Batam (gokepri) – Pembebasan lahan di Tanjung Banon untuk pembangunan hunian masyarakat Rempang hampir sepenuhnya selesai. Dari total 93,87 hektare lahan, hanya tersisa 1,05 hektare atau 1,12 persen yang belum bebas.
Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam Ariastuty Sirait mengatakan sebagian warga yang dengan sukarela menyerahkan lahannya, telah mendapatkan sagu hati dengan nominal yang berbeda-beda. Penggarap lahan saat ini juga sudah terbuka untuk berdialog setelah terjalin komunikasi yang baik.
Sesuai arahan Kepala BP Batam Muhammad Rudi, tindakan yang humanis dan komunikasi persuasif merupakan kunci penting dari keberhasilan pembangunan. Untuk itu, dalam pembebasan lahan ini pihaknya mengedepankan dialog bersama dengan penggarap lahan di kawasan Tanjung Banon.
Baca Juga: Rempang Eco-City, Pembebasan Lahan di Tanjung Banon Sudah 90 Persen
“Dengan pendekatan secara humanis dan komunikasi persuasif, warga pun akhirnya membuka diri untuk menerimanya,” ujar Ariastuty, Sabtu (9/3/2024).
Hingga 8 Maret 2024, sudah 43 persil lahan seluas 92,82 hektare yang diserahkan kepada pemerintah. Di lagan tersebut terdapat 46 persil lahan seluas 93,87 hektare yang digarap oleh warga.
Tim Terpadu Kota Batam yang terdiri dari unsur Pemko Batam, BP Batam, TNI, Polri dan Kejaksaan terus membuka dialog dengan warga yang belum menyetujui pelepasan lahan. “Dialog penting agar masyarakat memahami dampak positif investasi ini terhadap ekonomi daerah dan warga,” kata Ariastuty.
BP Batam akan membangun 961 hunian baru bagi masyarakat terdampak Pengembangan Rempang Eco-City. Pembangunan ditargetkan dimulai awal April 2024.
Kementerian PUPR juga akan melakukan pematangan lahan dan pembangunan fasilitas sosial dan umum di lokasi hunian baru pada pertengahan Maret ini.
Pembangunan hunian baru dan pengembangan Rempang Eco-City diharapkan dapat meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Rempang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









