MENYAPA NUSANTARA R

Sekolah Terintegrasi merawat mimpi anak bangsa

Sekolah terintegrasi
Pameran inovasi siswa dalam Gelar Griya Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 2 Banyumas di Gedung Gurinda Sarwa Mandala, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (17/10/2026). (ANTARA/Sumarwoto)

JAKARTA (gokepri) – Setiap anak memiliki mimpi tentang masa depan yang ingin diraihnya. Ada yang ingin mengenakan jas dokter, menjadi peneliti, mengabdi kepada negara sebagai diplomat, mengembangkan bakat menyanyi, atau menorehkan prestasi olahraga.

Mimpi-mimpi itu tumbuh dengan cara berbeda, tetapi memiliki satu kebutuhan yang sama, yakni kesempatan.

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka berani mencoba, guru yang mendampingi perjalanan mereka, serta ruang untuk mengenali kemampuan diri.

Kesempatan itulah yang ingin dimanfaatkan Agisni Ramadani, murid Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ia berharap dapat menimba ilmu, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri untuk meraih cita-citanya menjadi dokter spesialis.

“Saya sangat senang setelah diterima di sini. Saya berharap bisa berkembang dan menjadi lebih baik lagi. Saya ingin menjadi dokter spesialis,” kata Agisni.

Jauh dari Bogor, Marisa, murid baru jenjang SMP di SNT Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur juga menyimpan harapan melalui bangku sekolah. Ia ingin mengembangkan kegemarannya menyanyi yang terus diasah melalui latihan setiap hari.

Bagi Marisa, pendidikan bukan hanya tentang memahami pelajaran, namun juga kesempatan mengenali kemampuan diri dan mengejar hal yang disukai. Melalui lingkungan belajar yang mendukung, ia berharap dapat terus mengasah suara dan mengembangkan bakatnya.

Lingkungan yang aman dan mendukung

Di SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo, Nurfadhilah Ramadhani Djamal menemukan sekolah yang menyenangkan bukan hanya tentang pelajaran dan prestasi, melainkan juga lingkungan pertemanan yang membuatnya merasa diterima.

Ads bp batam 2026 baru

Murid jenjang SMA yang berprestasi di bidang atletik itu bercita-cita menjadi Menteri Luar Negeri.

Baginya, lingkungan pertemanan yang nyaman menjadi bagian penting dalam perjalanan mengejar mimpi.

“Teman-teman di sini baik, tidak ada bully,” kata Nurfadhilah.

Rasa aman dan penerimaan dari teman sebaya memberinya ruang untuk tumbuh dan mengembangkan potensi.

Ia meyakini pengalaman sederhana seperti memiliki teman yang baik dapat membantu orang membangun keyakinan terhadap dirinya sendiri.

Suasana belajar yang mendukung perkembangan murid juga mempengaruhi para guru.

Firda Aulia Shalihah, guru Bahasa Indonesia di SNT 6 Bone Bolango mengaku semangat murid-muridnya mendorong dirinya untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan sebagai pendidik.

“Jadi, itu yang bikin saya, ‘Wah, saya ini harus juga sama seperti mereka’. Semangat untuk upgrade diri harus lebih dari mereka,” ujar Firda.

Menurut Firda, murid bukan sekadar penerima pengetahuan, melainkan individu yang memiliki gagasan dan pengalaman untuk dibagikan.

Pembelajaran, kata Firda, semestinya tidak berhenti pada guru yang menjelaskan dan murid yang mendengarkan.

Ketika anak diberi kesempatan bertanya, mengemukakan pendapat, dan berbagi pengetahuan, ruang kelas dapat menjadi tempat tumbuh bersama, guru dan murid sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.

Semangat memberi ruang bagi rasa ingin tahu murid tercermin dalam pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports (STEAMS) yang diterapkan di SNT.

Pendekatan tersebut memadukan sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan olahraga melalui pembelajaran kontekstual.

Murid tidak hanya menghafal teori, namun juga mengeksplorasi pengetahuan, bekerja sama, menguji gagasan, dan mencari solusi atas persoalan.

Di SNT 7 Bogor, pendekatan itu diwujudkan melalui proyek Smart Perimeter: Explore, Detect, Protect Perbatasan Laut Indonesia dan Singapura.

Dalam proyek tersebut, murid memadukan Pendidikan Pancasila, fisika, informatika, dan koding untuk merancang sistem yang dapat mendeteksi objek yang mendekat dan memberikan peringatan melalui lampu serta bunyi buzzer.

Proyek itu membawa konsep dalam buku ke pengalaman nyata. Murid dapat menerapkan pengetahuan, menyusun solusi, dan memahami bagaimana berbagai bidang ilmu saling melengkapi untuk menghasilkan karya.

Memperluas akses belajar berkualitas

Pemerataan pendidikan bukan sekadar memastikan setiap anak memiliki sekolah.

Yang tidak kalah penting ialah memberikan kesempatan mendapat pembelajaran bermutu dan mengembangkan potensi diri kepada setiap anak.

Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebelumnya dari 7.288 kecamatan di Indonesia, hanya 263 kecamatan atau empat persen yang memiliki SMP negeri dan SMA negeri dengan capaian mutu baik secara bersamaan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat baru kepada Kemendikdasmen untuk mengembangkan SNT yang memadukan pendidikan jenjang SMP hingga SMA dalam satu ekosistem pembelajaran berkesinambungan.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan SNT dirancang untuk memperkuat kemampuan akademik, membentuk karakter, serta memberi ruang bagi murid untuk mengenali minat dan mengembangkan bakat.

“Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan program pemerintah untuk menjawab tantangan pendidikan nasional dalam peningkatan mutu pembelajaran dan menuntaskan ketimpangan akses antarwilayah. SNT dirancang sebagai sekolah terpadu SMP hingga SMA yang dilengkapi infrastruktur modern berkelas dunia,” kata Gogot menjawab pertanyaan ANTARA.

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah STEAMS, yang menghubungkan berbagai bidang pengetahuan melalui kegiatan kontekstual dan proyek.

Melalui pendekatan itu, para murid diajak untuk berani bertanya, mencoba, bekerja sama, dan mencari solusi atas persoalan yang ditemui.

Sebanyak 17 SNT telah beroperasi di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur untuk tahun ajaran 2026/2027.

Persebaran tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintahan Prabowo-Gibran dalam menghadirkan pendidikan terpadu di berbagai wilayah agar kesempatan belajar berkualitas tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa.

“Pendampingan dan pengawasan terus kami lakukan secara berkala agar pengoperasian Sekolah Nasional Terintegrasi tetap konsisten dan berkelanjutan pada prinsip unggul, inklusif, dan berkarakter,” kata Gogot.

Ia menjelaskan penerimaan murid baru SNT tahun ajaran 2026/2027 dilaksanakan melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) secara daring.

Untuk angkatan pertama, Kemendikdasmen mencatat sebanyak 1.360 murid dinyatakan lolos seleksi dari total 2.068 pendaftar.

Adapun proses seleksinya meliputi pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen administrasi serta tes bakat skolastik untuk mengukur kemampuan verbal, numerik, penalaran pemecahan masalah, dan penalaran logis.

Proses penerimaan tersebut memprioritaskan calon murid yang berdomisili di wilayah yang sama dengan lokasi SNT.

Namun begitu, calon murid berprestasi dari wilayah sekitar juga dapat dipertimbangkan sesuai ketentuan dan daya tampung.

Pada akhirnya, keberhasilan SNT tidak hanya ditentukan oleh jumlah sekolah yang berdiri atau murid yang diterima, namun juga sejauh mana setiap anak memperoleh kesempatan untuk tumbuh dan menemukan potensinya.

Di ruang kelas SNT yang tampak modern, ada mimpi-mimpi usang yang sedang dirawat, keberanian yang perlahan dibangun, dan guru yang terus belajar untuk mendampingi perjalanan tiap murid agar mimpi itu bukan sekadar menjadi bunga tidur mereka. ANTARA

Baca Juga: Kualitas Udara Batam Membaik, Siswa Kembali Belajar di Sekolah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

 

Pos terkait