Pertumbuhan Harga Rumah di Batam Diprediksi Melambat

Penjualan properti 2021
Ilustrasi properti.

Batam (gokepri.com) – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial di Kota Batam mengalami perlambatan pada triwulan kedua 2022.

Batam menjadi satu-satunya kota besar yang pertumbuhan harga properti residensialnya tumbuh negatif secara tahunan.

Kota ini berdasarkan SHPR Bank Indonesia Triwulan I/2022, pertumbuhan harga propertinya -2,26 persen secara tahunan atau Year on Year (YOY). Perlambatan harga terendah selain Batam adalah Manado dengan 2,96 persen.

HBRL

Harga properti Batam
Grafis: Bank Indonesia

Dari pertumbuhan negatif itu, perlambatan harga rumah tipe kecil dan besar di Batam tumbuh negatif yakni -1,88 persen dan -5,92 persen. Namun rumah menengah tumbuh 1,06 persen. Pada kuartal pertama 2022, pertumbuhan harga di Batam sebesar 0,97 persen.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan harga tahunan di Batam pada kuartal pertama, kedua, ketiga dan keempat 2021 untuk semua tipe rumah yakni 0,18 persen, 2,42 persen, 1,96 persen dan 1,18 persen.

Harga properti Batam
Survei Pertumbuhan Harga Properti Residensial. Grafis: Bank Indonesia

Sedangkan pertumbuhan harga secara triwulanan di Batam juga diperkirakan tumbuh negatif -1,32 persen pada triwulan II dan tumbuh -0,34 persen pada triwulan pertama 2022.

Berdasarkan survei BI, prakiraan perlambatan harga rumah residensial primer ditengarai oleh penyesuaian harga yang sudah dilakukan oleh developer semenjak awal tahun 2022.

Pertumbuhan Nasional

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer tumbuh meningkat pada triwulan I-2022. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I-2022 yang tercatat 1,87% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,47% (yoy).

Sementara itu, harga properti residensial di pasar primer diprakirakan akan tumbuh terbatas pada triwulan II-2022 sebesar 1,16% (yoy).

Dari sisi penjualan, hasil survei triwulan I-2022 mengindikasikan adanya perbaikan penjualan properti residensial di pasar primer meskipun masih terkontraksi. Perbaikan tersebut tercermin dari penjualan properti residensial yang terkontraksi sebesar 10,11% (yoy) pada triwulan I-2022, lebih baik dari kontraksi triwulan sebelumnya sebesar 11,60% (yoy).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa pembiayaan nonperbankan masih menjadi sumber pembiayaan utama untuk pembangunan properti residensial. Pada triwulan I-2022, sebesar 65,50% dari total kebutuhan modal pembangunan proyek perumahan berasal dari dana internal. Sementara itu, dari sisi konsumen, pembiayaan perbankan dengan fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama dalam pembelian properti residensial dengan pangsa sebesar 69,54% dari total pembiayaan.

Penulis: Candra Gunawan

Pos terkait