Pasar Hati-Hati Jelang Pemilu, Rupiah Bisa Tertekan Awal 2024

pelemahan rupiah
Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Jumat (6/11/2020). (foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Batam (gokepri) – Menjelang akhir tahun 2023, rupiah menghadapi potensi pelemahan dengan semakin dekatnya jadwal Pemilu dan Pilpres 2024.

Berkaca pada kinerja historis pada gelar pemilu pada tahun-tahun sebelumnya, rupiah cenderung tertekan menyusul gerak investor yang cenderung lebih waspada di tengah ketidakpastian yang meningkat. Kinerja rupiah juga lebih buruk dibanding mata uang lain jelang penyelenggaraan pemilu.

Menurut perkiraan beberapa lembaga keuangan global, HSBC dan BNY Mellon, nilai rupiah menghadapi dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah ke kisaran Rp15.800-an pada kuartal I-2024. Jauh lebih lemah dibanding kisaran pergerakan sebulan terakhir di Rp15.600-an/USD.

HBRL

Baca Juga: BI Kepri Berharap Materi Cinta Rupiah Masuk Kurikulum Sekolah

“Selama tiga pemilu terakhir, rupiah secara konsisten berkinerja lebih buruk ketimbang mata uang negara berkembang lain dalam empat hingga enam pekan sebelumnya,” kata Joe Kunyah, Head of Research FX Asia di HSBC, seperti dilansir dari Bloomberg News, Senin (18/12/2023).

Rupiah berpeluang menguat setelah pemilu dilangsungkan akan tetapi pemulihan kekuatannya tahun depan mungkin akan tertahan apabila Pilpres ternyata harus digelar dua putaran yang akan dijadwalkan pada akhir Juni. Hal itu, menurut analis, akan menahan arus modal masuk ke Indonesia.

Sejauh ini, rupiah sudah terperosok menjadi mata uang Asia dengan kinerja paling lemah selama kuartal akhir 2023. Berkebalikan dengan situasi di awal-awal tahun ini, ketika rupiah sempat keluar sebagai mata uang Asia dengan kinerja paling baik.

Sepanjang tahun ini, bila diukur dari level penutupan akhir 2022, rupiah hanya mencatat return 0,26 persen ketika dolar AS tercatat melemah 1,62 persen. Bahkan bila menghitung level terlemah tahun ini pada akhir Oktober lalu, rupiah kehilangan 2,4 persen nilai.

Sementara mata uang emerging market lain justru menguat lebih meyakinkan terindikasi dengan Indeks MSCI Currency Index yang mencetak kenaikan 3,8 peren year-to-date.

Sejak Oktober lalu, para pemodal asing sudah menarik sedikitnya USD600 juta dari pasar saham tahun ini. Tekanan jual asing di pasar saham itu masih diimbangi oleh aksi beli bersih asing di pasar obligasi dengan nilai USD900 juta.

Sementara bila dihitung sejak awal tahun hingga data setelmen 14 Desember, pemodal asing mencetak posisi jual bersih Rp17,56 triliun, sedang di pasar Surat Berharga Negara asing masih mencetak posisi beli neto Rp76,66 triliun dan beli neto Rp45,35 triliun di instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia.

Melihat Kebijakan Pemerintahan Baru

Pemilu dan Pilpres 2024 akan cukup menentukan prospek rupiah sepanjang tahun mengingat para pelaku pasar akan melihat apakah pemerintahan baru yang terpilih nanti akan melanjutkan beberapa kebijakan penting di era Presiden Joko Widodo atau tidak.

Kebijakan yang dimaksud di antaranya seperti hilirisasi komoditas yang dinilai telah membantu penerimaan ekspor dan menurunkan defisit transaksi berjalan sehingga bisa memberi sokongan pada rupiah.

Sejauh ini, dua calon presiden yang memimpin hasil survei yaitu Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo terlihat memposisikan diri sebagai penerus kebijakan Jokowi. Sebaliknya, calon presiden Anies Baswedan telah menyatakan ketegasan akan mundur dari beberapa kebijakan Jokowi seperti pembangunan Ibukota Negara (IKN).

Bila dalam gelar Pilpres di Februari 2024 tidak ada kandidat yang menang lebih dari 50 persen, maka pilpres akan hadapi putaran kedua pada Juni 2024.

“Risiko utama ada pada jeda yang lebih panjang antara pemilu dengan pembentukan pemerintahan baru di mana itu akan mengekspos rupiah dalam ketidakpastian arah kebijakan,” kata Aninda Mitra, Head of Asia Macro and Investment Strategy di BNY Mellon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: Bloomberg News

Pos terkait