Keunggulan Singapura dalam hal infrastruktur, teknologi, dan keuangan, dikombinasikan dengan lahan dan sumber daya Malaysia, menciptakan daya tarik tersendiri bagi investor.

Persaingan ini menuntut Indonesia untuk berbenah. Kemudahan berinvestasi, perbaikan infrastruktur, kepastian hukum, dan insentif yang menarik menjadi krusial. Indonesia perlu mengevaluasi daya saing KEK yang sudah ada dan merumuskan strategi untuk menarik investasi di sektor-sektor prioritas. Jika tidak, Indonesia berpotensi kehilangan momentum dan kalah bersaing dengan inisiatif regional seperti JS-SEZ. ***

Baca Juga:
Sektor-Sektor Bisnis yang Diuntungkan SEZ Johor-Singapura

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait