Sejumlah kapal yang berlayar dari Batam menuju Singapura terpaksa tidak beroperasi, karena larangan Maritime and Port Authority of Singapore terkait kebijakan antisipasi penularan virus corona. Ditambah lagi Malaysia dengan kebijakan lockdown-nya, membuat arus masuk wisatawan mancanegara menuju Batam menurun drastis.
Operasional Pelabuhan Feri Internasional Batam center, Nika Astaga mengakui terjadinya penurunan penumpang kapal dengan kapasitas besar. Ini terlihat dari kapal-kapal yang berangkat setiap harinya, hanya tujuh trip ke Malaysia dan enam trip ke Singapura. .
“Jumlah penumpang hanya 188 orang, jauh dari biasanya di atas 5.000 penumpang,” katanya.
Meski sepi, pelabuhan tersebut tetap beroperasi. Namun tidak semua kapal diizinkan berlayar.
“Kapal yang boleh berangkat adalah yang mengantar dan menjemput. Cuma itu yang diizinkan syahbandar,” ujar Nika.
Antar-jemput yang dimaksud adalah WNA yang harus diantar ke Malaysia dan WNI yang dijemput untuk kembali ke Tanah Air. Sebab, WNI di Malaysia berbondong-bondong minta pulang karena perkembangan wabah Corona di Malaysia.
Aktivitas perusahaan juga terganggu, terutama yang bahan bakunya dari Cina. Sejumlah perusahaan terpaksa merumahkan karyawannya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Kadisnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti mengaku sudah mendengar kabar itu. Hanya saja, pihaknya belum mendapatkan laporan resmi.
“Mereka baru menyampaikan informasi saja, tapi belum buat laporan resmi kepada kami,” ungkapnya.
Menurut Rudi, keputusan perusahaan ini dikarenakan terhentinya stok bahan baku yang notabene 100 persen berasal dari China. Kebanyakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, elektronik, dan sejenisnya hanya memiliki stok bahan baku untuk satu bulan mendatang.
“Tapi ini bukan berarti semua perusahaan, hanya perusahaan yang kebanyakan bahan bakunya impor dari Cina,” jelasnya.
Jika semakin banyak perusahaan yang sulit melanjutkan operasionalnya di Batam, maka tak hanya anak sekolah dan ASN yang hari-hari harus di rumah. Karyawan perusahaan yang jumlahnya cukup besar di Batam juga terancam untuk berdiam diri di rumah. Kesunyian Batam pun terancam semakin panjang. (wan)









