Monyet Masuk Permukiman di Batam, BBKSDA Sebut Akibat Perubahan Fungsi Lahan

Monyet di batam
Seekor kera ekor panjang (Macaca fascicularis) tengah menikmati makanan yang didapat di Kompleks Rumah Dinas Mapolda Kepri, Kota Batam, Jumat (12/9/2025). ANTARA/Laily Rahmawaty

BATAM (gokepri) – Gerombolan monyet ekor panjang kembali terlihat di kawasan perumahan dinas Polda Kepri, Nongsa, Batam. Satwa liar itu mendatangi pekarangan, tempat sampah, hingga bergelantungan di kabel listrik untuk mencari makan.

“Masuknya monyet ke permukiman pasti karena perubahan fungsi lahan,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Batam BBKSDA Riau, Tommy Steven Sinambela, Jumat, 12 September 2025.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Sejak 2024, BBKSDA sudah berkoordinasi dengan Polda Kepri. Dua kali evakuasi pernah dilakukan, terakhir empat ekor monyet dipindahkan ke Kawasan Konservasi Muka Kuning.

Tommy menyebut, persoalan monyet masuk permukiman juga kerap muncul di Batam Center, Batu Aji, dan Nongsa. Sejak 2022, lembaganya mencatat 15 kasus interaksi negatif manusia dan monyet ekor panjang, terutama di permukiman yang dulunya kawasan hutan.

“Pertanyaan yang perlu ditujukan ke BP Batam, saat pembangunan ada tidak kajian satwa liar yang melibatkan BBKSDA?” ujar Tommy.

Menurut dia, sesuai aturan, setiap alih fungsi kawasan hutan wajib disertai kajian keanekaragaman hayati. Batam sendiri merupakan habitat alami kera ekor panjang dan elang. Perluasan pembangunan di Nongsa membuat hutan tergerus, satwa pun keluar mencari makan.

Untuk saat ini, Tommy menilai pilihan terbaik adalah hidup berdampingan. Caranya dengan tidak memberi makan monyet, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari tumpukan sampah atau pohon buah di sekitar rumah.

“Tumpukan sampah memancing monyet datang. Intinya, bagaimana kita bisa hidup berdampingan,” katanya. ANTARA

Baca Juga: Bali Banjir, Ini Penyebabnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait