Musim Hujan tapi Suplai Air Bersih di Batam Masih Terganggu

moya indonesia batam
Kantor pelayanan SPAM Batam di Batam Center. (foto: BP Batam)

Batam (gokepri.com) – Suplai air bersih di sejumlah wilayah Kota Batam terganggu dari Selasa (5/1/2021) pagi. Hal itu menyulitkan warga untuk mandi sampai masak.

Satu wilayah yang suplai air bersih terganggu adalah kawasan Perumahan Taman Sari, Tiban, Kecamatan Sekupang.

“Sudah berganti perusahaan tapi masih saja air suka mati. Ini mau ketemu klien masa belum mandi,” ujar Eka Gisel, warga Taman Sari, Selasa (5/1/2021).

HBRL

Gangguan suplai air bersih ini bukan yang pertama. Menurut warga, suplai air bersih juga sempat berhenti pekan lalu di jam yang sama. “Minggu lalu juga mati,” ujar Supriandi, warga setempat.

Selain di Taman Sari, suplai air bersih juga sempat berhenti di kawasan Patam, Sekupang. Tidak ada pemberitahuan soal terganggunya suplai air bersih ini dari Moya. “Harusnya ganti perusahaan, pelayanannya makin baik,” tutur Rahma, warga Patam.

Warga mengeluhkan layanan air bersih yang kini dikelola sementara oleh PT Moya Indonesia. Pelayanan air bersih ternyata masih terganggu meski Moya sudah diusung ke sini.

Sedangkan Corporate Communication Manager Moya Indonesia Astriena Veracia yang dihubungi lewat Whatsapp dan panggilan telepon, tidak memberikan jawaban. Pesan singkat yang dikirim tidak dibalas.

Call Center dengan nomor 150155 yang dihubungi juga hanya dijawab mesin.

Moya menggantikan PT Adhya Tirta Batam pasca konsesi 25 tahun berakhir pada 14 November 2020.

Moya sudah mengelola air bersih Kota Batam selama hampir dua bulan terakhir. Masa pengelolaan di bawah Moya hanya sampai pemenang konsesi 25 tahun didapatkan atau selama enam bulan.

Selain masalah suplai air terganggu, pelayanan air bersih di bawah Moya juga mengalami masalah tagihan denda yang muncul mendadak. Warga banyak yang menumpahkan keluhannya di media sosial soal munculnya denda padahal tagihan air sudah di bayar sebelum tanggal 20 setiap bulan.

Corporate Communication Manager PT Moya Indonesia,
Astriena Veracia, menjelaskan, pada tanggal 20 Desember 2020 mengakui telah terjadi pendendaan terhadap sejumlah pelanggan.

“Kami telah menginvestigasi hal ini dan ini terjadi karena alasan human error,” katanya dalam rilis tertulis, Senin 21 Desember 2020.

(Can)

|Baca Juga: 

 

 

 

 

 

 

 

Pos terkait