Turis Datang Pagi dan Pulang Sore, Model Wisata Batam Perlu Dievaluasi

Pelabuhan internasional batam
Turis mancanegara tiba di Terminal Feri Batam Center. Dok. BP Batam

BATAM (gokepri) – Kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam terus naik. Namun banyak turis Singapura dan Malaysia datang hanya dua hari satu malam, bahkan sekadar belanja bahan pokok.

Fenomena ini menjadi sorotan Komisi VII DPR RI saat kunjungan kerja ke Batam, Selasa 10 Februari 2026. Mereka mempertanyakan apakah lonjakan jumlah wisatawan benar-benar berdampak luas bagi masyarakat.

“Kami datang untuk membahas fenomena turis Singapura dan Malaysia yang masuk ke Batam. Mereka datang pagi, pulang sore, atau hanya menginap satu malam,” kata Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay.

Model wisata batam
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay (kedua dari kanan) memimpin sesi diskusi kunjungan kerja spesifik di Batam Tourism Polytechnic, Kepulauan Riau, Selasa (10/2/2026). ANTARA/Laily Rahmawaty

Baca Juga: Kepri Kembali Jadi Magnet Turis Mancanegara, Sumbang Rp22 Triliun ke Ekonomi Daerah

Menurut Saleh, pola kunjungan seperti ini perlu dievaluasi. Batam tidak cukup hanya menjadi lokasi belanja cepat, tetapi harus mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di lebih banyak sektor.

Selisih nilai tukar rupiah dan dolar Singapura memang membuat harga barang di Batam relatif murah bagi warga negara tetangga. Di satu sisi, belanja itu tetap menggerakkan ekonomi. Namun Komisi VII menilai perputaran uang belum sepenuhnya menyentuh pelaku usaha kecil.

“Bagaimana supaya pendapatan masyarakat naik dan tidak hanya berputar di kalangan pengusaha besar. UMKM juga harus merasakan,” ujar Saleh. Komisi VII mengundang pelaku UMKM untuk menyampaikan pandangan mereka.

Anggota Komisi VII Bane Raja Manulu menyoroti rata-rata belanja wisatawan sebesar 226 dolar Amerika per kunjungan. Jika dibulatkan 300 dolar, nilainya sekitar Rp4,8 juta.

“Kalau dibulatkan 300 dolar itu sekitar Rp4,8 juta. Itu bisa saja hanya untuk belanja beras dan minyak. UMK Batam Rp5,6 juta, sementara bagi warga Singapura belanja Rp5 juta itu wajar,” kata Bane.

Ia berharap Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah mendorong kenaikan rata-rata lama tinggal wisatawan agar lebih dari dua hari. Dengan masa tinggal yang lebih panjang, sektor hotel, restoran, dan destinasi wisata dapat menikmati dampak ekonomi yang lebih merata.

“Kalau belanja kurang dari 300 dolar, bisa jadi itu hanya penyeberang harian,” ujarnya.

Baca Juga: Pariwisata Bali setelah Tertatih-Tatih

Data Dinas Pariwisata Kepri menunjukkan, jumlah wisman pada 2025 mencapai 2,27 juta orang, naik dari 1,67 juta orang pada 2024. Wisatawan nusantara tercatat 4,2 juta orang. Nilai devisa dari sektor pariwisata Kepri diperkirakan sekitar Rp22,6 triliun, dihitung dari rata-rata belanja 226 dolar Amerika per kunjungan dengan kurs Rp16.100.

Meski jumlahnya besar, rata-rata lama tinggal wisman di Kepri baru 1,89 hari atau mendekati dua hari.

“Ini yang terus kami dorong agar meningkat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepri Hasan.

Batam dan Kepri selama ini mengandalkan kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia. Tantangannya kini bukan lagi sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi mengubah pola kunjungan. Apakah Batam akan berkembang sebagai destinasi pengalaman dan rekreasi, atau tetap dikenal sebagai tempat belanja cepat lintas batas, menjadi pekerjaan rumah berikutnya. ANTARA

Baca Juga: Batam Ramai Dikunjungi Turis Asing, Singapura Masih Penyumbang Terbanyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait