BATAM (gokepri.com) – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepri bertekad membawa perubahan besar bagi sektor perikanan di daerah ini.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan yaitu program sertifikasi bagi nelayan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan sumber daya laut yang lebih profesional.
Ketua DPD HNSI Kepri Distrawandi mengatakan, untuk meningkatkan kualitas nelayan, tiga hal utama yang harus dikuasai adalah pengoperasian kapal, navigasi laut, serta penguasaan mesin kapal.
Baca Juga: Batam Ekspor Ikan 2.407,5 Ton di 2024, Tujuan Utama Singapura
“Kami akan memastikan nelayan Kepri memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara mengelola kapal, mengoperasikan kapal dengan baik, dan teknik menangkap ikan yang efisien. Dengan itu, hasil tangkapan mereka bisa dipastikan layak untuk dijual baik di pasar domestik maupun untuk ekspor,” ungkap Distrawandi.
Saat ini, meskipun nelayan Kepri mampu menangkap ikan dalam jumlah yang sangat besar, sering kali kualitas hasil tangkapan yang dihasilkan tidak memenuhi standar ekspor.
“Misalnya, kita bisa menangkap hingga ratusan ton ikan, tapi yang layak diekspor hanya sekitar 20 hingga 30 ton. Ini masalah kualitas yang harus segera kita atasi,” tambahnya.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah sertifikasi bagi para nelayan untuk memastikan mereka memiliki keterampilan yang memadai dalam mengelola kapal dan memahami hukum laut internasional.
Sertifikasi ini, menurut Distrawandi, tidak hanya akan meningkatkan kualitas hasil tangkapan, tetapi juga memberikan pengetahuan yang lebih dalam kepada nelayan mengenai cara-cara yang lebih profesional dalam menangkap ikan.
“Sertifikat ini bukan berlaku selamanya, melainkan memiliki masa berlaku 3 tahun, setelah itu harus diuji lagi. Dengan cara ini, kami harap nelayan tidak hanya pergi ke laut tanpa kemampuan yang cukup, tapi dengan pengetahuan yang mendalam dan siap menghadapi tantangan di laut,” jelas Distrawandi.
Ketua Umum HNSI Sumardjono mengatakan hal yang dinilai penting untuk dilakukan sertfikasi, yaitu terkait pengoperasian kapal.
“Kalau mengoperasikan kapal itu ada tiga, tentang navigasi, penguasaan mesin, penguasaan bagaimana menangkap ikan dengan baik,” ujar Sumardjono.
Menurutnya, jika para nelayan dilengkapi dengan sertifikat yang sesuai, maka menjadi nilai tambah dan pengetahuan bagi nelayan pada saat melaut untuk mencari ikan.
“Jadi jangan sampai nelayan kita ini ke laut tanpa kemampuan. Ini harus kita coba untuk kita sertifikasi. Selama ini nelayan kita nangkap-nangkap saja. Kapalnya juga kalah sama negara2 tetangga. Terus semangatnya juga kalah. Bagaimana kita mendorong semangat manusianya setelah di sertifikasi, dia mempunyai daya tahan di laut,” kata dia.
Sumardjono mengatakan dari hasil tangkapan ikan para nelayan yang mencapai ratusan ton, yang berhasil menembus pasar ekspor hanya berkisar 20-30 ton.
Melalui pelaksanaan sertifikasi untuk nelayan ini diharapkan menjadi salah satu wadah agar para nelayan mendapatkan pengetahuan terkait tata cara yang baik dalam menangkap ikan.
“Bayangkan kita nangkap 100 ton, yang layak hanya 20 ton. Itu yang sering terjadi. Itu yang perlu kami kasih bekal pengetahuan, agar sertifikatnya ada,” ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









