57 Ribu Orang Utan Terancam Mati Akibat Kebakaran Hutan di Kalimantan

Orang Utan. (internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Sekitar 57.000 orang utan terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Dari jumlah tersebut, sekitar 60% disebut mengalami dampak serius karena kehilangan habitat.

Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Drh Raden Wisnu Nurcahyo, dalam podcast UGM bertajuk “Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya”, yang dikutip Senin (19/10/2026).

“Dari 57.000 itu yang 60%-nya itu betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat,” kata Wisnu.

Menurut Wisnu, dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap orang utan tidak hanya berupa hilangnya tempat tinggal. Kebakaran juga menghancurkan sumber pakan dan air yang selama ini bergantung pada keberadaan hutan.

Bagi orang utan, pohon merupakan sumber makanan. Sementara itu, pucuk-pucuk pohon juga menjadi salah satu sumber air. Ketika hutan terbakar, orang utan terpaksa turun ke permukaan tanah untuk mencari air.

Namun, turun ke tanah justru membawa risiko lain. Lahan gambut yang terbakar dapat menyimpan bara di bawah permukaan, sehingga satwa yang melintas berpotensi mengalami luka bakar.

“Ketika satwa turun ke bawah dan menginjak tanah, banyak kakinya yang terkena luka bakar karena lahan gambut menyimpan bara di dalam tanah,” kata dia.

Wisnu menyebut kehilangan habitat dan sumber pakan menjadi dua dampak utama karhutla terhadap orang utan. Hilangnya keragaman tumbuhan bahkan dapat mengganggu perilaku alami orang utan dalam menjaga kondisi tubuhnya.

Dia mengatakan orang utan memiliki perilaku yang dikenal sebagai self-medicated animal behavior. Istilah tersebut merujuk pada perilaku satwa yang memanfaatkan tumbuhan tertentu untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan.

“Jadi, dia memerlukan keragaman pakan itu sebagai obat dia kalau sakit,” kata Wisnu.

Ads bp batam 2026 baru

Wisnu mencontohkan hasil penelitiannya di Sebangau, Kalimantan Tengah. Di kawasan tersebut, dia menemukan sejumlah jenis tumbuhan yang dimanfaatkan orang utan. Menariknya, beberapa tumbuhan yang digunakan orang utan juga dikenal masyarakat Dayak sebagai tanaman obat.

“Misalnya di Sebangau, saya penelitian di sana ya, itu ada beberapa tanaman yang oleh masyarakat Dayak itu sebagai obat-obatan. Sumbernya dari orang utan. Dia belajar,” kata dia.

Karena itu, ketika hutan terbakar dan keragaman tumbuhan menghilang, orang utan bukan hanya kehilangan sumber makanan. Mereka juga kehilangan pilihan tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tubuhnya.

Kebakaran hutan dan lahan juga membawa ancaman langsung terhadap kesehatan orang utan. Wisnu menyebut gangguan yang paling sering ditemukan antara lain iritasi mata dan infeksi saluran pernapasan.

Gangguan pernapasan tersebut bahkan dapat berujung pada kematian. Namun, jumlah orang utan yang mati akibat kebakaran hutan dan lahan diperkirakan lebih besar daripada yang berhasil ditemukan dan tercatat.

Menurut Wisnu, petugas umumnya hanya menemukan satwa yang berada di area yang mudah dijangkau manusia, seperti jalur yang sering dilalui.

Sementara itu, sebagian besar habitat orang utan berada di kawasan hutan yang luas dan sulit dipantau.

“Yang jadi masalah beberapa petugas itu hanya menemukan beberapa di jalur jalan yang sering dilalui manusia, tetapi yang jutaan hektare ya. Kalau di Kalimantan habitatnya orang utan itu 1,9 juta hektare ya. Kalau di Sumatera sekitar lebih sedikit ya 1,1 juta hektare. Itu yang di tengah itu enggak pernah terpantau,” kata dia.

Kondisi tersebut membuat jumlah kematian satwa akibat karhutla sulit diketahui secara pasti. Orang utan maupun satwa liar lain yang berada jauh di dalam hutan kemungkinan tidak pernah ditemukan ketika mati.

“Yang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan,” ujar Wisnu. *

(sumber: detik.com)

 

Pos terkait