BATAM (gokepri.com) – Pameran Manufacturing Indonesia Series – Batam Chapter 2026 digelar di Kota Batam, Kepulauan Riau, mulai Selasa (29/9/2026), menghadirkan lebih dari 200 teknologi dan solusi manufaktur untuk mendukung kebutuhan industri di kawasan tersebut.
Pameran perdana yang berlangsung di Radisson Golf & Convention Center Batam hingga 1 Oktober 2026 itu mengusung tema “Indonesia’s New Industrial Gateway”.
Kegiatan yang digelar PT Pamerindo Indonesia tersebut mempertemukan pelaku industri dengan penyedia teknologi, solusi produksi, serta calon mitra bisnis.
Portfolio Director PT Pamerindo Indonesia Meysia Stephannie mengatakan, penyelenggaraan pameran di Batam ditujukan untuk mendekatkan akses industri terhadap teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
“Manufacturing Indonesia Series – Batam Chapter kami hadirkan untuk membuka akses yang lebih dekat antara penyedia teknologi dan pelaku industri di Batam,” ujarnya.
Menurut dia, posisi Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas serta kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia menjadikan kota tersebut memiliki peran strategis dalam ekosistem industri regional.
Berbagai teknologi yang dipamerkan mencakup kebutuhan industri elektronik dan semikonduktor, precision engineering, machining, metal fabrication, metalworking, otomasi, smart manufacturing, hingga solusi pendukung manufaktur.
Deputy of Investment BP Batam Fary Djemy Franscis mengatakan, kehadiran pameran tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem industri dan investasi di Batam.
Namun, menurut Fary, penguatan industri tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan dan tenaga kerja. Kecepatan pelayanan dan kepastian regulasi juga menjadi faktor penting bagi investor.
“Pesan Presiden, bukan hanya mengandalkan lahan, bukan hanya pekerja, tetapi regulasi dan pelayanan harus cepat,” katanya.
Karena itu, BP Batam terus membenahi pelayanan perizinan, salah satunya melalui percepatan penerbitan Persetujuan Lingkungan (PL).
Fary menyebut, apabila seluruh persyaratan telah lengkap, proses penerbitan persetujuan lingkungan ditargetkan dapat diselesaikan sekitar 29 hari kerja.
Percepatan tersebut dilakukan melalui pembentukan Tim Uji Kelayakan Lingkungan Hidup (TUK-LH) KPBPB Batam yang melibatkan BP Batam, Dinas Lingkungan Hidup, serta tenaga ahli dari kalangan akademisi.
“Kalau sudah lengkap syarat-syaratnya, 29 hari kerja sudah bisa kita klik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebelumnya proses analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dapat memakan waktu sekitar tiga hingga enam bulan di tingkat pusat.
Menurut Fary, penyederhanaan proses di Batam ditujukan untuk memberikan kepastian waktu kepada investor dengan tetap memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan.
Selain Persetujuan Lingkungan, pelaku usaha di KPBPB Batam juga perlu memenuhi sejumlah persyaratan dasar, di antaranya Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan.
Fary mengatakan kepastian waktu dalam proses perizinan penting agar perusahaan dapat segera masuk ke tahap konstruksi maupun produksi setelah seluruh persyaratan terpenuhi.
“Bukan hanya lahannya, tetapi bagaimana kita memberikan kepastian kepada investor,” katanya.
Ia menambahkan, BP Batam dalam setahun terakhir terus membangun komunikasi dengan dunia usaha dan asosiasi pengusaha untuk mengetahui berbagai kebutuhan pelaku usaha.
“Teman-teman mau ketemu dengan kita, dengan BP Batam, pasti kita temui. Kita sedang membangun kepercayaan itu sebagai sahabat yang sama-sama bisa membangun Batam,” ujarnya.
Pembenahan tersebut juga dilakukan seiring penerapan PP Nomor 25 Tahun 2025 tentang perubahan penyelenggaraan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB).
Regulasi tersebut mengubah sejumlah ketentuan dalam PP Nomor 41 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan KPBPB. Sementara PP Nomor 26 Tahun 2025 mengatur perencanaan, perlindungan, dan pengelolaan lingkungan hidup.
Di sisi lain, Manufacturing Indonesia Series – Batam Chapter 2026 tidak hanya menghadirkan area pameran. Penyelenggara juga menyiapkan sejumlah program untuk membantu pelaku industri mendapatkan solusi atas persoalan di lapangan.
Salah satunya Kaizen Clinic, layanan konsultasi gratis secara langsung dengan lima praktisi yang memiliki keahlian di bidang Lean Manufacturing, Kaizen, Karakuri, keselamatan kerja, Lean Six Sigma, CNC, dan otomasi.
Penyelenggara juga menghadirkan Business Matching Programme yang mempertemukan kebutuhan calon pembeli dengan peserta pameran berdasarkan produk, teknologi, atau solusi yang dibutuhkan.
Selain itu, seminar industri menghadirkan pembicara dari BP Batam, Efortech, dan APTIKNAS untuk membahas perkembangan industri, peluang investasi, tantangan manufaktur, serta pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan daya saing.
Penulis: Engesti








